Home - Teknologi & Digital - Facewatch: Teknologi Pengenalan Wajah yang Bikin Aman tapi Picu Kontroversi

Facewatch: Teknologi Pengenalan Wajah yang Bikin Aman tapi Picu Kontroversi

Facewatch, teknologi pengenalan wajah untuk cegah pencurian di toko, menuai kontroversi di Inggris karena dinilai melanggar privasi publik.

Rabu, 24 Desember 2025 - 8:00 WIB
Facewatch: Teknologi Pengenalan Wajah yang Bikin Aman tapi Picu Kontroversi
Kamera pengenalan wajah Facewatch memantau pengunjung di pintu masuk toko ritel Inggris. Foto: Dok Hallonews.

HALLONEWS.COM — Di tengah melonjaknya kasus pencurian dan kekerasan di toko-toko Inggris, teknologi pengenalan wajah bernama Facewatch muncul sebagai solusi baru bagi para peritel. Namun, di balik klaim keamanan dan efisiensinya, sistem ini memicu perdebatan sengit soal privasi dan etika penggunaan data biometrik.

Menjelang musim belanja Natal, banyak toko di Inggris justru menghadapi tantangan besar, pencurian meningkat tajam. Data resmi mencatat kenaikan 13% kasus pencurian di toko sepanjang tahun hingga Juni 2025, dengan total hampir 530.000 insiden. Ironisnya, lebih dari 80% kasus tak berujung pada penuntutan.

Kondisi ini membuat banyak peritel kehilangan kepercayaan pada kemampuan polisi yang kewalahan menangani kejahatan ritel. Akibatnya, mereka mengambil langkah sendiri, memasang sistem pengenalan wajah otomatis yang mampu mengenali pelaku kejahatan berulang hanya dalam hitungan detik.

Perusahaan besar seperti Sainsbury’s, Budgens, hingga Sports Direct kini bergabung dalam jaringan Facewatch, sistem berbasis cloud yang memindai wajah pengunjung di pintu masuk dan membandingkannya dengan basis data pelaku kejahatan yang dikenal.

Jika ditemukan kecocokan, sistem akan mengirimkan peringatan real-time kepada petugas toko bahwa seseorang yang dicurigai baru saja masuk.

Bagi para pelaku bisnis, teknologi ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Di Ruxley Manor Garden Centre, London Selatan, Direktur Pelaksana James Evans mengungkapkan kerugian akibat pencurian kini mencapai 1,5% dari omzet tahunan, angka yang cukup besar bagi margin keuntungan toko.

“Kerugian ribuan pound bisa terjadi hanya dalam satu kunjungan. Kami pernah melihat anak-anak disuruh mencuri, sementara orang tua menunggu di mobil. Kami tahu tidak banyak yang bisa dilakukan,” katanya seperti dikutip dari Sky News, Selasa (23/12/2025).

Evans menegaskan, keamanan kini menjadi prioritas utama. “Ini bukan hanya soal kehilangan stok, tapi keselamatan karyawan kami. Staf kami sudah beberapa kali hampir tertabrak saat mencoba menghentikan pencuri,” ujarnya.

Laporan British Retail Consortium juga mencatat, lebih dari 2.000 kasus kekerasan terhadap staf toko terjadi setiap hari, situasi yang membuat banyak bisnis ritel merasa terpaksa mengambil tindakan keamanan ekstra.

Facewatch dan Janji Keamanan Digital

Dikembangkan sebagai sistem keamanan berbasis biometrik, Facewatch mengklaim dapat mencegah kejahatan sebelum terjadi.

Teknologi ini bekerja dengan memindai wajah pelanggan, mencocokkan data dengan daftar hitam pelaku kejahatan, dan memberi sinyal kepada petugas keamanan di lokasi.

Menurut Nick Fisher, CEO Facewatch, sistem ini bukan bentuk pengawasan massal. “Kami hanya menyimpan data pelaku kejahatan berulang, bukan pelanggan biasa. Itu langkah yang proporsional dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Fisher menilai kritik yang menyebut Facewatch sebagai bentuk distopia digital tidak berdasar. “Selama teknologi ini digunakan dengan benar dan sesuai hukum, Facewatch adalah kekuatan untuk kebaikan,” tambahnya.

Privasi Publik Terancam

Meski diklaim aman, para aktivis hak digital menyebut Facewatch sebagai bentuk “kepolisian swasta berbasis algoritma.”

Direktur organisasi pengawas privasi Big Brother Watch, Silkie Carlo, menyebut sistem ini “berbahaya dan invasif.”

“Dengan hanya berbelanja di supermarket, perusahaan sudah mengambil data biometrik Anda tanpa izin. Data itu sama sensitifnya dengan paspor,” tegas Carlo.

Ia menambahkan, risiko kesalahan identifikasi bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam sekejap. “Teknologi seperti ini membuat keadilan menjadi bias karena keputusan dibuat oleh mesin, bukan manusia.”

Kekhawatiran itu terbukti ketika Rennea Nelson, seorang pelanggan toko B&M, secara keliru ditandai sebagai pencuri.

Nelson, yang saat itu sedang hamil tujuh bulan, dihadapkan pada situasi traumatis ketika staf toko menuduhnya mencuri di depan umum karena wajahnya memicu “alarm digital.”

“Saya mengalami kehamilan berisiko tinggi. Saat mereka menuduh saya, itu memicu trauma dan ketakutan luar biasa,” kata Nelson.

Pihak toko kemudian meminta maaf, menyebut insiden tersebut sebagai “kesalahan manusia yang langka.”

Dalam pernyataannya, B&M menegaskan sistem Facewatch “beroperasi sesuai regulasi GDPR Inggris” dan digunakan untuk melindungi pegawai dari pencurian agresif.

Meski perusahaan teknologi menegaskan Facewatch aman dan sesuai hukum, tekanan terhadap otoritas privasi Inggris meningkat. Banyak kalangan mendesak agar penggunaan teknologi biometrik di ruang publik diawasi lebih ketat.

Para pakar hukum menilai, penggunaan Facewatch menandai pergeseran berbahaya menuju normalisasi pengawasan massal, di mana batas antara keamanan dan pelanggaran privasi semakin kabur.

Namun bagi banyak peritel, pilihan mereka sederhana: terancam rugi besar atau diawasi kamera.

“Dunia usaha tentu tidak nyaman dengan pengawasan semacam ini, tapi tanpa langkah konkret, banyak toko bisa gulung tikar,” kata seorang analis ritel Inggris.

Perdebatan soal Facewatch kini menjadi simbol benturan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai hak asasi digital.

Bagi sebagian orang, teknologi ini menyelamatkan bisnis dan nyawa. Namun bagi lainnya, Facewatch adalah gerbang menuju masyarakat yang dikendalikan algoritma.

Apakah pengenalan wajah menjadi alat keamanan atau bentuk pengawasan, jawabannya kini bergantung pada seberapa jauh dunia bersedia mengorbankan privasi demi rasa aman. (ren)