Home - Ekonomi & Bisnis - Indonesia Rencanakan Pangkas Produksi Nikel hingga 34% di Tahun 2026, Ini Alasannya

Indonesia Rencanakan Pangkas Produksi Nikel hingga 34% di Tahun 2026, Ini Alasannya

Indonesia berencana memangkas produksi nikel hingga 34% pada 2026. Kebijakan ini dinilai berdampak pada industri smelter, pasar saham, hingga rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Sabtu, 20 Desember 2025 - 18:44 WIB
Indonesia Rencanakan Pangkas Produksi Nikel hingga 34% di Tahun 2026, Ini Alasannya
Ilustrasi bahan nikel (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM –Pemerintah Indonesia berencana untuk mengatasi kekurangan pasokan nikel yang menekan harganya di pasar global dengan mengurangi produksi secara signifikan hingga 34% pada tahun 2026.

Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menetapkan target produksi maksimal sekitar 250 juta ton, penurunan signifikan dari tingkat sebelumnya lebih dari 380 juta ton.

Usulan ini muncul di tengah kondisi pasar nikel yang lesu, di mana harga nikel global terus merosot karena akumulasi stok berlebihan dari produsen utama seperti Indonesia sendiri.

Beberapa faktor penting berkontribusi pada penurunan target produksi ini; salah satunya adalah penurunan kualitas bijih nikel domestik, yang semakin menantang untuk diekstrak secara efektif; dan upaya untuk mengembalikan keseimbangan antara penawaran dan permintaan di seluruh dunia.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengatakan bahwa rencana ini masih dibahas di tingkat pemerintah dan bahwa pelaksanaannya akan bergantung pada pemeriksaan lebih lanjut.

Pemerintah juga berencana memperketat persyaratan Izin Usaha Industri (IUI) bagi fasilitas smelter. Ini akan membatasi operasi pabrik nikel baru atau yang tidak memenuhi persyaratan efisiensi dan lingkungan. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi oversupply sambil mendorong industri hilir yang lebih berkelanjutan.

Pemangkasan ini memiliki konsekuensi yang signifikan, terutama bagi rantai pasokan global. Karena Indonesia adalah pemasok nikel terbesar di dunia dan berkontribusi pada produksi baterai kendaraan listrik, pengurangan output dapat menyebabkan impor bahan baku lebih banyak ke negara-negara konsumen utama seperti China dan Eropa.

Ini dapat menyebabkan kenaikan harga baterai, yang berdampak pada harga kendaraan listrik dan perangkat elektronik. Namun, langkah ini dianggap sebagai upaya proaktif untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang dan mencegah kerugian lebih besar bagi penambang lokal karena depresiasi nilai komoditas.

Rencana pemangkasan ini mungkin menimbulkan tekanan jangka pendek pada industri pertambangan nikel di pasar saham Indonesia.

Ekspektasi pendapatan yang lebih rendah dan pembatasan operasi smelter dapat menyebabkan indeks sektor komoditas berbasis mineral kehilangan nilai.

Namun, stabilisasi harga di seluruh dunia dapat membantu sektor hilir seperti pengolahan dan manufaktur baterai mendapatkan lebih banyak uang di masa depan.

Secara keseluruhan, investor berfokus pada sektor diversifikasi seperti energi terbarukan dan konsumsi domestik untuk mengurangi risiko eksposur komoditas, terutama jika oversupply global terus berlanjut tanpa intervensi yang tepat waktu. Akibatnya, ada kemungkinan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menjadi lebih volatil. (Hendeka Putra/Research Analyst Yes Invest)