Home - Ekonomi & Bisnis - Buyback Besar TOBA: Strategi Jangka Pendek atau Sinyal Kepercayaan Manajemen?

Buyback Besar TOBA: Strategi Jangka Pendek atau Sinyal Kepercayaan Manajemen?

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) umumkan buyback saham hingga 10% saham beredar di tengah tekanan harga. Langkah ini dinilai sebagai upaya stabilisasi pasar karena kinerja keuangan masih rugi.

Jumat, 26 Desember 2025 - 14:22 WIB
Buyback Besar TOBA: Strategi Jangka Pendek atau Sinyal Kepercayaan Manajemen?
ilustrasi kegiatan usaha PT TOBA di bidang energi. (Dok TOBA)

HALLONEWS.COM – Rencana pembelian kembali saham yang telah diterbitkan dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia telah diumumkan oleh PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Perencanaan perusahaan adalah untuk membeli kembali sebanyak 825.740.293 lembar saham, atau 10% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan total nilai maksimal sekitar Rp586,28 miliar.

Target pelaksanaan buyback adalah dari 24 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026. Nilai perkiraan dana yang diperlukan untuk buyback dihitung berdasarkan harga penutupan saham TOBA pada 23 Desember 2025 sebesar Rp710 per saham. Nilai ini juga mencakup semua biaya transaksi, biaya perantara, dan biaya lainnya yang terkait dengan pelaksanaan buyback.

Menurut manajemen, seluruh dana buyback akan berasal dari saldo kas internal perusahaan. Menurut mereka, hal ini tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.

Selain itu, perusahaan menyatakan bahwa mereka siap untuk mengubah alokasi dana jika harga saham berubah saat pelaksanaan, dengan mempertimbangkan ketentuan UUPT dan POJK yang berlaku.

Menurut evaluasi manajemen TOBA, kondisi pasar modal yang sangat berubah telah menyebabkan harga saham perusahaan belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental yang sebenarnya.

Namun, kinerja operasional dan posisi kas perusahaan dianggap stabil dan sehat. Ada harapan bahwa buyback ini akan mempertahankan kepercayaan investor, menstabilkan harga saham, dan meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang.

Kinerja Saham TOBA

PT TBS Energi Utama Tbk merupakan perusahaan investasi yang memiliki portofolio usaha di bidang pertambangan dan perdagangan batubara, perkebunan kelapa sawit, serta pengembangan usaha sebagai produsen pembangkit listrik mandiri (IPP).

Selain itu, Perseroan juga aktif melakukan investasi di sektor energi terbarukan dan perdagangan besar maupun eceran kendaraan melalui entitas anak, sejalan dengan strategi transisi energi jangka panjang Perseroan.

Saat ini, saham TOBA diperdagangkan di level 695, dengan tekanan yang cukup besar dalam jangka pendek. Dalam satu minggu terakhir, saham turun 12,03%, sementara secara bulanan turun 18,71% dan turun tajam hingga 45,06% dalam tiga bulan terakhir.

Meski demikian, saham TOBA masih naik 75,51% dalam satu tahun, 10,32% dalam tiga tahun, dan 31,13% dalam lima tahun, menunjukkan volatilitas yang tinggi seiring waktu.

Analisis Yes Invest

Pada dasarnya, buyback saham menunjukkan bahwa manajemen menganggap harga saham saat ini cukup menarik untuk dibeli kembali oleh perusahaan.

Langkah ini juga dapat membantu mengurangi tekanan harga saham yang sedang berada dalam tren turun yang cukup dalam.

Namun, kami merasa ada beberapa hal yang cukup mengganjal. Pertama, karena TOBA masih mencatatkan kerugian hingga tahun 2025, buyback mungkin tidak lebih penting daripada meningkatkan profitabilitas. Kedua, rasio PBV TOBA masih di atas 1, yang berarti valuasi saham masih belum benar-benar murah.

Selain itu, mengingat harga saham sebelumnya, TOBA melakukan IPO pada harga Rp1.900 dan sempat melakukan split saham 1:4, yang membuat harga IPO setara berada di sekitar Rp475. Dengan harga saham saat ini, yang sekitar Rp695 , saham TOBA masih berada di atas harga IPO setelah disesuaikan.

Selama kinerja keuangan belum sepenuhnya pulih, pembelian ini tampaknya tidak menjadi kebutuhan utama sebelum perusahaan dapat menunjukkan konsistensi keuntungan.

Oleh karena itu, tindakan ini lebih tepat dianggap sebagai upaya untuk stabilisasi harga saham jangka pendek daripada sebagai katalis fundamental yang kuat. (Adi Prasetya Teguh/Yes Invest)