Home - Nusantara - Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Usai Bocah SD di Ngada Tewas Gantung Diri

Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Usai Bocah SD di Ngada Tewas Gantung Diri

Gubernur NTT Melki Laka Lena menilai kematian bocah SD di Ngada akibat gantung diri sebagai kegagalan sistem pemerintah dari provinsi hingga tingkat bawah.

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:19 WIB
Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Usai Bocah SD di Ngada Tewas Gantung Diri
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena. Foto: Dokumen Hallonews

HALLONEWS.COM-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menyatakan duka mendalam atas meninggalnya seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, yang diduga mengakhiri hidupnya karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Melki menilai tragedi tersebut mencerminkan kegagalan sistem berlapis, mulai dari tingkat pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga struktur paling bawah dalam mendeteksi dan merespons kondisi kerentanan warga.

“Sebagai Gubernur NTT, saya sangat berduka. Kejadian ini menunjukkan adanya kegagalan sistem di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada, sampai ke level bawah, termasuk sistem pendukung lainnya,” kata Melki di Kupang, Rabu (4/2/2026).

Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak berhasil membaca sinyal kesulitan yang dialami anak berusia 10 tahun tersebut, yang akhirnya kehilangan nyawa hanya karena orang tuanya tidak mampu membeli buku dan pensil untuk keperluan sekolah.

Menurut Melki, peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi nurani dan kemanusiaan, sekaligus refleksi bahwa berbagai upaya pembangunan yang selama ini dijalankan belum sepenuhnya mampu melindungi kelompok paling rentan.

“Apa pun ceritanya, ini adalah tamparan keras bagi kemanusiaan kita. Tidak semua yang kita kerjakan berhasil, dan faktanya masih ada nyawa anak yang hilang sia-sia,” ujarnya.

Ia menambahkan, tragedi ini harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh jajaran pemerintah agar memperkuat sistem perlindungan sosial dan deteksi dini terhadap keluarga serta anak-anak yang berada dalam kondisi rawan.

Melki menegaskan komitmennya agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di Nusa Tenggara Timur dan berharap kasus ini menjadi yang terakhir.

Diketahui, pada 29 Januari 2026, seorang bocah berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di pohon cengkeh. Sebelum kejadian, korban disebut sempat menulis surat untuk ibunya setelah keinginannya memiliki buku dan pensil tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. (ren)