Doa dari Tol Krapyak: Malam Terakhir Bus Cahaya Trans dan Nyawa yang Tersisa
Malam itu seharusnya hanya menjadi perjalanan pulang biasa. Namun di tengah gelapnya tol Krapyak, Semarang, suara jeritan dan kaca pecah mengubah perjalanan 34 penumpang bus Cahaya Trans menjadi tragedi yang menelan 15 nyawa, meninggalkan duka dan doa yang menggantung di udara dini hari.

HALLONEWS.COM-Bus PO Cahaya Trans dengan nomor polisi B 7201 IV berangkat dari Jatiasih, Jakarta, menuju Yogyakarta pada Minggu (21/12/2025) malam. Sebagian besar penumpangnya adalah keluarga kecil, mahasiswa, dan pekerja rantau yang ingin pulang untuk libur Natal.
Sekitar pukul 00.30 WIB, di ruas simpang susun exit tol Krapyak, bus itu melaju kencang. Beberapa penumpang sempat terbangun karena hentakan keras.
“Busnya seperti oleng, saya sempat berdoa dalam hati,” tutur Dewi Astuti (28), korban selamat asal Sleman, yang kini dirawat di RSUP dr. Kariadi Semarang dengan luka di tangan dan bahu.
Sesaat kemudian, suara benturan keras memecah sunyi malam. Bus menghantam pembatas jalan, berputar, lalu terguling. Dalam hitungan detik, canda dan tawa di dalam kabin berganti menjadi tangis, doa, dan teriakan minta tolong.
“Saya dengar seseorang memanggil anaknya. Tapi setelah itu… hening,” ujar Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Di Posko Siaga SAR Khusus Nataru Kalikangkung, sinyal darurat masuk melalui radio komunikasi. Tanpa banyak bicara, tim Basarnas Semarang langsung meluncur ke lokasi.
“Kami tahu, setiap menit sangat berharga,” kata Budiono, Kepala Kantor SAR Semarang.
Bus yang terguling sulit dijangkau. Beberapa penumpang masih terjepit di antara kursi dan besi yang melengkung. Petugas menggunakan alat hidrolik dan gergaji logam untuk membuka jalur.
“Suasananya gelap, penuh pecahan kaca. Kami harus masuk satu per satu ke dalam bus,” ujar Budiono.
Proses evakuasi berlangsung selama hampir tiga setengah jam, penuh ketegangan dan keharuan.
“Begitu kami menemukan korban masih bernapas, itu seperti menemukan cahaya kecil di tengah kegelapan,” katanya lirih.
Namun di setiap tarikan tubuh tanpa nyawa, suasana kembali senyap. Para petugas hanya menunduk, seolah tak tega menatap hasil akhir yang sudah ditentukan.
Sekitar pukul 04.00 WIB, operasi evakuasi dinyatakan selesai. Dari total 34 penumpang, 15 orang meninggal dunia, dan 19 lainnya mengalami luka-luka. Para korban selamat segera dilarikan ke rumah sakit terdekat: RSUP dr. Kariadi, RS Columbia Asia, dan RSUD dr. Adhyatma MPH (RS Tugu).
Di ruang IGD RS Kariadi, daftar nama korban ditempel di dinding kaca. Beberapa keluarga yang datang dari luar kota menatapnya dengan air mata berlinang.
Ada yang bersyukur menemukan nama orang yang dicari di daftar “korban selamat”, namun tak sedikit yang harus memeluk kenyataan pahit di kolom “meninggal dunia”.
Di RS Tugu, seorang perawat menuturkan kisah yang membuat semua yang mendengarnya tercekat.
“Ada ayah yang kehilangan dua anak sekaligus. Saat kami kabari, dia cuma bilang pelan: ‘Yang penting mereka pulang bareng…’”Usai evakuasi, sebagian petugas duduk di pinggir jalan, menatap bangkai bus yang remuk.
“Setiap kali kami selesai tugas seperti ini, ada perasaan berat yang sulit dijelaskan,” ujar Arif Nugraha, anggota tim SAR gabungan.
Ia masih mengingat wajah seorang anak kecil berusia delapan tahun yang berhasil diangkatnya dari reruntuhan kursi bus.
“Saya kira dia masih hidup… tapi di ambulans, dia pergi. Saya cuma bisa diam.”
Budiono menambahkan, meski mereka dilatih untuk siap dalam kondisi apapun, menyelamatkan dan kehilangan nyawa di saat bersamaan tetap meninggalkan luka batin.
“Kami terbiasa bekerja di bencana, tapi setiap kecelakaan seperti ini terasa sangat manusiawi, karena di dalamnya ada kisah keluarga, harapan, dan cita-cita yang tiba-tiba berhenti.”
Pagi mulai terang. Jalan tol Krapyak kembali lengang. Hanya bercak minyak dan puing-puing bus yang tersisa.
Dewi, yang selamat dari maut, kini hanya ingin pulang dan memeluk ibunya di Sleman.
“Saya masih bisa bernapas. Mungkin karena Tuhan ingin saya belajar bersyukur,” katanya dengan suara pelan.
Bagi Budiono dan tim SAR, malam itu menjadi pengingat abadi bahwa di balik setiap kemudi, ada kehidupan yang menunggu untuk pulang.
“Kalau lelah, istirahatlah. Karena satu detik saja bisa mengubah segalanya,” ujarnya, menatap langit pagi yang mulai berwarna jingga. (ren)
