Home - Internasional - Korban Protes Iran Tembus 572 Orang, Dunia Makin Menekan Teheran

Korban Protes Iran Tembus 572 Orang, Dunia Makin Menekan Teheran

Korban protes Iran meningkat menjadi 572 orang dengan lebih dari 10.600 ditahan. Dunia internasional kian menekan Teheran di tengah pemadaman internet.

Selasa, 13 Januari 2026 - 7:00 WIB
Korban Protes Iran Tembus 572 Orang, Dunia Makin Menekan Teheran
Kantong-kantong jenazah tergeletak di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak, Teheran, di tengah gelombang protes nasional di Iran. Otoritas tidak merinci apakah jenazah tersebut merupakan demonstran atau anggota pasukan keamanan. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Jumlah korban tewas akibat gelombang protes antipemerintah di Iran kembali meningkat tajam. Kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 572 orang meninggal dunia dan lebih dari 10.600 orang ditahan, di tengah pemadaman internet nasional, tekanan diplomatik internasional, serta eskalasi retorika perang antara Teheran dan Washington.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan telah mengonfirmasi 572 kematian sejauh ini. Dari jumlah tersebut, 503 orang merupakan demonstran, sementara 69 lainnya adalah anggota pasukan keamanan Iran.

HRANA menegaskan angka tersebut belum final. Organisasi itu juga menerima laporan tambahan yang mengindikasikan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, mengingat keterbatasan informasi akibat pemutusan komunikasi nasional.

Kelompok ini dikenal luas karena akurasi datanya dalam mendokumentasikan korban kerusuhan di Iran pada tahun-tahun sebelumnya, dengan mengandalkan jaringan aktivis lokal untuk memverifikasi informasi.

Selain korban jiwa, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditahan, seiring protes yang kini memasuki minggu ketiga dan meluas ke hampir seluruh wilayah Iran.

Protes Meluas ke 21 Provinsi

Media internasional melaporkan bahwa demonstrasi telah diverifikasi terjadi di 21 provinsi, dengan hampir 600 aksi protes tercatat di seluruh 31 provinsi Iran. Aksi-aksi tersebut mencerminkan skala nasional yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.

Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut pembunuhan dan penindasan terhadap demonstran damai di Iran sebagai tindakan yang “sangat mengerikan”.

Melalui unggahan di X, Cooper mengungkapkan telah berbicara langsung dengan Seyed Abbas Araghchi, mendesak pemerintah Iran untuk menghentikan kekerasan dan menjamin keselamatan warga sipil, termasuk warga negara Inggris.

Rusia–Iran Koordinasi Keamanan

Di tengah tekanan Barat, Sergei Shoigu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, dilaporkan melakukan pembicaraan telepon dengan pejabat keamanan Iran. Rusia mengecam apa yang disebutnya sebagai campur tangan asing dan menyatakan komitmen untuk menjaga koordinasi keamanan dengan Teheran.

Di dalam negeri, polisi Iran dilaporkan mengirim pesan singkat massal kepada warga Teheran, memperingatkan keluarga agar “menjaga anak muda dan remaja mereka” agar tidak ikut demonstrasi.

Pesan tersebut menyebut adanya “kelompok teroris dan individu bersenjata” serta menegaskan aparat akan bertindak keras terhadap para “perusuh”. Pengamat menilai langkah ini sebagai upaya menekan keterlibatan generasi muda, yang kini menjadi tulang punggung gerakan protes.

AS: Tidak Ada Rencana Gulingkan Rezim

Sementara itu, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menegaskan Washington tidak memiliki rencana aktif untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Namun ia menekankan bahwa AS menuntut Iran tidak membunuh rakyatnya sendiri dan menghormati hak warga untuk berdemonstrasi, terutama di tengah krisis ekonomi yang membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Tekanan internasional meningkat setelah Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola melarang seluruh diplomat Iran memasuki kompleks parlemen.

“Ini tidak bisa berjalan seperti biasa,” kata Metsola, seraya menegaskan lembaganya tidak akan melegitimasi rezim yang bertahan melalui penindasan dan pembunuhan.

Demonstrasi Pro-Rezim dan Internet Nasional

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan puluhan ribu pendukung rezim turun ke jalan dalam aksi pro-pemerintah, dengan slogan anti-AS dan anti-Israel.

Pemerintah juga merilis daftar situs yang tetap bisa diakses melalui “internet nasional”, memicu kekhawatiran bahwa pembatasan akses informasi ini akan bersifat permanen, bahkan setelah protes mereda.

Siap Dialog, Siap Perang

Di tengah situasi yang semakin genting, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan saluran komunikasi dengan Amerika Serikat tetap terbuka, baik secara langsung maupun melalui perantara Swiss.

Pernyataan ini menyusul sikap Menteri Luar Negeri Iran yang menegaskan bahwa Teheran “siap untuk dialog, tetapi juga siap untuk perang”, memperlihatkan betapa rapuh dan berbahayanya fase krisis yang sedang dihadapi Iran saat ini. (ren)