Home - Internasional - Iran Siap Negosiasi dengan AS, Tapi Tolak Ancaman Militer Trump: Program Rudal Harga Mati

Iran Siap Negosiasi dengan AS, Tapi Tolak Ancaman Militer Trump: Program Rudal Harga Mati

Iran siap bernegosiasi dengan AS secara adil, namun menolak ancaman militer Trump. Teheran menegaskan program rudal tidak bisa dinegosiasikan di tengah eskalasi ketegangan.

Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:28 WIB
Iran Siap Negosiasi dengan AS, Tapi Tolak Ancaman Militer Trump: Program Rudal Harga Mati
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden AS Donald Trum di tengah meningkatnya ketegangan Iran–Amerika Serikat. Foto: Sputnik for Hallonews

HALLONEWS.COM — Iran menyatakan kesiapan untuk melakukan pembicaraan yang “adil dan setara” dengan Amerika Serikat, namun menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan atau ancaman militer. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington, menyusul langkah Presiden AS Donald Trump mengerahkan kekuatan militer tambahan ke kawasan.

Dalam kunjungan resminya ke Turki, Jumat (waktu setempat), Araghchi menegaskan bahwa Teheran terbuka terhadap dialog, tetapi menolak segala bentuk perundingan yang dibayangi ancaman.

“Iran tidak memiliki masalah dengan negosiasi, tetapi negosiasi tidak dapat berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman,” ujar Araghchi dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Jumat (30/1/2026).

Ia juga menekankan bahwa kemampuan pertahanan Iran, termasuk program rudal, tidak akan pernah menjadi materi tawar-menawar.

“Kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan. Keamanan rakyat Iran bukan urusan pihak lain,” tegasnya.

Armada AS Bergerak, Trump Kirim Sinyal Keras

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Trump kembali melontarkan ancaman kemungkinan aksi militer terhadap Iran, sembari menekan Teheran agar menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.

Awal pekan ini, Trump menyatakan bahwa “armada besar” yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Di Gedung Putih, Jumat, ia kembali menegaskan bahwa pemerintahannya mengirim “sejumlah besar kapal” ke wilayah sekitar Iran.

“Mudah-mudahan kita mencapai kesepakatan. Jika tidak, kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump.
Trump juga mengisyaratkan adanya tenggat waktu bagi Iran, meski enggan mengungkap detailnya. “Hanya Iran yang tahu tenggat waktunya,” ujarnya, seperti dilaporkan Al Jazeera dari Washington, DC.

Latar Belakang Nuklir dan Sikap Iran

Pada 2018, Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) yang sebelumnya membatasi program nuklir Teheran sebagai imbalan pencabutan sanksi internasional. Sejak saat itu, Washington menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran.

Di tengah eskalasi terbaru, pejabat senior Iran menegaskan kesiapan bernegosiasi hanya jika ancaman militer AS dihentikan. Mereka juga memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons jika diserang.

Upaya meredam konflik terus dilakukan oleh negara-negara kawasan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dilaporkan telah berbicara via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan Ankara menjadi fasilitator dialog AS–Iran.

Fidan juga mengungkapkan telah melakukan pembicaraan panjang dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menegaskan pentingnya membuka kembali negosiasi nuklir.

“Kami mengajak para pihak kembali ke meja perundingan untuk membahas masalah satu per satu,” kata Fidan, seraya menyebut dialog sebagai jalan menuju pencabutan sanksi terhadap Iran. (ren)