CSIS: Rusia Kehilangan 1,2 Juta Personel di Ukraina, Rekor Terburuk sejak Perang Dunia II
Laporan CSIS mengungkap Rusia kehilangan hampir 1,2 juta personel dalam perang di Ukraina. Kerugian ini menjadi yang terburuk bagi kekuatan besar mana pun sejak Perang Dunia II.

HALLONEWS.COM-Rusia dilaporkan telah kehilangan hampir 1,2 juta personel dalam perang habis-habisan melawan Ukraina sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022. Angka tersebut menjadikan konflik ini sebagai perang paling mematikan bagi kekuatan besar mana pun sejak Perang Dunia II, menurut laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Dalam laporannya, CSIS menyebut Moskow telah membayar “harga yang luar biasa mahal untuk keuntungan yang sangat minimal” di medan perang. Jumlah korban tersebut mencakup tentara yang tewas, terluka, maupun dinyatakan hilang selama hampir empat tahun konflik berlangsung.
Dari total tersebut, sekitar 325.000 tentara Rusia diperkirakan tewas, sementara ratusan ribu lainnya mengalami luka berat atau hilang. CSIS mencatat, jumlah korban ini setara dengan populasi sebuah kota besar di Eropa seperti Brussel.
“Tidak ada kekuatan besar yang menderita korban jiwa atau kematian mendekati angka ini dalam perang apa pun sejak Perang Dunia II,” tulis CSIS dalam laporannya seperti dikutip Rabu (28/1/2026).
Sebagai pembanding, CSIS menyoroti bahwa kerugian militer Amerika Serikat dalam konflik modern jauh lebih kecil. AS kehilangan sekitar 54.487 personel dalam Perang Korea dan 47.434 dalam Perang Vietnam.
Dalam operasi militer yang lebih baru, angka korban bahkan lebih rendah, yakni 149 kematian dalam Perang Teluk 1990–1991, 2.465 kematian di Afghanistan selama Operasi Enduring Freedom dan Freedom’s Sentinel, serta 4.432 kematian di Irak selama Operasi Iraqi Freedom.
Perbandingan ini menegaskan bahwa perang di Ukraina telah menjadi konflik dengan tingkat korban tertinggi bagi negara adidaya di era modern.
Meski menelan korban jiwa dalam jumlah masif, CSIS mencatat bahwa kemajuan militer Rusia di lapangan sangat terbatas. Pasukan Rusia disebut bergerak dengan kecepatan yang sangat lambat, bahkan dalam operasi ofensif besar.
Dalam pertempuran di wilayah Pokrovsk, pasukan Rusia hanya mampu maju dengan rata-rata sekitar 70 meter per hari.
“Laju ini lebih lambat dibandingkan kampanye ofensif paling brutal dalam satu abad terakhir, termasuk Pertempuran Somme pada Perang Dunia I,” tulis CSIS.
Sejak awal 2024, Rusia diperkirakan hanya berhasil menguasai kurang dari 1,5 persen wilayah Ukraina, meskipun mengerahkan sumber daya militer dan personel dalam skala besar.
Dampak Ekonomi yang Menggerus
CSIS juga menilai perang berkepanjangan ini telah memberikan pukulan berat bagi perekonomian Rusia. Tekanan biaya perang, sanksi internasional, serta hilangnya tenaga produktif dinilai menggerus kekuatan ekonomi Moskow.
Dalam laporan tersebut, Rusia disebut berisiko turun menjadi “kekuatan ekonomi kelas dua atau tiga”, seiring meningkatnya beban fiskal dan melemahnya daya saing industri nasional akibat perang.
Kyiv Klaim Kerugian Rusia Terus Naik
Ukraina menyatakan akan terus meningkatkan tekanan terhadap Rusia. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa tingkat kematian tentara Rusia meningkat tajam pada akhir tahun lalu.
Menurut Zelenskyy, pada Desember terakhir Rusia kehilangan sekitar 35.000 tentara per bulan, atau setara dengan sekitar 48 orang per jam. Angka ini melonjak tajam dibandingkan Desember tahun sebelumnya, yang berada di kisaran 14.000 tentara tewas per bulan.
Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov menambahkan bahwa klaim kerugian tersebut telah diverifikasi melalui dokumentasi visual.
“Semua kerugian ini telah diverifikasi melalui video,” ujarnya.
Fedorov bahkan menyebut angka 50.000 korban tewas per bulan sebagai tujuan strategis Ukraina.
“Mereka memandang manusia sebagai sumber daya. Jika kita mencapai angka itu, kita akan melihat apa yang terjadi pada musuh. Tanda-tanda kekurangan sudah mulai terlihat,” katanya.
Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa Rusia saat ini mengerahkan sekitar 40.000 hingga 43.000 pasukan baru setiap bulan ke medan perang. Hingga kini, baik Moskow maupun Kyiv tidak mempublikasikan angka resmi korban mereka secara terbuka. (ren)
