Korea Selatan dan AS Sepakati Langkah Bersama Kembangkan Kapal Selam Nuklir Mulai 2026
Korea Selatan dan Amerika Serikat akan memulai pembicaraan intensif tahun depan terkait rencana pengembangan kapal selam bertenaga nuklir pertama Seoul, termasuk negosiasi soal pengayaan uranium dan pengolahan bahan bakar nuklir bekas. Langkah ini menandai babak baru dalam aliansi strategis pertahanan kedua negara menghadapi ancaman nuklir Korea Utara.

HALLONEWS.COM-Korea Selatan akan melanjutkan diskusi multi-bidang dengan Amerika Serikat mulai awal tahun depan mengenai pembangunan kapal selam bertenaga nuklir, menurut pernyataan pejabat keamanan senior di Seoul, Minggu (21/12/2025).
Pembicaraan ini mencakup pengayaan uranium, pengolahan bahan bakar bekas, dan transfer teknologi strategis berdasarkan Pasal 91 Undang-Undang Energi Atom AS, yang memberi wewenang kepada presiden AS untuk menyetujui pemanfaatan material nuklir untuk kepentingan militer.
“Daripada memprioritaskan satu isu, kami akan meluncurkan semuanya sekaligus,” kata Penasihat Keamanan Nasional Wi Sung-lac, dikutip Kantor Berita Yonhap.
“Kedua negara akan memulai pembicaraan tentang pengayaan uranium, pengolahan bahan bakar bekas, dan kapal selam bertenaga nuklir secara bersamaan pada awal tahun depan.”
Kesepakatan Baru di Luar Pakta Energi Nuklir Lama
Diskusi mendatang tidak akan merevisi perjanjian energi nuklir sipil bilateral yang sudah berlaku, melainkan akan berfokus pada pengecualian khusus berdasarkan Pasal 91 Undang-Undang Energi Atom AS.
Pendekatan ini disebut meniru model AUKUS, di mana Australia diizinkan menerima kapal selam nuklir tanpa mengubah pakta nuklir sipilnya.
“Langkah ini memungkinkan fleksibilitas tanpa menimbulkan implikasi diplomatik baru,” ujar Wi.
Selama kunjungannya ke Washington, Wi menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat senior AS, termasuk Menteri Luar Negeri dan Penasihat Keamanan Nasional Marco Rubio serta Menteri Energi Chris Wright.
Para pejabat AS, menurut Wi, menggambarkan hubungan Seoul–Washington sebagai “aliansi teladan” dan mendukung percepatan proyek kerja sama strategis ini.
Dukungan AS dan Langkah Lanjutan Korea Selatan
Kunjungan Wi menyusul pertemuan puncak antara Presiden Lee Jae Myung dan Presiden AS Donald Trump pada Oktober lalu, di mana Trump menyetujui upaya Seoul membangun kapal selam nuklir sebagai langkah menghadapi ancaman nuklir Korea Utara yang meningkat.
Kesepakatan hasil KTT tersebut dituangkan dalam lembar fakta bersama (joint fact sheet) yang dirilis pada November, menegaskan dukungan AS terhadap pengayaan uranium sipil dan pengolahan bahan bakar bekas untuk penggunaan damai.
Pemerintah Korea Selatan kini membentuk gugus tugas lintas kementerian, melibatkan Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, militer, dan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA), untuk menyelaraskan agenda teknis dan diplomatik proyek kapal selam nuklir tersebut.
“Kami ingin mempercepat semua langkah tindak lanjut. Tahun depan akan menjadi tahap konkret dari kerja sama yang disepakati di tingkat KTT,” ujar Wi.
Keterbatasan dan Tantangan Teknologi
Sesuai perjanjian nuklir yang berlaku, Korea Selatan hanya dapat memperkaya uranium hingga 20 persen dan mengolah bahan bakar bekas untuk keperluan sipil dengan izin AS, pembatasan yang menghalangi pengembangan reaktor nuklir untuk kapal selam.
Pakar kebijakan nuklir Jun Bong-geun dari Korean Nuclear Policy Society menilai, pilihan paling realistis bagi Seoul adalah bergantung pada pasokan bahan bakar dari AS.
“Korea Selatan tidak memiliki fasilitas pengayaan sendiri. Jadi, opsi praktis adalah memanfaatkan pengaturan militer bilateral yang terpisah dari kerja sama nuklir sipil,” jelas Jun.
Target Dua Tahun untuk Negosiasi Bahan Bakar Nuklir
Dalam pengarahan kebijakan minggu lalu, Kementerian Pertahanan Nasional menyebutkan target untuk menyelesaikan negosiasi bahan bakar nuklir dengan Washington dalam dua tahun ke depan.
Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi memperkuat kemampuan maritim Seoul sekaligus memperluas deterrence strategis terhadap Korea Utara.
“Kapal selam bertenaga nuklir bukan hanya simbol teknologi, tetapi juga faktor penting dalam menjaga keseimbangan strategis di Semenanjung Korea,” ujar pejabat Kementerian Pertahanan.
Langkah Korea Selatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Asia Timur Laut, termasuk uji coba rudal Korea Utara, ekspansi militer China, dan perlombaan senjata bawah laut di Indo-Pasifik.
Washington memandang proyek kapal selam nuklir Seoul sebagai komponen pelengkap AUKUS, memperkuat kapabilitas pencegahan regional terhadap potensi ancaman nuklir.
Rencana pembangunan kapal selam nuklir Korea Selatan menjadi tonggak baru aliansi strategis Seoul–Washington, membuka jalan bagi kemandirian pertahanan sekaligus memperluas pengaruh maritim di kawasan.
Namun, tantangan hukum dan teknis, termasuk izin pengayaan uranium dan pengawasan internasional, tetap menjadi rintangan utama yang harus diselesaikan dalam dua tahun ke depan. (ren)
