Energi Hijau Jadi Strategi Bisnis, Permintaan Sertifikat Energi Terbarukan PLN Melonjak di 2025
Permintaan Renewable Energy Certificate (REC) PLN melonjak sepanjang 2025 seiring meningkatnya kesadaran sektor industri dan bisnis menjadikan energi hijau sebagai strategi daya saing dan keberlanjutan.

HALLONEWS.COM – Upaya sektor industri dan bisnis Indonesia untuk menekan jejak karbon kian nyata. Sepanjang 2025, permintaan terhadap Renewable Energy Certificate (REC) yang dikelola PT PLN (Persero) mencatatkan lonjakan signifikan, menandai pergeseran energi bersih dari sekadar komitmen moral menjadi strategi korporasi.
Total penjualan REC selama 2025 mencapai 6,43 terawatt hour (TWh), tumbuh hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap skema energi hijau yang praktis, kredibel, dan diakui secara global.
REC memungkinkan pelanggan menggunakan listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) tanpa harus mengubah sistem kelistrikan eksisting.
Melalui sertifikat ini, konsumsi energi hijau dapat dibuktikan secara transparan dan akuntabel—faktor penting bagi perusahaan yang memiliki target dekarbonisasi dan standar keberlanjutan internasional.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pelaku industri terhadap energi. Menurutnya, energi hijau kini bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian dari upaya meningkatkan daya saing usaha.
Sejak diluncurkan pada 2020, tren penjualan REC terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsistensi ini memperlihatkan bahwa REC telah menjadi salah satu instrumen utama bagi sektor usaha dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus menekan emisi karbon.
Dari sisi pasar, pelanggan industri berskala besar masih menjadi kontributor utama. Data PLN menunjukkan, pada akhir 2025 sekitar separuh lebih penjualan REC diserap oleh sepuluh pelanggan dengan volume pembelian tertinggi. Industri berat, manufaktur, hingga sektor berbasis bahan baku tercatat sebagai pengguna dominan, seiring tingginya kebutuhan energi mereka.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyebut, besarnya konsumsi energi di sektor industri membuat adopsi REC berdampak signifikan terhadap capaian penurunan emisi. Nilai pembelian REC per pelanggan pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu megawatt hour.
Untuk menopang layanan ini, PLN mengandalkan pasokan listrik hijau dari 12 pembangkit EBT yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari panas bumi, tenaga air, minihidro, hingga surya.
Pembangkit-pembangkit tersebut menjadi fondasi penyediaan energi bersih bagi pelanggan Green as a Service (GEAS).
Ke depan, PLN menegaskan komitmennya memperluas layanan REC sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda transisi energi nasional. Bagi dunia usaha, REC dinilai bukan hanya solusi energi bersih, tetapi juga investasi reputasi dan keberlanjutan jangka panjang.(wib)
