Korban Tewas Protes Iran Melonjak Jadi 466 Orang, AS–Israel Bahas Opsi Intervensi Militer
Korban tewas protes Iran melonjak drastis menjadi 466 orang saat internet dipadamkan lebih 60 jam. Di tengah krisis, AS dan Israel dilaporkan membahas opsi intervensi militer.

HALLONEWS.COM-Krisis Iran kian memburuk dan memasuki fase paling mematikan. Jumlah korban tewas dalam gelombang protes nasional melonjak drastis menjadi 466 orang hanya dalam hitungan jam, di tengah pemadaman internet nasional yang telah melampaui 60 jam.
Pada saat bersamaan, laporan media internasional mengungkap pembahasan intensif antara Amerika Serikat dan Israel mengenai kemungkinan intervensi militer, memicu ancaman balasan terbuka dari Teheran.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, mencatat bahwa jumlah korban tewas kini mencapai 466 orang.
Angka ini melonjak tajam dari laporan sebelumnya yang mencatat 203 korban jiwa, menjadikannya eskalasi kekerasan paling mematikan sejak protes pecah di Republik Islam Iran.
HRANA menyatakan data tersebut dihimpun melalui jaringan aktivis di berbagai wilayah Iran dan diverifikasi silang. Dalam kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, organisasi ini dikenal luas sebagai sumber independen yang relatif akurat.
Lonjakan korban jiwa terjadi saat Iran memberlakukan pemadaman internet nasional. Lembaga pemantau jaringan NetBlocks menyebut pemutusan konektivitas itu telah melewati batas 60 jam, membatasi aliran informasi dari dalam negeri dan meningkatkan risiko pelanggaran HAM serius.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa pemadaman total internet kerap menjadi pendahuluan tindakan represif berskala besar, termasuk penembakan massal terhadap demonstran.
AS–Israel Bahas Intervensi
Di tengah eskalasi korban jiwa, majalah Jerman Der Spiegel melaporkan adanya pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait opsi intervensi Amerika Serikat di Iran.
Laporan media AS lainnya menyebut Presiden Donald Trump telah menerima sejumlah opsi militer untuk menyerang Iran, meski belum mengambil keputusan final.
Merespons sinyal intervensi tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyampaikan ancaman terbuka.
“Jika terjadi serangan militer oleh Amerika Serikat, wilayah pendudukan (Israel) serta pusat-pusat militer dan perkapalan AS akan menjadi target sah kami,” ujarnya di parlemen.
Iran tidak mengakui Israel dan menyebutnya sebagai wilayah Palestina yang diduduki.
Trump Dukung Demonstran
Sementara itu, Trump menegaskan kembali dukungan AS kepada para demonstran Iran melalui Truth Social. “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!” tulis Trump.
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran Teheran bahwa dukungan politik Washington dapat berkembang menjadi langkah militer langsung.
Kelompok HAM internasional mengingatkan pola kelam masa lalu. Center for Human Rights in Iran menyoroti bahwa pada 2019, pemadaman internet nasional di Iran diikuti oleh tewasnya lebih dari 1.000 demonstran.
Hingga kini, setidaknya 2.600 orang dilaporkan ditahan. Kepala Kepolisian Nasional Iran Ahmad-Reza Radan mengonfirmasi penangkapan tokoh-tokoh kunci protes, tanpa merinci identitas maupun jumlah pastinya. (ren)
