Khamenei Ancam Perang Regional: Iran Siap Hantam AS jika Trump Menyerang
Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan Donald Trump bahwa serangan AS terhadap Iran akan memicu perang regional. Ketegangan meningkat setelah kapal perang AS bergerak ke Timur Tengah dan ledakan mengguncang Iran.

HALLONEWS.COM – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa seluruh kawasan Timur Tengah akan dilanda konflik besar jika Washington memulai perang terhadap Teheran.
Peringatan keras itu muncul setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan aksi militer terhadap Iran, dengan alasan pembunuhan terhadap demonstran damai. Trump bahkan mengklaim bahwa kapal perang Amerika yang “sangat besar dan kuat” kini bergerak menuju kawasan tersebut.
Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, Khamenei menegaskan bahwa serangan Amerika tidak akan berhenti pada satu negara saja.
“Amerika harus tahu, jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional,” kata Khamenei seperti dikutip Minggu (1/2/2026).
Ia menyebut ancaman militer AS bukan hal baru. Menurutnya, pejabat Amerika selama bertahun-tahun terus mengulang narasi bahwa semua opsi terbuka, termasuk perang.
“Rakyat Iran tidak akan takut dengan ancaman kapal induk dan pesawat tempur,” ujarnya.
“Kami bukan pihak yang memulai perang, tetapi jika Amerika menyerang atau merugikan Iran, bangsa Iran akan memberikan pukulan keras dan konflik itu akan menyebar ke seluruh kawasan.”
Saat ditanya wartawan dalam penerbangan menuju Florida terkait “keputusan akhir” soal Iran, Trump menolak memberikan jawaban tegas.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda, tetapi kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan kuat yang menuju ke arah sana,” kata Trump. “Saya berharap mereka mau menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima.”
Trump juga mengklaim bahwa Teheran tengah melakukan pembicaraan serius dengan Washington, meski belum jelas sejauh mana negosiasi itu berlangsung.
Sikap menantang juga ditunjukkan Jenderal Amir Hatami, panglima tertinggi angkatan darat reguler Iran.
“Alhamdulillah, hari ini kita berada pada tingkat kesiapan militer dan pertahanan yang tinggi,” ujarnya.
“Kami memantau dengan cermat pergerakan musuh. Jika mereka melakukan kesalahan, tanpa ragu mereka akan membahayakan keamanan mereka sendiri dan keamanan kawasan.”
Di parlemen Teheran, ketegangan semakin meningkat. Ketua parlemen menyatakan bahwa pasukan militer Uni Eropa kini dianggap sebagai kelompok teroris oleh Republik Islam Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris menyusul tindakan keras berdarah terhadap demonstran.
Meski retorika perang menguat, sejumlah pejabat Iran masih membuka peluang diplomasi. Mantan ketua parlemen sekaligus pejabat keamanan senior, Ali Larijani, menulis di platform X bahwa “pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan”.
Namun, Khamenei—yang kini berusia 86 tahun—berulang kali menolak pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat.
Dua Ledakan Guncang Iran
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran diguncang dua ledakan pada Sabtu (31/1/2026) waktu setempat. Pemerintah membantah bahwa sasaran serangan adalah pemimpin militer.
Ledakan pertama terjadi di pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan, menewaskan seorang anak perempuan berusia empat tahun dan melukai sedikitnya 14 orang.
Ledakan kedua terjadi lebih dari 1.000 kilometer jauhnya di Ahvaz, menewaskan lima orang, menurut laporan media pemerintah Iran.(ren)
