Ketika Sumatera Menangis: 836 Nyawa Melayang, Ratusan Masih Hilang di Balik Lumpur dan Air
Tragedi banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BNPB mencatat 836 korban meninggal dunia dan 518 orang masih hilang. Operasi pencarian terus dilakukan di tengah kondisi medan berat.

HALLONEWS.COM-Hujan deras yang tak kunjung berhenti sejak akhir November mengubah sebagian wilayah Sumatera menjadi lautan lumpur dan reruntuhan. Sungai meluap, bukit runtuh, dan rumah-rumah hanyut terbawa arus deras. Kini, yang tersisa hanyalah kesedihan dan harapan di tengah tenda-tenda pengungsian.
Di antara para penyintas, Siti Rahmah (33), warga Aceh Utara, masih menatap kosong ke arah bukit yang kini rata tanah. “Air datang seperti tembok,” tuturnya pelan. “Saya hanya sempat menggandeng anak dan berlari. Suami saya belum ditemukan.”
Kisah Siti hanyalah satu dari ratusan kisah kehilangan akibat bencana hidrometeorologi besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak sepekan terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan pembaruan data korban pada Kamis (4/12/2025) sore. Hingga pukul 16.00 WIB, total korban meninggal dunia mencapai 836 jiwa, sedangkan 518 orang masih dinyatakan hilang.
“Penambahan terbesar terjadi di Aceh, dengan 48 korban baru yang ditemukan hari ini,” ujar Abdul dalam konferensi pers virtual.
Rinciannya: Aceh 325 korban meninggal, Sumatera Utara 311 korban, dan Sumatera Barat 200 korban.
Korban hilang masing-masing tercatat 170 di Aceh, 127 di Sumut, dan 221 di Sumbar.
Abdul menegaskan, operasi pencarian korban masih terus berlangsung tanpa batas waktu.
“Kami tidak akan berhenti sampai semua korban ditemukan,” tegasnya.
Selain korban jiwa, BNPB melaporkan 10.400 rumah warga rusak, 354 fasilitas umum, serta 213 sekolah dan 132 rumah ibadah yang hancur.
Sebanyak 295 jembatan dilaporkan terputus, menghambat distribusi logistik dan evakuasi korban di wilayah perbukitan.
Di Adiankoting, Sumatera Utara, tim SAR menemukan 12 jenazah baru saat pembukaan akses jalan tertimbun tanah longsor. Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, enam jasad kembali ditemukan di daerah lereng bukit.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan pemerintah telah mengerahkan helikopter logistik, perahu karet, dan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan.
“Kami mengutamakan penyelamatan jiwa dan pemulihan infrastruktur vital,” katanya.
Anomali Cuaca dan Deforestasi Jadi Pemicu Bencana
Ahli klimatologi Dwikorita Karnawati dari BMKG menjelaskan bahwa bencana kali ini dipicu oleh anomali iklim La Niña moderat dan pemanasan muka laut di Samudra Hindia bagian timur.
“Curah hujan di beberapa wilayah mencapai lebih dari 300 milimeter per hari—itu ekstrem,” jelasnya.
Kondisi tanah yang jenuh air dan kerusakan hutan akibat deforestasi memperparah longsor di daerah perbukitan.
Di tengah keterpurukan, solidaritas tumbuh di pos-pos pengungsian. Relawan, mahasiswa, dan aparat bahu-membahu menyalurkan makanan, obat-obatan, dan pakaian.
Arifin, relawan asal Medan, mengaku datang atas panggilan hati. “Kami tidak bisa menggantikan kehilangan mereka,” ujarnya, “tapi kami bisa hadir untuk meringankan beban.”
Dari Agam hingga Aceh Utara, dari lumpur hingga tenda pengungsian, kisah-kisah kemanusiaan terus mengalir.
Bencana ini menjadi pengingat keras bahwa alam tak lagi bersahabat bila manusia terus lalai menjaga keseimbangannya. (ren)
