Dana Buyback Astra International (ASII) Terserap Penuh Rp2 Triliun
Dana buyback saham Astra International (ASII) terserap penuh Rp2 triliun dan dihentikan lebih awal. ASII mencatat kinerja saham positif dengan tren jangka menengah naik dan dividen yield di atas 5%.

HALLONEWS.COM – PT Astra International Tbk mengumumkan bahwa rencana pembelian kembali saham Perseroan akan dihentikan lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hal ini didasarkan pada Keterbukaan Informasi Perseroan Nomor Leg/SRT-1270/AI/2025 tanggal 31 Oktober 2025 mengenai rencana pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang sangat berubah.
Rencana awal Perseroan adalah untuk melakukan pembelian kembali saham dengan dana maksimal sebesar Rp2 triliun. Jumlah saham yang dibeli kembali tidak boleh melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor, dan porsi saham bebas likuid tidak boleh melebihi 7,5 persen dari modal ditempatkan dan disetor.
Dana ini tidak termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lain yang terkait dengan pelaksanaan pembelian kembali saham.
Perseroan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan pembelian kembali saham yang semula direncanakan berakhir pada 30 Januari 2026 menjadi berakhir lebih awal, yaitu pada 13 Januari 2026 pada sesi kedua perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Penghentian ini dilakukan karena jumlah maksimum dana yang dialokasikan telah terpenuhi, di mana sisa dana yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk membeli minimal satu lot saham.
Astra International telah membeli kembali 305.213.900 lembar saham selama periode pembelian kembali saham, dengan total nilai Rp1.999.999.829.789, atau hampir sepenuhnya mengambil dana yang dialokasikan untuk program buyback.
PT Astra International Tbk didirikan di Jakarta pada tahun 1957 dan mulai beroperasi dalam berbagai bidang usaha yang sangat beragam, mulai dari perdagangan umum, industri, pertambangan, jasa keuangan, transportasi, pertanian, konstruksi, hingga jasa dan konsultasi.
Perusahaan resmi beroperasi pada tahun 1990 melalui penawaran umum perdana saham dengan kode saham ASII.
Tujuh komponen utama membentuk model bisnis Astra: otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, dan properti.
Astra menjadi salah satu grup usaha terbesar di Indonesia dan berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional dengan jaringan operasional yang luas melalui lebih dari 240 anak usaha, ventura bersama, dan entitas asosiasi.
Saham PT Astra International Tbk saat ini diperdagangkan di level 7.175. Dalam jangka pendek, saham ini mencatatkan kenaikan sebesar 2,14% dalam satu minggu terakhir dan menguat 8,71% dalam satu bulan. Secara jangka menengah, saham ASII juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 23,71% dalam tiga bulan terakhir.
Dalam horizon yang lebih panjang, saham ASII mencatatkan kenaikan sebesar 51,05% dalam satu tahun terakhir dan 32,11% dalam tiga tahun. Namun, dalam jangka lima tahun, kenaikannya relatif terbatas di kisaran 6,27%, mencerminkan karakter pergerakan saham yang cenderung stabil dan defensif.
Analisis Yes Invest
Secara teknikal, Yes Invest menilai saham ASII masih berada dalam tren jangka panjang sideways, di mana sejak 2010 pergerakan harga saham bergerak dalam rentang lebar antara area 3.220 hingga 9.350.
Pola ini menunjukkan bahwa saham ASII lebih sering bergerak dalam fase akumulasi dan distribusi dibandingkan tren naik yang agresif.
Untuk tren jangka menengah, saham ASII saat ini berada dalam fase uptrend, ditandai dengan posisi harga yang masih bertahan di atas indikator EMA 20.
Tren jangka pendek juga masih tergolong positif, meskipun indikator stochastic (5,3,3) menunjukkan saham telah memasuki area oversold, sehingga berpotensi mengalami konsolidasi atau koreksi jangka pendek.
Area resistance saham ASII berada di sekitar level 7.350, sementara area support terdekat berada di kisaran 6.825. Pergerakan harga di antara area tersebut akan menjadi penentu arah lanjutan dalam jangka pendek.
Dari sisi fundamental, pendapatan Astra International tercatat terus meningkat dari tahun 2023 hingga 2025. Namun, terdapat catatan penting di mana laba Perseroan pada tahun 2025 mengalami penurunan pada kuartal ketiga, yang perlu dicermati oleh investor sebagai sinyal perlambatan profitabilitas jangka pendek.
Meski demikian, saham ASII tetap menarik bagi investor berorientasi pendapatan karena dividen yield tahunan telah berada di atas 5% secara konsisten selama empat tahun terakhir, mencerminkan karakter saham defensif dengan arus kas yang relatif stabil. (Adi Prasetya Teguh/Yes Invest)
