Kisah Inspiratif: Dari Doa Umat Kecil di Lurasik, Berdirilah Gereja St. Maria Goreti Hanya dalam Empat Bulan
Di atas bukit sunyi Lurasik, Nusa Tenggara Timur, doa umat sederhana terjawab menjadi sebuah keajaiban, dalam waktu hanya empat bulan, berdirilah Gereja St. Maria Goreti, simbol iman, kasih, dan gotong royong yang menembus batas manusia.

HALLONEWS.COM-Pagi itu, embun masih menempel di rerumputan ketika lonceng tua Gereja Lurasik berdentang pelan. Dindingnya retak, atapnya bocor, dan bangkunya telah renta. Namun dari sanalah, doa-doa kecil umat sederhana di pedalaman Nusa Tenggara Timur naik ke langit: “Tuhan, kirimlah tangan-tangan kasih-Mu untuk membangun rumah-Mu kembali.” Tak seorang pun menduga bahwa doa itu akan dijawab dengan cara yang begitu ajaib.
Iman yang Menjadi Tindakan
Pada 19 Juli 2025, sekelompok relawan dari Himpunan Bersatu Teguh (HBT) bersama para imam datang meninjau lokasi gereja lama. Mereka melihat bukan reruntuhan, melainkan potensi. “Kami melihat harapan dalam mata umat,” kenang Andreas Sofiandi, Ketua Umum HBT, ketika ditemui di sela peresmian.
Dari situlah segalanya bermula. Peletakan batu pertama dilakukan pada 15 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Sebuah tanggal yang terasa simbolis, seolah Bunda Maria sendiri menundukkan kepala dan berkata: “Mulailah, Aku menyertai.”
Empat Bulan yang Mengubah Segalanya
Pembangunan dimulai dengan semangat gotong royong yang luar biasa. Setiap pagi, warga desa datang membawa peralatan seadanya—ada yang memikul batu, mengaduk semen, atau sekadar menyediakan makanan untuk para tukang. Anak-anak berlari-lari di sekitar fondasi, sambil bersenandung lagu rohani dari pengeras suara tua.
Material bangunan sebagian besar diambil dari tanah Lurasik sendiri: batu, pasir, kayu, dan tenaga. Hanya beberapa kebutuhan teknis yang dikirim dari Jakarta lewat bantuan PT TEMAS Tbk.
“Yang membuat kami kuat bukan tenaga, tapi semangat pelayanan,” ujar Andreas.
Dalam waktu empat bulan, tepat pada 15 Desember 2025, bangunan itu berdiri megah. Sebuah gereja baru di tengah desa kecil, berdiri di atas fondasi iman yang tak tergoyahkan. Capaian ini membuat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan: Gereja permanen yang dibangun tercepat di Indonesia.
Saat Langit Turut Bersyukur
Hari itu, ribuan umat memadati halaman Gereja St. Maria Goreti. Langit mendung, lalu gerimis turun pelan, seperti air berkat dari surga. Di hadapan altar, Kardinal Mgr. Dr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, PR, berdiri bersama Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, PR. Mereka memimpin misa penahbisan yang penuh haru dan syukur.
Kardinal Suharyo dalam khotbahnya berkata,“Gereja ini bukan hanya bangunan. Ia adalah saksi bahwa kasih Tuhan hidup dalam persaudaraan manusia.”
Peresmian juga dihadiri Gubernur NTT Melki Laka Lena, Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, serta para kepala daerah dari TTU, Belu, dan Malaka. Prosesi penyerahan kunci, pengguntingan pita, dan penandatanganan prasasti menjadi simbol selesainya perjalanan panjang sebuah mimpi iman.
Di hari yang sama, HBT bersama Klinik Kecantikan Erha juga meresmikan Taman Doa Santo Lambertus, Bukit Andreas, dan Lopo, yang memperindah kompleks gereja. Tak berhenti di situ, mereka menyelenggarakan operasi katarak gratis bagi ratusan warga—sebuah tanda bahwa kasih sejati tak berhenti di dinding gereja.
Lebih dari Sebuah Bangunan
Kini, Gereja St. Maria Goreti Lurasik berdiri megah di antara perbukitan hijau. Dinding batu alamnya memantulkan cahaya sore, salib kayunya menjulang menatap langit biru. Namun yang paling indah bukanlah arsitekturnya, melainkan cerita di balik setiap batanya, tentang pengorbanan, kebersamaan, dan iman yang bekerja melalui kasih.
Bagi umat Lurasik, gereja ini adalah bukti bahwa mukjizat masih nyata. Bahwa dari desa terpencil pun, Tuhan bisa menunjukkan karya besar-Nya melalui hati-hati yang bersatu.
“Kami tidak membangun gereja dengan uang, tetapi dengan doa dan cinta,” ucap seorang umat paroki dengan mata berkaca-kaca.
Santa Maria Goreti: Teladan Kemurnian dan Pengampunan
Gereja ini mengambil nama dari Santa Maria Goreti, gadis muda asal Italia yang wafat pada usia 11 tahun karena mempertahankan kesuciannya. Sebelum meninggal, ia bahkan memaafkan pelaku yang menyerangnya. Nama itu menjadi sumber inspirasi bagi umat Lurasik, bahwa kekuatan iman tidak diukur dari besar tubuh atau harta, melainkan dari kemurnian hati.
Profil Singkat Gereja St. Maria Goreti Lurasik
Lokasi : Lurasik, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU, NTT.
Keuskupan : Atambua.
Pelindung : Santa Maria Goreti.
Pembangun : Himpunan Bersatu Teguh (HBT) bersama umat setempat.
Durasi Pembangunan : 4 bulan (15 Agustus – 15 Desember 2025).
Pemimpin Penahbisan : Kardinal Ignatius Suharyo dan Uskup Dominikus Saku.
Penghargaan : Rekor MURI – Gereja permanen yang dibangun tercepat di Indonesia.
Arsitektur : Perpaduan gaya modern minimalis dengan sentuhan tradisional Timor; dominasi batu alam, kayu lokal, dan ornamen bernuansa putih sebagai lambang kesucian Maria.
Kapasitas : Sekitar 800 umat
Kasih yang Membangun
Dari Lurasik, sebuah desa yang mungkin tak banyak dikenal, kini lahir kisah iman yang menembus batas. Gereja St. Maria Goreti menjadi bukti bahwa kasih Tuhan nyata bekerja melalui umat yang sederhana.
Empat bulan, waktu yang singkat bagi dunia, tapi cukup lama bagi Tuhan untuk menunjukkan mukjizat-Nya.
Dan di bawah langit Nusa Tenggara Timur yang biru, lonceng gereja baru itu kini berdentang keras, menyapa dunia dengan pesan sederhana namun abadi: “Kasih membuat segala sesuatu mungkin.” (ren)
