Ekspansi Ambisius INET: Right Issue Jumbo, FTTH Wi-Fi 7, dan Risiko Dilusi
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) gelar right issue jumbo Rp3,2 triliun untuk ekspansi FTTH Wi-Fi 7. Simak dampak dan risikonya.

HALLONEWS.COM – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) berencana melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) dengan menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga Rp10 per saham.
Ini setara dengan 57,14% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD, menjadikannya salah satu rights issue terbesar di industri infrastruktur digital.
Dalam tindakan korporasi ini, pemegang tiga saham lama berhak atas empat HMETD; setiap HMETD memberikan hak untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Dengan cara ini, Perseroan dapat mengumpulkan hingga Rp3,2 triliun dalam dana. Saham hasil pelaksanaan HMETD akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia dengan hak yang sama dengan saham lama.
Selain menerbitkan saham baru, INET juga akan menerbitkan 2,304 miliar Waran Seri II, yang merupakan sekitar 10,29% dari modal yang ditempatkan setelah PMHMETD I, yang diberikan secara gratis.
Dengan harga pelaksanaan 300 rupiah per saham, setiap pemegang 50 saham baru berhak atas 9 waran. Waran akan dilaksanakan mulai 13 Juli 2026 hingga 13 Juli 2028. Ada kemungkinan bahwa Perseroan akan mendapatkan tambahan dana hingga Rp691,2 miliar jika seluruh keputusan dilaksanakan.
Dalam sebuah pernyataan, pemegang saham pengendali PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN), yang memiliki kepemilikan sekitar 60,62% saham INET, telah berkomitmen untuk menerapkan seluruh HMETD, yang merupakan haknya sebesar sekitar Rp1,79 triliun.
Selain itu, karena AKUN berfungsi sebagai Pembeli Siaga atas saham yang belum diserap oleh publik, keberhasilan perselisihan hak ini cukup terjamin dari segi pendanaan.
Mayoritas uang yang dihasilkan dari penjualan hak akan digunakan untuk memperluas jaringan Fiber To The Home (FTTH) berteknologi Wi-Fi 7 dengan target 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok. Selain itu, uang ini juga akan digunakan untuk membayar biaya jaringan kabel bawah laut IRU dan membantu modal kerja anak usaha.
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk merupakan perusahaan penyedia layanan business to business (B2B) yang berfokus melayani perusahaan Internet Service Provider (ISP) di Indonesia.
Perseroan memiliki basis pelanggan lebih dari 100 ISP, dari total sekitar 800 ISP nasional, yang tersebar dari skala nasional hingga ISP daerah.
Layanan INET mencakup pusat data interkoneksi, kolokasi, local loop/local access, serta IP Transit (NAP) bekerja sama dengan mitra strategis. Hingga saat ini, Perseroan telah mengoperasikan 13 Point of Presence (POP) di delapan kota besar di Indonesia serta satu POP di Singapura, yang berfungsi sebagai titik layanan jaringan, bukan kantor cabang operasional.
Kinerja Saham Perusahaan
Saham INET saat ini diperdagangkan di level 750. Dalam jangka pendek, saham mengalami koreksi 5,06% dalam satu minggu terakhir, namun secara bulanan melonjak 38,89%.
Kenaikan semakin tajam dalam jangka menengah dengan lonjakan 215,13% dalam tiga bulan terakhir. Secara tahunan, saham INET mencatatkan kenaikan spektakuler hingga 1.193,10%, sementara dalam tiga tahun terakhir naik 642,57%, mencerminkan euforia pasar terhadap prospek pertumbuhan bisnis Perseroan.
Jika dilihat dari luar, pemberian hak INET kali ini tampaknya sangat agresif. Namun, menariknya adalah bahwa sebagian besar dana dialokasikan untuk ekspansi jaringan FTTH berkecepatan tinggi berbasis Wi-Fi 7 dengan target pelanggan yang signifikan.
Jika ekspansi ini berhasil, INET dapat berubah dari pemain backbone B2B menjadi salah satu pilar infrastruktur internet last-mile nasional.
Tetapi investor juga harus memperhatikan risiko dilusi yang sangat besar dari bisnis ini.
Pemegang saham lama harus menebus HMETD jika mereka tidak ingin kehilangan banyak saham mereka karena penerbitan saham baru mencapai 57,14% dari modal setelah penjualan kiri.
Dengan kenaikan harga saham yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, valuasi INET sekarang berada di tingkat yang membutuhkan kinerja operasional yang kuat di masa depan. (Adi Prasetya Teguh/Yes Invest)
