Home - Ekonomi & Bisnis - Krisis Mata Uang Iran: Rial Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

Krisis Mata Uang Iran: Rial Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

Rial Iran anjlok ke level terendah sepanjang sejarah akibat sanksi, inflasi tinggi, dan krisis ekonomi berkepanjangan yang menekan daya beli rakyat.

Kamis, 15 Januari 2026 - 15:30 WIB
Krisis Mata Uang Iran: Rial Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah
Mata uang Rial milik Iran (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Rial, mata uang Iran, telah mengalami penurunan drastis hingga mencapai titik terendahnya sejak awal Januari 2026.

Nilai rial terhadap dolar AS sangat melemah di pasar bebas, dengan satu dolar mencapai lebih dari satu juta rial.

Kondisi ini hanya memperburuk krisis ekonomi yang sudah lama berlangsung di Iran, di mana inflasi tinggi dan tekanan dari luar terus menghambat kemampuan rakyat untuk membeli barang.

Peningkatan ini berdampak pada nilai tukar rial Iran terhadap mata uang lain, seperti rupiah Indonesia; satu rial Iran sekarang sangat rendah dibandingkan sebelumnya.

Faktor internal dan eksternal adalah penyebab utama kejatuhan rial ini. Sanksi internasional yang berkepanjangan telah membatasi akses Iran ke pasar global, yang telah mengurangi pendapatan negara dari ekspor minyak, yang merupakan pilar ekonominya.

Selain itu, devaluasi telah dipercepat oleh peningkatan defisit anggaran, pelanggaran kebijakan moneter, dan korupsi sistemik. Masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka karena inflasi yang melonjak hingga ratusan persen dalam beberapa tahun terakhir. Krisis ini juga disebabkan oleh ketidakstabilan politik di wilayah ini, di mana Iran semakin terisolasi secara diplomatik.

Presiden Iran telah merespons situasi ini dengan turun langsung ke jalan untuk bertemu warga, menjanjikan langkah konkret dalam mengendalikan nilai mata uang dan menekan laju inflasi.

Dalam pertemuan tersebut, pemimpin negara menyatakan komitmen untuk menerapkan reformasi ekonomi yang lebih ketat, termasuk penguatan cadangan devisa dan pengawasan ketat terhadap pasar valuta asing.

Janji ini diharapkan dapat meredam kepanikan publik, meskipun skeptisisme tetap tinggi di kalangan masyarakat yang telah lama menghadapi janji serupa tanpa hasil nyata.

Kondisi ini telah menyebabkan antrian yang panjang di pasar gelap dan pertukaran uang, yang mengakibatkan transaksi rial yang semakin tidak stabil. Untuk melindungi nilai tabungan mereka, banyak warga Iran beralih ke aset alternatif seperti emas atau mata uang asing.

Untuk menstabilkan sistem keuangan, pemerintah juga telah mengambil tindakan darurat, seperti membatasi penarikan uang asing dan injeksi likuiditas ke bank-bank negara. Namun, analis ekonomi berpendapat bahwa pemulihan rial akan sulit dicapai dalam waktu dekat jika tidak ada resolusi sanksi internasional dan reformasi struktural mendalam.

Krisis mata uang saat ini menunjukkan bagaimana ekonomi Iran menghadapi banyak masalah, dengan kelemahan internal dan tekanan dari luar.

Di luar Iran, itu akan berdampak pada perdagangan regional dan harga komoditas global, terutama minyak. Secara keseluruhan, rial Iran jatuh ke titik terendah sejarahnya, dengan nilai tukar melemah drastis terhadap dolar AS dan rupiah.

Ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan yang disebabkan oleh sanksi dan inflasi tinggi. Presiden Iran telah menjanjikan untuk mengontrol nilai mata uang dan inflasi, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa laporan tentang situasi terbaru di Iran. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)