Kondisi Chelsea Kian Terpuruk, Januari Bisa Jadi Akhir Cerita Maresca Sebagai Juru Taktik
Tekanan kian menumpuk di Chelsea setelah performa jeblok. Enzo Maresca terancam kehilangan kursi pelatih, dengan Januari menjadi bulan penentu nasibnya di Stamford Bridge.

HALLONEWS.COM – Raksasa Liga Inggris, Chelsea kembali terjebak dalam pusaran krisis musim dingin.
Satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di Liga Premier bukan hanya memperlebar jarak menjadi 15 poin dari rival sekota Arsenal di puncak klasemen, tapi juga menyeret Enzo Maresca ke pusaran spekulasi pemecatan yang semakin sulit dibendung.
Ironisnya, hanya beberapa pekan sebelumnya, The Blues masih bisa bermimpi besar. Pada 22 November, Chelsea hanya terpaut tiga poin dari tangan Arsenal sebagai pemuncak klasemen.
Apalagi klub London Biru ini meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas Barcelona di Liga Champions.
Kemenangan itu sempat mengangkat Maresca sebagai “arsitek kebangkitan” the Blues. Namun euforia itu memudar cepat setelah tergerus hasil buruk, keputusan kontroversial, dan atmosfer Stamford Bridge yang berubah dingin.
Sorotan tajam datang saat Maresca menarik keluar Cole Palmer dalam laga kontra Bournemouth. Siulan menggema, bukan hanya saat pergantian pemain, tetapi juga ketika laga berakhir imbang 2-2. Bagi publik Stamford Bridge, itu bukan sekadar kekecewaan sesaat, melainkan sinyal retaknya hubungan antara pelatih dan penggemar.
Krisis ini terasa déjà vu. Musim lalu, Chelsea juga kehilangan arah di periode yang sama. Antara pertengahan Desember hingga akhir Februari, mereka hanya mencatat dua kemenangan liga. Kini, skenario serupa terulang, dengan Maresca kembali kesulitan menjaga konsistensi timnya saat jadwal semakin padat dan tekanan meningkat.
Kekalahan dari Leeds, Atalanta, dan Aston Villa memperbesar tanda tanya soal fleksibilitas taktik sang pelatih Italia. Chelsea terlihat punya kualitas, tetapi gagal tampil solid dari pekan ke pekan.
Tekanan terhadap Maresca semakin berat setelah komentarnya membuka tabir ketegangan internal. Usai menang atas Everton, ia menyebut 48 jam jelang laga sebagai periode terburuk selama masa baktinya di klub, sambil menyinggung adanya pihak-pihak yang tak mendukungnya.
Dalam struktur Chelsea modern—di mana pelatih berperan sebagai head coach dan harus selaras dengan direktur olahraga—komentar itu dianggap tak perlu. Alih-alih meredam isu, pernyataan tersebut justru menambah panas situasi di balik layar.
Bulan Penentuan
Sepak bola elite tak mengenal romantisme. Hasil adalah segalanya. Maresca memang menutup tahun 2025 masih sebagai pelatih Chelsea, tetapi masa depannya tampak rapuh. Januari akan menjadi ujian sesungguhnya, dengan sembilan pertandingan di empat kompetisi menanti.
Ujian terdekat datang dari Manchester City. Chelsea akan bertandang ke markas The Citizen dengan kondisi tertinggal 10 poin dari tim asuhan Pep Guardiola. Padahal lima minggu lalu mereka sempat berada satu poin di atas City.
Kalau dilihat dari Skuad bertabur bintang yang dimiliki Chelsea, sejatinya klub asal London ini mampu bersaing, seperti yang terlihat saat melawan Barcelona dan Arsenal. Namun kini, potensi tersebut tak terkonversi jadi performa konsisten.
Yang paling terasa adalah Stamford Bridge tak lagi bersuara penuh keyakinan. Ada ketidakselarasan antara tim, pelatih, dan tribun penonton—dan itu harus diperbaiki dengan cepat.
Jika tidak, nasib Maresca sebagai juru taktik Chelsea akan terus menipis. Januari bisa jadi adalah bulan terakhir perjalanan karir Enzo Maresca di Stamford Bridge.(wib)
