Korban Protes Iran Tembus 65 Orang, Militer dan IRGC Nyatakan Keamanan Negara di “Garis Merah”
Korban tewas akibat protes di Iran meningkat menjadi 65 orang. Militer dan IRGC menyebut keamanan negara sebagai garis merah di tengah tekanan AS.

HALLONEWS.COM – Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus berlanjut dan menelan korban jiwa. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) melaporkan, jumlah korban tewas meningkat jadi 65 orang setelah demonstrasi berlangsung selama 13 hari berturut-turut di berbagai wilayah negara tersebut.
Dalam laporan yang dirilis Sabtu (10/1/2026), HRANA mencatat aksi protes terjadi di 512 lokasi pada 180 kota yang tersebar di 31 provinsi. Dari total korban meninggal, 50 orang merupakan demonstran, 14 aparat keamanan, serta satu warga sipil yang disebut berafiliasi dengan pemerintah.
Selain itu, sedikitnya 2.311 orang ditahan, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka, mayoritas akibat peluru karet dan peluru plastik.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi mengenai korban tewas maupun luka. Pemerintah setempat menyebut aksi unjuk rasa damai telah berubah menjadi kerusuhan yang disertai perusakan fasilitas publik dan properti negara.
Di tengah meningkatnya tekanan, militer Iran seperti dilaporkan Aljazera, Sabtu (10/1/2026) menegaskan komitmennya untuk menjaga kepentingan nasional dan infrastruktur strategis.
Dalam pernyataan resminya, militer menuding Israel serta “kelompok teroris bermusuhan” berupaya memicu instabilitas dan merusak keamanan publik.
Sikap tegas juga disampaikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pasukan elite tersebut menyebut keamanan nasional dan pencapaian Revolusi 1979 sebagai “garis merah” yang tidak bisa ditawar.
Teheran menolak tuduhan tersebut dan justru menyalahkan Washington serta Israel sebagai pihak yang menghasut kerusuhan. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, perwakilan tetap Iran menegaskan bahwa campur tangan asing telah mendorong ketidakstabilan dan kekerasan di dalam negeri.
Protes di Iran dipicu oleh merosotnya nilai rial dan memburuknya kondisi ekonomi yang berdampak langsung pada lonjakan harga kebutuhan pokok.
Meski aparat menyatakan situasi telah kembali kondusif, ketegangan politik dan sosial di Iran masih menjadi sorotan dunia internasional.
Ketegangan di Iran sendiri semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran.
Trump menyatakan AS memantau situasi dengan cermat dan memperingatkan agar aparat di Iran tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Dukungan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio di X pribadi miliknya, menyusul pemblokiran internet di Iran. (wib)
