Hadapi Ancaman Tarif Trump, Korea Selatan Kirim Utusan Dagang ke Washington
Korea Selatan mengirim Menteri Perdagangan ke Washington untuk meredam ancaman tarif Donald Trump, menyusul meningkatnya ketegangan dagang antara Seoul dan AS.

HALLONEWS.COM-Pemerintah Korea Selatan meningkatkan langkah diplomatiknya ke Amerika Serikat guna meredam potensi eskalasi perang dagang setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan kenaikan tarif impor. Seoul mengirim Menteri Perdagangan Yeo Han-koo ke Washington untuk melakukan serangkaian pertemuan intensif dengan pejabat pemerintah, anggota Kongres, dan pelaku bisnis Amerika.
Yeo tiba di Washington pada Jumat (30/1/2026) pagi Waktu setempat dan langsung menjalani agenda padat. Sehari setelah kedatangannya, ia telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat pemerintahan Trump serta tokoh-tokoh penting di sektor industri. Jadwal konsultasi lanjutan masih berlanjut hingga akhir pekan, menandai keseriusan Seoul dalam meredam tekanan perdagangan dari Washington.
Kunjungan Yeo dilakukan hanya berselang beberapa hari setelah Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan menyelesaikan lawatan terpisah ke AS. Dalam kunjungan tersebut, Kim bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Menteri Energi Chris Wright. Pembicaraan Kim berlangsung pada level kabinet, sementara Yeo bergerak lebih luas dengan menjangkau kalangan politik dan dunia usaha.
Dua kunjungan beruntun ini mencerminkan kekhawatiran Seoul terhadap memburuknya hubungan dagang dengan Washington. Ketegangan mencuat sejak Trump, pada 26 Januari lalu, mengancam akan menaikkan tarif impor mobil, kayu, dan produk farmasi asal Korea Selatan dari 15 persen menjadi 25 persen. Ancaman tersebut dikaitkan dengan lambannya ratifikasi perjanjian investasi dan perdagangan Korea–AS di parlemen Korea.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa keterlambatan ratifikasi disebabkan dinamika politik domestik di Majelis Nasional dan telah disampaikan secara terbuka kepada pihak Amerika.
Sebelum bertolak ke Washington, Yeo menyatakan akan mencermati sikap pemerintah dan Kongres AS serta mencari titik temu melalui konsultasi menyeluruh. Ia dijadwalkan berada di ibu kota AS hingga Kamis dan direncanakan bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer untuk membahas tarif dan isu perdagangan bilateral lainnya.
Sementara itu, Kim Jung-kwan mengakui bahwa pembicaraan di Washington berlangsung secara terbuka dan jujur, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret. Ia menyebut pihak AS secara tegas menyampaikan kekecewaan atas mandeknya proses legislasi di Korea Selatan, namun beberapa kesalahpahaman berhasil diluruskan selama pertemuan.
Sejumlah analis di Seoul menilai tekanan tarif Trump juga berkaitan dengan putusan Mahkamah Agung AS yang masih tertunda terkait legalitas kebijakan tarif timbal balik. Ketidakpastian tersebut mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha Korea, yang kesulitan menyusun strategi produksi jangka menengah dan panjang.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun dijadwalkan mengunjungi Washington pekan ini untuk menghadiri pertemuan tingkat menteri mengenai mineral penting yang digelar Departemen Luar Negeri AS. Seoul juga berupaya mengatur pertemuan singkat dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio guna menegaskan kembali posisi Korea Selatan.
Para pakar perdagangan memperingatkan bahwa penggunaan tarif oleh Trump tidak lagi bersifat sementara, melainkan bagian dari pergeseran kebijakan dagang jangka panjang Amerika Serikat. Tekanan semacam ini, menurut mereka, berpotensi terus berlanjut dan menjadi tantangan struktural bagi hubungan dagang Korea Selatan–AS. (ren)
