Capai Rekor Tertinggi, Harga Tembaga Dunia Tembus US$13.000 per Ton
Harga tembaga dunia mencetak rekor tertinggi awal 2026 dengan menembus US$13.000 per ton di LME, dipicu gangguan pasokan global dan lonjakan permintaan AS untuk energi terbarukan, kendaraan listrik, serta infrastruktur listrik.

HALLONEWS.COM – Harga tembaga di pasar komoditas internasional internasional telah menembus level rekor sepanjang sejarah pada awal Januari 2026, dengan nilai mencapai lebih dari US$13.000 per ton untuk pertama kalinya.
Pada perdagangan di Bursa Logam London (LME), harga tembaga berhasil melampaui ambang batas tersebut, didorong oleh kombinasi ketatnya pasokan global dan lonjakan permintaan dari negara-negara konsumen utama.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif sepanjang tahun sebelumnya, di mana harga tembaga telah mengalami apresiasi signifikan akibat faktor struktural di sektor energi dan teknologi.
Salah satu penyebab utama adalah gangguan operasi di tambang baru di Indonesia, yang mengakibatkan penurunan volume pasokan ke pasar global. Indonesia, yang merupakan salah satu produsen tembaga terbesar, menghadapi masalah dalam produksi, yang berdampak pada ketersediaan umum konsentrat tembaga.
Gangguan pasokan lain, seperti pemogokan di tambang Monteverde di Chile, meningkatkan kekhawatiran di pasar. Banjir bawah tanah di Republik Demokratik Kongo juga memperburuk keadaan pasar yang sudah buruk selama bertahun-tahun karena kurangnya investasi tambang baru.
Hal ini memperburuk kondisi defisit pasokan yang telah berlangsung, di mana proyeksi analis menunjukkan kekurangan ratusan ribu ton pada tahun berjalan.
Sementara itu, permintaan dari Amerika Serikat meningkat tajam, didorong oleh kebutuhan masif untuk infrastruktur listrik, kendaraan listrik, pusat data, dan proyek energi terbarukan. Kebijakan impor agresif AS untuk mengamankan pasokan mineral kritis turut memperkuat tekanan harga ke atas.
Dinamika ini tidak terlepas dari konteks ekonomi makro yang lebih luas. Pelemahan dolar AS relatif terhadap mata uang utama lainnya membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global sebagai aset lindung nilai.
Selain itu, ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi di negara-negara berkembang dan ekspansi manufaktur di Asia semakin mendukung konsumsi tembaga. Harga tembaga yang tinggi ini juga mencerminkan peran strategis logam tersebut dalam transisi energi hijau, di mana setiap gigawatt kapasitas tenaga surya atau angin memerlukan volume tembaga yang substansial untuk kabel dan komponen pendukung.
Para pelaku pasar memperkirakan bahwa tren ini akan bertahan dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, mereka memiliki risiko berubah jika gangguan pasokan diperbaiki atau permintaan melambat karena faktor eksternal seperti suku bunga global.
Fundamentalnya tetap kuat, dan tembaga adalah komoditas penting dalam era digitalisasi dan elektrifikasi. Peningkatan harga ini memberi produsen kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, sementara konsumen hilir menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi melalui hedging atau inovasi efisiensi.
Secara keseluruhan, pencapaian rekor harga tembaga di atas US$13.000 per ton ini menandai milestone penting di pasar komoditas, didorong oleh gangguan pasokan dari tambang baru di Indonesia serta permintaan impor yang tinggi dari AS, dengan implikasi luas bagi rantai pasok global energi dan teknologi.
Rekor harga tembaga ini cenderung memberikan dorongan signifikan bagi sektor pertambangan logam dasar di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral komoditas berpotensi mengalami penguatan substansial akibat peningkatan nilai ekspor dan margin laba produsen domestik.
Namun, sektor manufaktur hilir seperti kabel, elektronik, dan konstruksi mungkin menghadapi tekanan biaya bahan baku yang lebih tinggi, sehingga mempengaruhi daya saing produk akhir. (Handek Putera/Yes Invest)
