Home - Ekonomi & Bisnis - Harga Minyak Dunia Naik Drastis di Tengah Ketidakpastian Politik Iran

Harga Minyak Dunia Naik Drastis di Tengah Ketidakpastian Politik Iran

Harga minyak dunia melonjak akibat ketegangan politik Iran yang memicu premi risiko geopolitik. Ancaman eskalasi konflik dan gangguan pasokan global membuat pasar energi bergerak volatil.

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:25 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Drastis di Tengah Ketidakpastian Politik Iran
Ilustrasi kilang minyak. (Dok Freepik)

HALLONEWS.COM– Harga minyak dunia kembali mencatatkan penguatan seiring meningkatnya ketegangan politik di Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.

Situasi ini membuat pelaku pasar membukukan premi risiko geopolitik lebih tinggi, di tengah protes meluas dan ancaman eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Analis Barclays seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (13/1/2026) menilai gejolak di Iran telah menambah sekitar US$3–4 per barel pada harga minyak dunia.

Harga Brent crude berhasil menguat ke level tertingginya dalam tujuh minggu terakhir, sementara WTI juga menunjukkan penguatan signifikan.

Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Teluk Persia, terutama terkait protes anti-pemerintah besar-besaran dan ancaman eskalasi militer yang ikut memicu volatilitas pasar energi global.

Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan, mengingat Iran merupakan salah satu produsen utama minyak di dunia sekaligus anggota penting Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Senada dengan itu, ahli strategi komoditas dari ING menyebut penguatan harga minyak terjadi bersamaan dengan meningkatnya demonstrasi di berbagai kota di Iran.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berulang kali melontarkan ancaman intervensi militer yang memperbesar ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.

Iran saat ini menghadapi gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai krusial bagi pasar energi global, karena setiap eskalasi berpotensi mengganggu produksi, distribusi, maupun ekspor minyak Iran yang selama ini juga dibatasi oleh sanksi internasional.

Capital Economics bahkan menilai risiko pasokan dari Iran lebih besar dibandingkan Venezuela. Dalam analisisnya, Iran memegang peranan strategis dalam pasar energi global, khususnya bagi China.

Minyak mentah Iran menyumbang hampir 15 persen impor minyak China, jauh di atas Venezuela yang hanya sekitar 2 persen.

Potensi gangguan seperti pemogokan pekerja sektor minyak, pembatasan armada pengangkut, hingga ancaman penutupan Selat Hormuz dinilai dapat mendorong harga minyak naik hingga US$15–20 per barel, meski bersifat sementara.

Ketegangan semakin terasa setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan konfrontasi militer.

Di sisi lain, puluhan ribu pendukung pemerintah turun ke jalan sebagai unjuk kekuatan, sementara akses internet nasional dilaporkan masih mengalami pemadaman selama beberapa hari berturut-turut.

Dengan situasi yang terus berkembang, pasar minyak global diperkirakan akan tetap bergerak volatil. Investor dan pelaku industri kini menanti arah perkembangan politik Iran, yang akan menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.(wib)