China Kuasai 80% Pasar Robot Humanoid Dunia, Tesla Sudah Jauh Tertinggal
China menguasai lebih dari 80% pasar robot humanoid global pada 2025. AgiBot dan Unitree memimpin, sementara Tesla tertinggal. Pasar diprediksi melonjak enam kali lipat pada 2027.

HALLONEWS.COM – China kian mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan utama dalam industri robot humanoid global.
Laporan terbaru Counterpoint Research mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen instalasi robot humanoid dunia pada 2025 berasal dari China, didorong oleh laju komersialisasi agresif dan dukungan kuat pemerintah.
Sepanjang 2025, tercatat sekitar 16.000 unit robot humanoid dipasang secara global. Sebagian besar digunakan untuk pengumpulan data dan penelitian, serta diterapkan di sektor logistik, manufaktur, dan otomotif.
Dua startup domestik, AgiBot yang berbasis di Shanghai dan Unitree Robotics dari Hangzhou, menjadi motor utama dominasi tersebut.
AgiBot memimpin pasar global dengan pangsa instalasi 30,4 persen, disusul Unitree dengan 26,4 persen. Keunggulan AgiBot terletak pada ragam produk dan strategi sumber terbuka yang mempercepat adopsi lintas industri, sementara Unitree dikenal unggul dalam kontrol gerak dinamis dan keseimbangan robot.
Produsen China lainnya, UBTech Robotics dan Leju Robotics dari Shenzhen, masing-masing menempati posisi ketiga dan keempat dengan pangsa pasar 5,2 persen dan 4,9 persen.
Sementara itu, Tesla milik Elon Musk berada di peringkat kelima dengan 4,7 persen, meski terus meningkatkan produksi robot Optimus Gen 2 dan Gen 2.5.
Counterpoint memproyeksikan pasar robot humanoid akan melonjak lebih dari enam kali lipat menjadi di atas 100.000 unit pada 2027.
Sekitar 72 persen instalasi diperkirakan berasal dari sektor logistik, manufaktur, dan otomotif, menandakan pergeseran dari tahap eksperimen menuju penerapan industri skala besar.
“Dua tahun ke depan akan menjadi periode krusial. Performa robot produksi massal akan menentukan arah perkembangan industri humanoid secara global,” tulis Counterpoint seperti dikutip South China Morning, Jumat (16/1/2026).
Selain sektor industri, sejumlah perusahaan China mulai menyasar pasar rumah tangga dengan robot yang lebih terjangkau dan berfokus pada interaksi manusia.
Model bisnis penyewaan robot, yang dipelopori AgiBot dan Unitree, juga kian populer karena menekan biaya kepemilikan dan memperluas penggunaan, termasuk untuk pertunjukan langsung.
Meski berkembang pesat, pemerintah China melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional sempat memperingatkan risiko duplikasi berlebihan akibat membludaknya pemain di sektor ini.
Namun, kolaborasi erat antara perusahaan robotika dan industri manufaktur dinilai mampu menjaga pertumbuhan tetap berkelanjutan.(wib)
