Home - Internasional - FIFA Dituding Langgar Netralitas Politik, Infantino Beri “Hadiah Perdamaian” ke Donald Trump

FIFA Dituding Langgar Netralitas Politik, Infantino Beri “Hadiah Perdamaian” ke Donald Trump

FIFA menuai kecaman global setelah Gianni Infantino memberikan Hadiah Perdamaian kepada Donald Trump, meski lembaga itu selama ini menegaskan netralitas politik.

Sabtu, 6 Desember 2025 - 10:52 WIB
FIFA Dituding Langgar Netralitas Politik, Infantino Beri “Hadiah Perdamaian” ke Donald Trump
Presiden AS Donald Trump menerima Hadiah Perdamaian FIFA. Foto: Sky News

HALLONEWS.COM— FIFA kembali menuai kontroversi setelah Presiden Gianni Infantino menyerahkan Hadiah Perdamaian FIFA perdana kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (5/12/2025). Langkah ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak yang menilai FIFA telah melanggar prinsip netralitas politik yang selama ini dijunjung tinggi.

Dalam upacara penyerahan penghargaan, Infantino memuji Trump atas “kepemimpinan luar biasa” dan “kontribusinya terhadap perdamaian dunia.”

Ia menyinggung Kesepakatan Abraham, kesepakatan yang menormalisasi hubungan Israel dengan beberapa negara Arab tanpa menyelesaikan isu kenegaraan Palestina.

“Inilah yang kami inginkan dari seorang pemimpin: seorang pemimpin yang peduli pada rakyat. Kami ingin hidup di dunia yang aman, di lingkungan yang aman,” ujar Infantino seperti dikutip dari Sky News, Sabtu (6/12/2025).

Trump menyebut penghargaan ini sebagai “salah satu pencapaian terbesar” dalam kariernya, bahkan lebih membanggakan dari ambisinya meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Ia juga sempat menyerang kebijakan pendahulunya, Presiden Joe Biden, dalam pidato singkatnya.

Kritik Pedas dari Aktivis dan Pakar HAM

Reaksi keras datang dari berbagai pihak, termasuk mantan pejabat PBB Craig Mokhiber, yang menyebut penghargaan kepada Trump sebagai “perkembangan yang benar-benar memalukan.”

Mokhiber menilai penghargaan itu sebagai bentuk “penjilatan politik” dan “upaya menutupi catatan kelam Trump” dalam kebijakan luar negeri, terutama dukungannya terhadap serangan Israel di Gaza dan operasi militer di Karibia.

“Tidak puas dengan dua tahun keterlibatan FIFA dalam genosida di Palestina, Infantino kini menciptakan hadiah baru untuk menjilat Donald Trump,” kata Mokhiber.

Organisasi Human Rights Watch (HRW) juga mengkritik langkah FIFA. Dalam unggahan di platform X (Twitter), HRW menulis:

“Catatan hak asasi manusia yang buruk dari pemerintahan Trump jelas tidak mencerminkan tindakan luar biasa untuk perdamaian dan persatuan.”

Dugaan Motif Politik di Balik Penghargaan

Pengamat menilai keputusan FIFA ini tak lepas dari hubungan dekat Infantino dan Trump menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Infantino diketahui beberapa kali menghadiri acara resmi di Gedung Putih dan pernah ikut mendampingi Trump dalam peresmian gencatan senjata Gaza di Mesir.

Sementara itu, kalangan Partai Demokrat menuding FIFA “mengarang penghargaan” untuk memuaskan Trump.

“Trump tidak bisa memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, jadi FIFA membuatkannya sendiri,” tulis akun resmi Partai Demokrat AS di media sosial.

Kontradiksi Sikap FIFA

Sebelumnya, Infantino berulang kali menegaskan bahwa sepak bola harus bebas dari politik. Pada 2023, ia menolak seruan untuk menskors Israel dari sepak bola dunia dengan alasan bahwa olahraga “tidak dapat menyelesaikan masalah geopolitik.”

Kini, dua tahun kemudian, sikap itu dianggap berubah drastis. “Memberi Donald Trump hadiah untuk perdamaian itu seperti memberi Luis Suarez penghargaan karena tidak menggigit orang,” sindir jurnalis sepak bola Zach Lowy.

Rekam Jejak Kontroversial Trump

Selama menjabat, Trump dikenal mendorong peningkatan anggaran militer, mendukung operasi udara mematikan di Karibia, dan memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Di dalam negeri, kebijakan anti-imigrasinya dikritik keras karena menyebabkan penahanan massal dan deportasi besar-besaran.

Bagi banyak pengamat, semua itu membuat penghargaan “perdamaian” dari FIFA menjadi ironi besar.

“Aturan FIFA tidak mengizinkan bermain di lapangan berlumpur. Tapi mereka kini bermain di lapangan berdarah,” tutup Mokhiber. (ren)