Home - Ekonomi & Bisnis - Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI: Komitmen Perbaikan Transparansi dan Aksesibilitas Pasar

Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI: Komitmen Perbaikan Transparansi dan Aksesibilitas Pasar

OJK dan BEI bertemu MSCI awal Februari 2026 dan menyepakati perbaikan transparansi pasar saham Indonesia, termasuk keterbukaan data investor hingga 1% dan kenaikan free float menjadi 15% demi meningkatkan aksesibilitas dan kepercayaan investor global.

Senin, 2 Februari 2026 - 22:15 WIB
Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI: Komitmen Perbaikan Transparansi dan Aksesibilitas Pasar
Gedung Bursa Efek Indonesia (dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengadakan pertemuan dengan penyedia indeks global MSCI pada awal Februari 2026 untuk membahas isu aksesibilitas pasar saham Indonesia.

Diskusi ini merupakan langkah penting dalam menanggapi kekhawatiran MSCI terkait likuiditas pasar dan transparansi data, yang telah mempengaruhi persepsi investor internasional.

Kesepakatan bersama untuk melakukan perbaikan struktural untuk mempertahankan dan meningkatkan status Indonesia dalam indeks MSCI ditunjukkan dalam hasil pertemuan.

Salah satu komitmen utama adalah meningkatkan keterbukaan data kepemilikan investor, dengan rincian yang lebih rinci hingga mencakup 27 subsektor.

Selain itu, data kepemilikan investor individu atau entitas akan dibuka hingga batas maksimal 1%, dan fasilitas ini akan tersedia untuk publik mulai Februari 2026.

Diharapkan bahwa langkah ini akan memberikan visibilitas lebih baik bagi analis dari seluruh dunia untuk menilai struktur pemegang saham, dan juga akan mengurangi persepsi risiko yang terkait dengan dominasi investor tertentu.

Pemerintah juga akan menaikkan persyaratan free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen pada Maret 2026. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan likuiditas pasar sekunder dengan membuat lebih banyak saham beredar bebas dan dapat diperdagangkan.

Perubahan free float yang lebih tinggi diharapkan dapat mengurangi volatilitas harga dan meningkatkan daya tarik dana indeks pasif yang mengikuti benchmark MSCI. Perubahan ini akan diterapkan secara bertahap, memberi emiten yang terdampak waktu untuk menyesuaikan diri.

Pertemuan tersebut juga mencakup diskusi mengenai penyempurnaan mekanisme settlement dan perdagangan, guna memenuhi standar internasional yang lebih ketat.

OJK dan BEI menegaskan bahwa semua perbaikan ini dilakukan untuk memperkuat fondasi pasar modal nasional, bukan hanya untuk memenuhi kriteria MSCI. Implementasi akan dipantau ketat, dengan harapan dapat memberikan sinyal positif bagi pemulihan kepercayaan investor asing dan stabilisasi indeks saham utama.

Secara keseluruhan, hasil pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI ini, termasuk keterbukaan data investor hingga batas 1% mulai Februari 2026 serta kenaikan free float menjadi 15% pada Maret 2026 dengan rincian hingga 27 subsektor, sebagaimana dibahas dalam diskusi tersebut, menandai komitmen bersama untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia.

Berita ini cenderung memberikan sentimen positif bagi sektor pasar modal dan keuangan di Indonesia, di mana indeks sektoral perbankan dan saham yang memiliki korelasi dengan MSCI, berpotensi mengalami penguatan akibat ekspektasi peningkatan inflow dana asing dan kepercayaan investor institusional global.

Namun, mungkin tetap sensitif terhadap fluktuasi jangka pendek hingga perbaikan transparansi terealisasi, sementara secara agregat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa merespons dengan volatilitas yang lebih rendah dan bias pemulihan jangka menengah dari persepsi aksesibilitas pasar yang lebih baik, mendorong investor untuk mempertahankan atau menambah posisi di saham dengan fundamental kuat. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer : Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.