Langit Terbelah di Malam Selasa Kliwon, Misa Sakral Gunung Padang Penuh Tanda Alam
Misa Selasa Kliwon di Situs Gunung Padang berlangsung penuh tanda alam. Hujan berhenti, aroma bunga tercium, hingga langit terbuka saat konsekrasi Ekaristi berlangsung.

HALLONEWS.COM – Misa Ekaristi Awal Tahun yang digelar di Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, pada Malam Selasa Kliwon, 12 Januari 2026, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.
Di tengah cuaca ekstrem yang sejak pagi diguyur hujan tanpa henti, perayaan suci tersebut justru berlangsung dalam suasana tenang, sakral, dan penuh pengalaman batin yang sulit dilupakan.
Menjelang pukul 19.40 WIB, tepat saat rombongan tiba di area parkir, hujan yang sejak pagi mengguyur kawasan Gunung Padang tiba-tiba berhenti.
Misa pun dapat dilaksanakan di Teras 5, titik tertinggi situs megalitikum yang dipercaya memiliki nilai spiritual dan peradaban kuno Nusantara.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Yos Bintoro, Wakil Uskup untuk umat Katolik di lingkungan TNI-Polri. Dalam khotbahnya, misa dimaknai sebagai doa awal tahun sekaligus pertobatan ekologis, memohon pengampunan atas kerusakan alam akibat keserakahan dan kelalaian manusia.
Sebelum mendaki 378 anak tangga utama, rombongan mengikuti ritual budaya penyucian diri dengan membasuh tangan, wajah, dan kepala serta meminum air di mata air Gunung Padang. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan leluhur penjaga peradaban.
Sejak pendakian dimulai, sejumlah peserta mengaku mencium aroma bunga yang harum dan tidak dikenal, muncul tanpa sumber jelas dan berulang kali tercium hingga misa berlangsung. Fenomena ini menambah nuansa mistis dan kekhusyukan perjalanan spiritual tersebut.
Peristiwa tak biasa juga terjadi di teras awal situs. Saat doa pembuka dipanjatkan, beberapa peserta merasakan percikan air yang jatuh tiba-tiba, bukan berasal dari hujan maupun dedaunan. Kejadian itu diterima dalam keheningan, dimaknai sebagai pengalaman iman yang personal.
Puncak peristiwa terjadi saat konsekrasi Ekaristi di Teras 5. Awan tebal yang sejak sore menutup langit mendadak terbelah, menampakkan langit biru gelap bertabur bintang, dengan planet Venus tampak besar dan terang. Fenomena alam tersebut hanya berlangsung selama misa, lalu perlahan menghilang.
“Ini bukan sekadar misa, tetapi doa Nusantara. Doa bagi Indonesia dan pengakuan dosa ekologis manusia,” ujar Romo Yos usai perayaan.
Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana, menyebut malam Selasa Kliwon dikenal sebagai malam cahaya.
“Padang berarti terang. Malam ini Gunung Padang benar-benar menunjukkan maknanya,” katanya.
Usai misa selesai, awan kembali menutup langit dan hujan turun deras sesaat, seolah menandai berakhirnya peristiwa sakral tersebut. Gunung Padang kembali hening, menyimpan doa dan cahaya dalam keabadian batu-batu purbanya.(gin)
