Lee Jae Myung ke Beijing, Minta Dukungan China Hadapi Korea Utara
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung akan berkunjung ke China awal Januari untuk meminta dukungan Beijing terkait Korea Utara dan memperkuat kerja sama ekonomi di tengah ketegangan kawasan.

HALLONEWS.COM — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Beijing pada awal Januari 2026. Lawatan ini akan menjadi kunjungan pertama seorang presiden Korea Selatan ke China sejak 2019, menandai babak baru hubungan kedua negara setelah beberapa tahun penuh ketegangan diplomatik.
Menurut pengamat, Lee akan berusaha mendapatkan dukungan Beijing dalam menghidupkan kembali dialog dengan Pyongyang dan memperkuat stabilitas regional. Ia juga diharapkan menyoroti kerja sama ekonomi di tengah perlambatan global yang memukul industri semikonduktor Korea Selatan.
“Seoul ingin menyamakan pandangan dengan Beijing mengenai isu nuklir Korea Utara dan sanksi internasional, sekaligus memperkuat kemitraan ekonomi,” ujar Niu Xiaoping, analis dari Institut Studi Internasional Shanghai seperti dilansir The Korea Times, Sabtu (27/12/2025).
Diplomasi dan Isu Keamanan
Kunjungan Lee akan mengikuti dialog tingkat wakil menteri antara Korea Selatan dan China yang digelar di Beijing pekan lalu, membahas isu Laut Barat, Semenanjung Korea, dan stabilitas kawasan.
Pertemuan ini juga menyusul kunjungan Presiden Xi Jinping ke Seoul untuk KTT APEC Oktober lalu, kunjungan pertama Xi dalam satu dekade.
Para ahli menilai pertemuan dua pemimpin dalam rentang tiga bulan menunjukkan upaya memperbaiki komunikasi strategis yang sempat membeku selama beberapa tahun terakhir.
Lee juga diperkirakan membawa delegasi bisnis sekitar 200 eksekutif, menjadikan kunjungan ini sebagai misi ekonomi terbesar Korea Selatan ke China sejak 2019.
Kunjungan Lee ke Beijing dilakukan menjelang lawatan Presiden AS Donald Trump ke China pada April mendatang. Trump kemungkinan akan membahas kembali isu Korea Utara dengan Presiden Xi, memunculkan peluang diplomasi baru di Semenanjung Korea.
Profesor Kang Jun-young dari Universitas Studi Asing Hankuk menilai Lee akan mendorong China berperan lebih aktif menekan Pyongyang agar menghentikan program nuklirnya.
“Namun pengaruh Beijing kini terbatas karena Korea Utara sudah menyatakan diri sebagai negara nuklir,” ujarnya.
Di dalam negeri, kabinet Lee masih terbelah antara pendekatan bilateral antar-Korea dan koordinasi internasional yang dipimpin AS. Perbedaan ini memengaruhi strategi Seoul menghadapi isu sensitif seperti kapal selam bertenaga nuklir dan sengketa Laut Barat.
Fokus pada Ekonomi dan Teknologi Tinggi
Selain isu keamanan, Lee diperkirakan akan membahas kerja sama di sektor teknologi tinggi, termasuk kecerdasan buatan, biofarmasi, dan industri hijau.
Menurut Liu Ziyang, profesor di Universitas Kyonggi, Seoul dan Beijing memiliki “kompetisi sekaligus ketergantungan” di rantai pasok global.
“Pemisahan total antara ekonomi Korea dan China tidak realistis,” kata Liu. “Lee ingin menciptakan stabilitas jangka panjang bagi bisnis dan investasi.”
Kunjungan ini juga akan diikuti perjalanan Lee ke Tokyo pertengahan Januari, yang menegaskan pendekatan diplomatik seimbang antara dua kekuatan besar Asia Timur. (ren)
