Demonstran Iran Dieksekusi Hari Ini, Trump Ancam Pemerintah Iran
Seorang demonstran Iran, Erfan Soltani, dijadwalkan dieksekusi hari ini. Presiden AS Donald Trump mengancam pemerintah Iran dan menyerukan dukungan bagi demonstran.

HALLONEWS.COM-Seorang demonstran Iran berusia 26 tahun dijadwalkan dieksekusi hari ini oleh otoritas Iran karena keterlibatannya dalam gelombang protes antipemerintah yang melanda negara itu sejak akhir Desember 2025. Eksekusi ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional, termasuk ancaman terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada pemerintah Iran.
Kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia melaporkan demonstran tersebut bernama Erfan Soltani, warga Fardis di dekat Teheran. Ia ditangkap setelah mengikuti aksi protes di wilayah Karaj.
“Hukuman mati terhadap Erfan Soltani dijadwalkan akan dilaksanakan hari ini. Keluarga telah diberi tahu mengenai rencana eksekusi, namun secara sengaja tidak diberikan informasi lengkap mengenai proses peradilan yang dijalani,” kata Hengaw dalam pernyataan tertulisnya seperti dikutip dari Sky News, Rabu (14/1/2026).
Hengaw menilai proses hukum yang berlangsung cepat dan tertutup tersebut memicu kekhawatiran serius. “Penanganan kasus yang tidak transparan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa hukuman mati digunakan sebagai alat untuk menekan protes publik,” kata Hengaw.
Trump: Bantuan “Sedang dalam Perjalanan”
Di Washington, Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan dukungan terbuka kepada para demonstran Iran. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyerukan agar rakyat Iran “terus berdemonstrasi.”
“Teruslah berunjuk rasa. Bantuan sedang dalam perjalanan,” kata Trump, tanpa merinci bentuk bantuan yang dimaksud.
Trump juga menyatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran selama kekerasan terhadap demonstran masih berlangsung. Ia melontarkan peringatan keras kepada otoritas Iran.
“Para pembunuh dan pelaku kekerasan akan membayar harga yang sangat mahal,” kata Trump.
Dalam wawancara terpisah, Trump menegaskan Amerika Serikat siap mengambil langkah lebih jauh. “Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika pemerintah Iran tetap menggantung para demonstran,” kata Trump.
Gelombang Protes dan Korban yang Terus Bertambah
Gelombang protes di Iran bermula dari memburuknya kondisi ekonomi, termasuk anjloknya nilai mata uang nasional, sebelum berkembang menjadi gerakan nasional yang menentang kebijakan pemerintah.
Data organisasi pemantau hak asasi manusia menunjukkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap sejak demonstrasi meluas. Kondisi ini menjadikan krisis Iran sebagai salah satu yang paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir.
Reaksi Internasional Menguat
Penjadwalan eksekusi dan tindakan keras terhadap demonstran memicu kecaman luas dari komunitas internasional.
Pemerintah Amerika Serikat meminta warganya segera meninggalkan Iran. “Keselamatan warga negara kami adalah prioritas utama,” kata pernyataan resmi pemerintah AS.
Sejumlah negara Eropa juga memanggil perwakilan diplomatik Iran sebagai bentuk protes. Sementara itu, Rusia memperingatkan dampak campur tangan luar.
“Intervensi eksternal dapat membawa konsekuensi buruk bagi stabilitas kawasan,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataan resminya.
Para analis menilai situasi ini sebagai ujian tekanan paling berat bagi pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pemimpin dunia mengecam penggunaan kekuatan berlebihan serta hukuman mati terhadap demonstran sebagai pelanggaran serius hak asasi manusia. (ren)
