Harga Perak Cetak Rekor Sepanjang Masa! Analis Ingatkan Risiko Koreksi Mengintai
Harga perak tembus USD 78 per ons cetak rekor sepanjang masa. Analis bidik USD 80, namun Brent Donnelly ingatkan risiko koreksi tajam.

HALLONEWS.COM – Harga perak dunia kembali mencetak sejarah setelah menembus level USD 78 per ons untuk kali pertama pada perdagangan Jumat (26/12/2025).
Lonjakan harga perak yang tajam ini menegaskan reli luar biasa logam mulia, seiring kombinasi faktor mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve AS atau The Fed, defisit pasokan global, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Harga perak sempat menyentuh rekor tertinggi USD 78,53 per ons, melonjak sekitar 9% dalam sehari dan mencatatkan kenaikan lebih dari 167% sepanjang tahun ini.
Kenaikan agresif tersebut menjadikan perak sebagai salah satu komoditas dengan performa terbaik di pasar global.
Reli perak terjadi di pasar dunia, seiring lonjakan logam mulia lainnya. Harga emas spot mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD 4.549,71 per ons, sementara platinum melonjak 10% ke level USD 2.454,12 per ons.
Palladium juga ikut melesat dengan kenaikan harian lebih dari 14%, diperdagangkan di kisaran USD 1.924 per ons.
Analis menilai penguatan ini didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve AS, melemahnya dolar, serta meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tarif global.
“Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, dolar yang lebih lemah, dan volatilitas di pasar yang relatif tipis terus mendorong harga. Meski ada risiko aksi ambil untung menjelang akhir tahun, tren jangka menengah masih kuat,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals seperti dikutip Sabtu (27/12/2025).
Grant bahkan memperkirakan harga perak berpotensi menembus USD 80 per ons sebelum akhir tahun, sementara emas diproyeksikan menuju USD 4.686 dengan peluang menyentuh USD 5.000 pada paruh pertama tahun depan.
Namun, di tengah euforia reli perak, sejumlah analis mengingatkan risiko volatilitas tinggi. Brent Donnelly, Presiden perusahaan riset pasar Spectra Markets, menilai perak memiliki karakter pergerakan ekstrem dibandingkan emas.
“Perak cenderung jadi produk yang mengalami lonjakan harga sangat cepat, lalu runtuh dalam waktu relatif singkat,” ujar Donnelly.
Menurutnya, perak sering bergerak dalam siklus spekulatif, sehingga investor perlu mewaspadai potensi koreksi tajam setelah reli signifikan.
Pandangan serupa juga disampaikan Goldman Sachs yang menilai perak memiliki risiko penurunan harga dan volatilitas lebih besar dibanding emas. Emas dinilai lebih stabil karena lebih langka, bernilai tinggi per ons, serta lebih praktis sebagai cadangan bagi bank sentral.
Meski demikian, selama prospek suku bunga rendah, defisit pasokan, dan permintaan industri tetap kuat, reli logam mulia—khususnya perak—diperkirakan masih akan berlanjut, meski dibayangi potensi fluktuasi tajam.(W-2)
