Home - Ekonomi & Bisnis - Dolar AS Melemah Tajam ke Level Terendah dalam Empat Tahun

Dolar AS Melemah Tajam ke Level Terendah dalam Empat Tahun

Dolar AS melemah ke level terendah dalam empat tahun setelah pernyataan Presiden Trump memicu aksi jual global. Euro, pound, dan yen menguat, IHSG berpotensi terdampak.

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:30 WIB
Dolar AS Melemah Tajam ke Level Terendah dalam Empat Tahun
ilustrasi Dolar AS (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Pada perdagangan akhir Januari 2026, indeks dolar AS (DXY) mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir.

Pelemahan ini datang setelah pernyataan Presiden Donald Trump yang memicu aksi jual di pasar valuta asing. Euro, pound sterling, dan yen Jepang mengalami penguatan tajam, sementara dolar AS tertekan terhadap sejumlah mata uang utama. Spesifik, yen meningkat sebagai akibat dari spekulasi bahwa otoritas Jepang akan mengambil tindakan untuk mendukung nilai tukar domestik mereka.

Penurunan dolar ini adalah tanggapan pasar terhadap pernyataan Trump yang dianggap menurunkan kepercayaan terhadap kekuatan dolar AS.

Sebagai tanggapan, investor di seluruh dunia beralih dari dolar ke mata uang lain yang dianggap lebih stabil atau menawarkan yield yang lebih tinggi.

Seiring dengan optimisme terhadap prospek ekonomi Eropa, euro berhasil kembali ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, pound Inggris juga menguat. Dengan indikasi bahwa Bank of Japan (BOJ) mungkin melakukan tindakan untuk mencegah apresiasi yang berlebihan yang dapat merugikan eksportir, yen menjadi perhatian utama di Asia.

Kondisi ini menunjukkan pasar valuta asing yang sangat tidak stabil, di mana sentimen risiko global sangat penting. Pelemahan dolar biasanya merupakan tanda pergeseran aliran modal, di mana aset berdenominasi dolar menjadi kurang menarik dibandingkan aset berdenominasi asing lainnya.

Dinamika ini juga dipengaruhi oleh elemen tambahan, seperti perkiraan kebijakan moneter dari bank sentral utama, termasuk Federal Reserve. Tetapi beberapa analis berpendapat bahwa penurunan ini hanyalah sementara, dan jika data ekonomi AS menunjukkan ketahanan, penurunan ini dapat kembali.

Pergerakan ini menandai periode ketidakpastian bagi dolar AS, dan pernyataan Trump dan spekulasi intervensi di Jepang memicu aksi jual mata uang pesaing seperti euro, pound, dan yen.

Pelemahan dolar AS ini cenderung memberikan dorongan positif bagi sektor ekspor di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral komoditas dan manufaktur berorientasi luar negeri berpotensi mengalami penguatan akibat daya saing harga yang meningkat dan pendapatan ekspor yang lebih tinggi dalam rupiah.

Namun, sektor impor bergantung seperti ritel barang konsumsi dan industri bahan baku mungkin menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi, sementara secara agregat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa merespons dengan volatilitas optimistis dari arus modal asing yang mencari yield lebih tinggi di emerging markets, mendorong investor untuk meningkatkan eksposur pada subsektor yang resilien terhadap fluktuasi mata uang global.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)