Jakarta dan Banten Siaga! BMKG Ungkap Ancaman Hujan Ekstrem hingga Akhir Januari
BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem hingga 29 Januari 2026. Jakarta dan Banten berstatus awas akibat hujan sangat lebat hingga ekstrem, dipicu La Nina lemah dan bibit siklon tropis.

HALLONEWS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 29 Januari 2026.
Sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan Banten, masuk dalam kategori Awas akibat ancaman hujan sangat lebat hingga ekstrem.
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer global, regional, dan lokal yang masih aktif. Salah satu faktor utama adalah fenomena La Nina lemah, yang ditandai dengan penguatan fase negatif El Nino–Southern Oscillation (ENSO) serta nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif.
Kondisi tersebut meningkatkan suplai uap air di atmosfer sehingga memperbesar peluang terbentuknya awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan dan timur.
Selain itu, BMKG memantau keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Sumbawa. Bibit siklon ini memiliki tekanan udara minimum sekitar 1004 hPa dengan kecepatan angin mencapai 30 knot dan berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dalam 48 hingga 72 jam ke depan.
Dampaknya, terjadi peningkatan kecepatan angin kencang serta pembentukan daerah pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah perairan, termasuk selatan Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, hingga perairan sekitar Flores.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92P yang terpantau di Teluk Carpentaria juga turut memengaruhi kondisi cuaca, meski peluangnya berkembang menjadi siklon tropis masih tergolong rendah.
Bibit ini tetap berkontribusi pada peningkatan angin kencang dan potensi hujan di wilayah Maluku hingga Papua bagian selatan.
BMKG juga mencatat penguatan Monsun Asia yang disertai fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS). Kondisi ini memungkinkan massa udara lembap bergerak lebih cepat melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia, sehingga memperbesar risiko cuaca ekstrem di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Dengan berbagai faktor tersebut, BMKG menegaskan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, genangan, dan tanah longsor masih tinggi. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan melakukan langkah mitigasi guna meminimalkan dampak yang mungkin terjadi. (min)
