Home - Nusantara - Ketika Presiden Prabowo Bernyanyi Lagu “Tanah Air” di Tengah Duka Pengungsi

Ketika Presiden Prabowo Bernyanyi Lagu “Tanah Air” di Tengah Duka Pengungsi

Presiden Prabowo rayakan tahun baru bersama pengungsi di Tapanuli Selatan, bernyanyi lagu “Tanah Air” untuk menguatkan semangat warga di tengah duka.

Kamis, 1 Januari 2026 - 12:05 WIB
Ketika Presiden Prabowo Bernyanyi Lagu “Tanah Air” di Tengah Duka Pengungsi
Presiden Prabowo Subianto mengajak warga pengungsi di Tapanuli Selatan menyanyikan lagu “Tanah Air” dalam suasana haru di malam pergantian tahun 2026, di Posko Kesehatan Kodam I/Bukit Barisan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Foto: Tim Media Presiden Prabowo for Hallonews

HALLONEWS.COM — Hujan baru saja reda di Batu Hula, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Tanah masih becek, udara lembab, dan tenda-tenda pengungsian berdiri berjejer di bawah langit kelabu. Di tengah suasana sederhana itu, Presiden Prabowo Subianto berdiri di antara warga pengungsi, mengajak mereka menyanyikan lagu “Tanah Air”.

“Kalau saya bilang Tanah Air, semua ikut, ya,” ucap Presiden dengan senyum hangat, Kamis (1/1/2026) dini hari.

Beberapa detik kemudian, suara lirih berubah menjadi lantang.

“Tanah airku tidak kulupakan…”

Nada-nada patriotik itu menggema dari balik tenda darurat Posko Kesehatan Kodam I/Bukit Barisan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Lagu sederhana itu, di tengah lumpur dan sisa banjir, menjadi sumber kehangatan baru bagi warga yang kehilangan rumah.

Tidak ada pesta, tidak ada kembang api, tidak ada lampu warna-warni. Tapi di tengah pengungsian, semangat kebersamaan terasa begitu kuat. Presiden Prabowo melanjutkan nyanyian dengan lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

Warga ikut menyanyi, beberapa menahan air mata. “Lagu ini bikin ingat rumah,” tutur Lina (42), seorang pengungsi. “Tapi malam ini kami merasa diperhatikan. Presiden datang, duduk bareng kami. Rasanya seperti keluarga.”

Doa dan Janji di Tengah Duka

Usai bernyanyi, Prabowo mengajak semua yang hadir untuk berdoa.

“Kita sedang diuji. Tapi kita harus tetap semangat, ikhlas, dan tegar. Percayalah, kalian tidak sendirian,” kata Presiden.

Ucapan itu disambut hening. Sebagian warga menunduk, sebagian menatap Presiden dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya malam itu.

Presiden kemudian menyapa satu per satu warga, menanyakan kabar, dan mendengar langsung keluhan mereka.

“Kita akan bangun lagi. Saya pastikan kalian tidak akan ditinggalkan,” ujarnya menepuk bahu seorang bapak yang rumahnya hanyut tersapu banjir.

Lagu “Tanah Air” malam itu menjadi simbol kekuatan dan harapan baru. Anak-anak kecil kembali menyenandungkannya pelan di sela-sela tenda, seolah menandai bahwa cinta pada negeri ini tetap hidup, bahkan di tengah bencana.

Tahun baru di Tapanuli Selatan kali ini memang tanpa gemerlap, tapi justru di sanalah cahaya kemanusiaan paling terang, ketika seorang Presiden memilih untuk bernyanyi bersama rakyatnya, bukan di istana, melainkan di tanah becek yang sama, di tengah duka yang sama. (ren)