Di Tengah Bencana, Menag Ungkap Pesan Isra Mikraj: Saatnya Manusia Berdamai dengan Alam
Di tengah bencana alam, Menag Nasaruddin menegaskan Isra Mikraj sebagai momentum refleksi iman, kepedulian lingkungan, dan toleransi.

HALLONEWS.COM – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tingkat nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (15/1) malam, digelar di tengah suasana keprihatinan akibat rangkaian bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut kondisi tersebut sebagai ujian yang harus dimaknai secara lebih dalam, bukan hanya sebagai cobaan, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial melalui pendekatan ekoteologi.
“Ini adalah ujian. Di mana ada ujian, di situ ada kenaikan kelas. Allah sedang menaikkan kelas masyarakat kita,” ujar Nasaruddin dalam sambutannya dikutip Hallonews, Jumat (16/1/2026).
Menurut Nasaruddin, peringatan Isra Mikraj tidak seharusnya berhenti pada seremoni keagamaan tahunan. Momentum ini, kata dia, perlu dimanfaatkan untuk menguatkan kesadaran umat tentang hubungan antara kesalehan spiritual dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Tema ekoteologi dinilai relevan dengan kondisi saat ini, krisis lingkungan dan bencana alam kerap terjadi. Menag menekankan kerusakan alam tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia, sehingga refleksi keagamaan harus berdampak pada cara manusia memperlakukan bumi.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, yang tampil sebagai penceramah utama. Hanif menegaskan bahwa ajaran Islam memiliki keterkaitan kuat dengan prinsip kelestarian lingkungan.
“Keberkahan dalam Al-Qur’an bukan hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga ekologis-tanah yang subur, air yang terjaga, dan kehidupan yang berkelanjutan,” kata Hanif.
Ia menambahkan, tempat-tempat suci dalam Islam selalu berkaitan dengan lingkungan yang terpelihara. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kesucian spiritual tidak dapat dipisahkan dari keseimbangan alam.
Hanif juga mengajak jemaah meneladani peristiwa Mikraj, ketika Rasulullah SAW menyaksikan keteraturan tatanan langit. “Setiap lapisan memiliki fungsi dan keseimbangannya masing-masing. Alam semesta berjalan dengan hukum ketertiban ilahi,” ujarnya.
Selain isu lingkungan, Nasaruddin juga menyinggung pentingnya toleransi dalam kehidupan berbangsa. Ia menegaskan toleransi bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan menjaga kedekatan dan kerja sama di tengah keberagaman.
“Toleransi itu bukan menyamakan semua hal. Biarkan yang berbeda tetap berbeda, asalkan perbedaan itu tidak membuat kita berjarak,” kata Nasaruddin.
Ia berharap nilai-nilai yang dipetik dari peringatan Isra Mikraj tahun ini dapat menjadi penguat solidaritas sosial dan kesadaran kolektif untuk bangkit bersama menghadapi berbagai ujian. (dul)
