Gedung Putih: Opsi Militer Selalu Ada untuk Ambil Alih Greenland
Gedung Putih menyatakan opsi militer tetap terbuka dalam rencana Presiden Donald Trump mengambil alih Greenland, memicu penolakan Eropa dan kekhawatiran eskalasi geopolitik Arktik.

HALLONEWS.COM-Gedung Putih menyatakan bahwa penggunaan militer Amerika Serikat tetap menjadi salah satu opsi dalam upaya Presiden Donald Trump untuk membawa Greenland di bawah kendali Washington. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (6/1/2026) malam waktu setempat, menandai eskalasi retorika AS terkait pulau Arktik yang strategis itu.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa penguasaan Greenland dipandang sebagai prioritas keamanan nasional Amerika Serikat.
“Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa penguasaan Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat dan sangat penting untuk mencegah musuh kita di kawasan Arktik,” ujar Leavitt dalam pernyataan resminya.
“Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan bagi panglima tertinggi.”
Pernyataan Leavitt muncul di tengah pernyataan berbeda dari sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih. Utusan khusus AS untuk Greenland, Jeff Landry, serta Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, sebelumnya menyatakan bahwa tindakan militer tidak diperlukan.
“Presiden telah menegaskan selama berbulan-bulan bahwa Amerika Serikat harus menjadikan Greenland bagian dari arsitektur keamanan nasional kita,” kata Miller.
Meski demikian, Miller juga menyatakan bahwa tidak perlu membahas kemungkinan perang.
“Tidak seorang pun akan melawan Amerika Serikat secara militer terkait masa depan Greenland,” ujarnya.
Kongres AS dan Sekutu Eropa Menolak
Dari dalam negeri AS, Ketua DPR dari Partai Republik Mike Johnson secara terbuka menolak opsi militer.
“Tidak. Saya rasa itu tidak tepat,” kata Johnson ketika ditanya apakah ia mendukung tindakan militer terhadap Greenland.
Sementara itu, para pemimpin Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Greenland adalah wilayah berdaulat.
“Greenland adalah milik rakyatnya,” demikian pernyataan bersama para pemimpin Eropa.
“Adalah wewenang Denmark dan Greenland, dan hanya mereka, untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut Denmark dan Greenland.”
Greenland merupakan wilayah otonom Denmark dan bagian dari aliansi militer NATO.
Dukungan Kanada dan Sikap Greenland
Perdana Menteri Kanada Mark Carney juga menyatakan dukungannya terhadap kedaulatan Greenland dan Denmark. Ia mengumumkan rencana kunjungan ke Greenland oleh Gubernur Jenderal Kanada Mary Simon serta Menteri Luar Negeri Anita Anand.
“Masa depan Greenland dan Denmark sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Denmark,” kata Carney saat berdiri bersama Frederiksen di Kedutaan Besar Kanada di Paris.
Di sisi lain, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen secara tegas menolak seruan Trump agar pulau tersebut berada di bawah kendali AS.
Trump: Greenland Sangat Strategis
Trump kembali mengemukakan gagasan penguasaan Greenland setelah operasi militer AS di Venezuela akhir pekan lalu. Ia beralasan bahwa Pulau Arktik itu sangat penting untuk menghadapi ancaman Rusia dan China.
“Ini sangat strategis saat ini,” kata Trump kepada wartawan.
“Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Tiongkok. Kita membutuhkannya dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya.”
Mengapa Greenland Penting?
Greenland terletak di lepas pantai timur laut Kanada, dengan lebih dari dua pertiga wilayahnya berada di dalam Lingkaran Arktik. Sejak Perang Dunia II, lokasinya menjadi krusial bagi pertahanan Amerika Utara.
Amerika Serikat mengoperasikan Pituffik Space Base di barat laut Greenland, berdasarkan perjanjian pertahanan AS–Denmark tahun 1951. Pangkalan tersebut mendukung sistem peringatan dini rudal, pertahanan misil, dan pengawasan ruang angkasa untuk AS dan NATO.
Greenland juga menguasai sebagian Celah GIUK (Greenland–Islandia–Inggris), jalur strategis yang digunakan NATO untuk memantau pergerakan angkatan laut Rusia di Atlantik Utara.
Selain itu, Greenland memiliki cadangan besar mineral tanah jarang, serta potensi minyak dan gas alam lepas pantai yang diidentifikasi oleh Survei Geologi AS—sumber daya yang semakin penting di tengah transisi energi global dan persaingan geopolitik Arktik. (ren)
