Home - Nasional - Dari Balik Lapas, Karya Musik Jadi Jalan Pembinaan dan Harapan Baru

Dari Balik Lapas, Karya Musik Jadi Jalan Pembinaan dan Harapan Baru

Ditjenpas meluncurkan lagu “Sabar-Sabar Ade” hasil kolaborasi warga binaan Lapas Gunung Sindur dan Lapas Tangerang sebagai bagian dari pembinaan kreatif dan kemandirian.

Kamis, 22 Januari 2026 - 10:04 WIB
Dari Balik Lapas, Karya Musik Jadi Jalan Pembinaan dan Harapan Baru
Direktur Teknologi dan Kerja Sama Ditjenpas, Maullidi Hilak, bersama Kepala Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Wahyu Indarto, meluncurkan lagu “Sabar-Sabar Ade” di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Rabu (21/1/2026). Foto/Humas Ditjenpas for Hallonews.com

HALLONEWS.COM — Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) terus mengembangkan program pembinaan warga binaan melalui pendekatan kreatif. Salah satunya diwujudkan lewat kolaborasi musik antara Zul Zivilia, warga binaan Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, dan Putri Ajeng, warga binaan Lapas Kelas IIA Tangerang yang juga merupakan mantan personel grup musik 7Icons.

Kolaborasi tersebut melahirkan lagu berjudul “Sabar-Sabar Ade” yang resmi diluncurkan di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Rabu (21/1/2026).

Peluncuran lagu ini menjadi bukti bahwa program pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pada pengembangan bakat, kreativitas, serta potensi ekonomi kreatif warga binaan.

Direktur Teknologi dan Kerja Sama Ditjenpas, Maullidi Hilak, menyampaikan bahwa setiap warga binaan memiliki hak untuk mengembangkan kemampuan diri selama menjalani masa pembinaan.

“Pembinaan diarahkan agar warga binaan memiliki bekal keterampilan dan kemandirian ketika kembali ke masyarakat. Pengembangan seni dan industri kreatif menjadi salah satu jalur penting agar mereka mampu bangkit dan berkontribusi secara positif,” ujar Maullidi saat menghadiri peluncuran lagu tersebut.

Ia menegaskan, kesempatan berkarya tidak hanya diberikan kepada Zul Zivilia, tetapi juga terbuka bagi seluruh warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan yang memiliki potensi serupa. Menurutnya, di sejumlah daerah telah lahir kelompok seni dan musik dari dalam lapas yang terus didorong untuk berkembang.

Lagu “Sabar-Sabar Ade” mengisahkan perjuangan sepasang kekasih yang harus menunda pernikahan dan belajar bersabar demi masa depan yang lebih baik. Proses produksinya dilakukan di studio musik Lapas Khusus Gunung Sindur dengan metode rekaman hybrid antarlapas, tetap mengedepankan aspek keamanan.

WhatsApp Image 2026 01 22 at 09.11.17
Direktur Teknologi dan Kerja Sama Ditjenpas, Maullidi Hilak, bersama Kepala Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Wahyu Indarto, meluncurkan lagu “Sabar-Sabar Ade” di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Rabu (21/1/2026). Foto/Humas Ditjenpas for Hallonews.com

Kepala Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Wahyu Indarto, memastikan seluruh proses pembuatan karya berjalan sesuai prosedur pengamanan.

“Kami memfasilitasi warga binaan untuk berkarya dengan memanfaatkan sarana yang ada, termasuk studio musik. Seluruh tahapan dilakukan secara terkontrol dan aman,” jelasnya.

Pembuatan lagu ini berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026 dan menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian Ditjenpas. Wahyu menambahkan, ruang kreativitas yang diberikan bertujuan menjaga semangat berkarya warga binaan selama menjalani masa pidana.

Zul Zivilia mengaku bersyukur tetap dapat berkarya meski berada di balik tembok lapas. Menurutnya, padatnya aktivitas pembinaan justru menjadi motivasi untuk menghasilkan karya positif.

“Saya bersyukur karena pembinaan yang saya jalani melahirkan karya. Ini menjadi cara saya tetap hidup di dunia musik dan menjaga semangat untuk berubah,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Putri Ajeng yang mengaku bahagia mendapat kesempatan mengembangkan bakatnya selama menjalani pembinaan di Lapas Kelas IIA Tangerang.

Peluncuran lagu tersebut turut dihadiri Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang serta jajaran pembinaan wilayah Banten dan Jawa Barat. Ditjenpas berharap, karya ini dapat menjadi inspirasi bahwa pembinaan di lapas mampu melahirkan kreativitas, kemandirian, serta harapan baru bagi warga binaan. (gin)