K-pop Masuki Era AI: Idola Virtual, Kloning Suara, dan Robot Panggung
Industri K-pop memasuki era AI dengan idola virtual, kloning suara, dan robot humanoid. SM, Hybe, JYP, dan YG memanfaatkan teknologi AI untuk produksi musik, artis, dan panggung masa depan.

HALLONEWS.COM — Industri musik Korea Selatan resmi memasuki era AI, menghadirkan idola virtual, kloning suara, dan humanoid panggung. Kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar alat produksi, tetapi bagian integral dari strategi hiburan global, memengaruhi cara artis dibuat, musik diproduksi, dan penggemar berinteraksi.
Sejak ChatGPT diluncurkan pada akhir 2022, AI generatif mempercepat transformasi industri kreatif. Tiga tahun kemudian, agensi besar K-pop, termasuk SM, Hybe, JYP, dan YG, secara aktif mengadopsi AI untuk produksi musik, pengembangan artis, serta strategi global.
SM Entertainment adalah pelopor adopsi AI secara konseptual. Pendiri SM, Lee Soo-man, sejak 2010-an memprediksi dunia hiburan akan didominasi oleh robot dan avatar. Prediksi ini diwujudkan dengan debut girl group Aespa pada 2020, yang menggabungkan avatar AI “ae” ke dalam narasi metaverse grup.
Sementara itu, Hybe fokus pada adopsi teknis dan operasional. Mulai 2021, Hybe berinvestasi pada startup audio AI Supertone, yang pada 2023 diakuisisi saham mayoritasnya. Teknologi ini memungkinkan penciptaan suara multibahasa dan manipulasi timbre vokal secara AI, diterapkan pada single debut Midnatt, alter ego artis Lee Hyun.
Pada Juni 2024, Hybe meluncurkan Syndi8, grup pop virtual dengan empat anggota yaitu Canary, Next, Goyo, dan Raven, sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Lagu debut mereka, MVP, dirilis secara global, menampilkan narasi fiksi dunia Nansy Land di mana suara adalah sumber kekuatan.
Bang Si-hyuk, Ketua Hybe, menegaskan bahwa AI bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari strategi inti perusahaan: “Inovasi teknologi penting untuk mengatasi keterbatasan fisik seniman manusia dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.” Ia juga menyerukan diskusi etis lebih luas tentang penggunaan AI di industri kreatif.
JYP Entertainment lebih berhati-hati. Pada Desember 2024, anak perusahaannya JYP360 berganti nama menjadi Blue Garage, menandai fokus pada AI dan teknologi platform. Pada September 2025, JYP mulai mengembangkan artis berbasis AI dan merekrut talenta baru, meski proyek besar belum terealisasi.
YG Entertainment mengambil jalur konservatif. Melalui anak perusahaannya, YG Plus, YG memanfaatkan IP virtual yang telah terbukti, termasuk grup Plave. Plave menggunakan penangkapan gerakan real-time oleh manusia yang diterjemahkan menjadi karakter 3D, dipoles AI untuk mengurangi uncanny valley. Hasilnya terbukti sukses: EP kedua mereka memuncaki tangga lagu Hot 100 Melon, menjual 560.000 kopi dalam minggu pertama, serta menarik 40.000 penggemar di konser panggung nyata.
Idola Robot: AI dengan Kehadiran Fisik
Jika Plave mewakili AI virtual, Galaxy Corporation, perusahaan G-Dragon, membawa AI ke dunia fisik. Mereka mengembangkan idola robot humanoid yang dapat tampil di panggung, menari, dan berinteraksi dengan penggemar secara langsung.
CEO Choi Yong-ho menyatakan pada konferensi startup ComeUp 2025: “Kita baru mencapai 1 atau 10 persen dari apa yang mungkin. Kita akan terus menantang yang tampak mustahil untuk menciptakan masa depan baru.”
Robot humanoid ini sudah menampilkan koreografi lagu G-Dragon Power, menandai titik awal era di mana idola manusia, virtual, dan robot hidup berdampingan dalam ekosistem hiburan yang terintegrasi.
AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi strategi inti dan diferensiasi kompetitif di industri K-pop. Dari SM yang menggabungkan narasi metaverse, Hybe dengan vokal multibahasa berbasis AI, JYP dan YG yang berhati-hati namun strategis, hingga Galaxy Corporation yang menghadirkan robot panggung, industri hiburan Korea Selatan tengah membuka era hiburan hibrida.
Para penggemar dan kritikus kini menyaksikan masa depan di mana kreativitas manusia dan kecerdasan buatan akan membentuk standar baru hiburan global. (ren)
