Home - Internasional - Drone Ukraina Hantam Kapal Tanker Rusia di Laut Mediterania, Putin Ancam Balas Serangan

Drone Ukraina Hantam Kapal Tanker Rusia di Laut Mediterania, Putin Ancam Balas Serangan

Drone Ukraina menghantam kapal tanker minyak Rusia di Laut Mediterania dalam operasi jarak jauh yang memicu peringatan balasan keras dari Presiden Vladimir Putin.

Jumat, 19 Desember 2025 - 23:41 WIB
Drone Ukraina Hantam Kapal Tanker Rusia di Laut Mediterania, Putin Ancam Balas Serangan
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan akan membalas serangan Ukraina terhadap kapal tanker Rusia di Laut Mediterania dengan tindakan yang lebih keras. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM – Drone militer Ukraina dilaporkan menghantam kapal tanker minyak Rusia di Laut Mediterania. Serangan jarak jauh ini menjadi operasi khusus paling berani yang dilakukan lebih dari 2.000 kilometer dari wilayah Ukraina.

Menurut Dinas Keamanan Ukraina (SBU), unit elit Alpha melancarkan serangan terhadap kapal tanker Qendil, yang disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Rusia. Kapal tersebut diserang di perairan netral Laut Mediterania dan dalam keadaan kosong tanpa muatan minyak, sehingga tidak menimbulkan risiko lingkungan.

“Rusia menggunakan kapal tanker ini untuk menghindari sanksi dan memperoleh dana untuk perang melawan Ukraina. Dari sisi hukum internasional, target ini sah,” ujar sumber di SBU seperti dilansir Sky News, Jumat (19/12/2025).

SBU menegaskan bahwa operasi tersebut adalah pesan tegas bagi Moskow. “Musuh harus memahami bahwa Ukraina tidak akan berhenti dan akan menyerang di mana pun ia berada,” lanjut sumber tersebut.

Dalam pernyataan resminya, SBU menyebut kapal tanker Qendil mengalami kerusakan kritis akibat serangan drone udara tersebut.

Putin Peringatkan Balasan Keras

Menanggapi serangan itu, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa Moskow akan “selalu membalas” setiap serangan terhadap aset negaranya. Namun ia menegaskan, insiden ini tidak memengaruhi pasokan energi Rusia.

“Serangan seperti ini hanya akan menciptakan ancaman tambahan. Rusia akan merespons dengan serangan yang jauh lebih kuat,” ujar Putin dalam konferensi pers di Moskow.

Putin juga menyinggung situasi politik di Ukraina, dengan mengatakan bahwa Rusia dapat mempertimbangkan penghentian serangan apabila Kyiv mengadakan pemilihan umum, sesuatu yang menurut konstitusi Ukraina tidak dimungkinkan selama masa perang. Ia juga menegaskan bahwa warga Ukraina di Rusia harus diizinkan ikut memberikan suara.

Kyiv menolak usulan tersebut dan menilai Rusia dapat dengan mudah mengacaukan pemilu di tengah perang. Pemerintah Ukraina menegaskan bahwa keamanan nasional dan keselamatan warga masih menjadi prioritas utama.

Trump Klaim Negosiasi Damai “Mendekati Titik Terang”

Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina “hampir mencapai titik terang.”

Dua utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan akan bertemu dengan delegasi Rusia di Miami akhir pekan ini, setelah sebelumnya berdiskusi dengan perwakilan Ukraina di Berlin. Trump optimistis bahwa kedua pihak “tidak lagi terlalu jauh berbeda,” meski perdebatan mengenai penguasaan wilayah masih menjadi hambatan utama.

“Saya harap Ukraina bergerak cepat karena Rusia sudah di sana. Setiap kali mereka menunda, posisi Rusia akan berubah,” ujar Trump. “Ada kemungkinan kita bisa menyelesaikan ini, mungkin segera.” (ren)