Home - Internasional - Bus Pekerja Tambang Diserang Drone Rusia, Belasan Tewas Jelang Negosiasi Damai Ukraina–AS–Rusia

Bus Pekerja Tambang Diserang Drone Rusia, Belasan Tewas Jelang Negosiasi Damai Ukraina–AS–Rusia

Serangan drone Rusia pada Minggu (1/2/2026) pagi menghantam bus pekerja tambang di Ukraina, menewaskan belasan orang, terjadi jelang negosiasi damai Ukraina–AS–Rusia di Abu Dhabi.

Senin, 2 Februari 2026 - 8:32 WIB
Bus Pekerja Tambang Diserang Drone Rusia, Belasan Tewas Jelang Negosiasi Damai Ukraina–AS–Rusia
Bus pekerja tambang di Dnipropetrovsk rusak parah usai diserang drone Rusia pada Minggu (1/2/2026) pagi. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Serangan pesawat tak berawak Rusia pada Minggu (1/2/2026) pagi waktu setempat menewaskan sedikitnya 12 orang setelah sebuah bus yang mengangkut pekerja tambang dihantam di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina. Insiden mematikan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pembicaraan trilateral Ukraina–Amerika Serikat–Rusia dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi.

Menurut layanan darurat Ukraina, serangan terjadi saat pagi hari ketika bus tersebut sedang membawa para pekerja pulang dari shift malam. Hantaman drone memicu kebakaran hebat di lokasi kejadian, namun api berhasil dipadamkan tak lama kemudian oleh petugas pemadam kebakaran. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan bervariasi.

Perusahaan energi DTEK memastikan seluruh korban merupakan karyawan mereka dan menyebut insiden tersebut sebagai serangan teroris yang disengaja terhadap sektor energi Ukraina.

Menteri Energi Ukraina, Denys Shmyhal, mengatakan serangan itu merupakan tindakan “sinis dan terarah” terhadap pekerja sipil yang tidak terlibat dalam aktivitas militer.

Awalnya, otoritas setempat dan pihak perusahaan melaporkan jumlah korban tewas mencapai 15 orang, sebelum kemudian direvisi menjadi sedikitnya 12 orang setelah proses verifikasi di lapangan.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam keras serangan tersebut. Dalam unggahan Telegram yang dirilis pada Minggu (1/2/2026) siang, ia menyebut serangan terhadap bus pekerja sebagai kejahatan demonstratif yang menunjukkan Rusia bertanggung jawab atas eskalasi konflik.

Gelombang serangan drone Rusia terjadi sepanjang Sabtu malam hingga Minggu dini hari, dengan angkatan udara Ukraina melaporkan sekitar 90 drone diluncurkan. Dari jumlah tersebut, sebagian berhasil menembus pertahanan udara dan menghantam sedikitnya sembilan lokasi berbeda.

Di kota Dnipro, seorang pria dan seorang perempuan dilaporkan tewas dalam serangan terpisah pada Minggu dini hari, sementara di Kherson, tembakan artileri Rusia yang terjadi pagi hari melukai seorang perempuan berusia 59 tahun dengan kondisi serius.

Serangan juga terjadi di wilayah selatan Zaporizhzhia, di mana sebuah drone menghantam rumah sakit bersalin pada Senin pagi, melukai sedikitnya enam perempuan dan memicu kebakaran di area penerimaan ginekologi sebelum berhasil dipadamkan.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan yang dilakukan pasukannya pada Minggu malam hingga Senin menargetkan infrastruktur transportasi yang digunakan militer Ukraina, menggunakan kombinasi pesawat tempur, drone serang, rudal, dan artileri. Moskow juga mengklaim telah menembak jatuh puluhan drone Ukraina di wilayah Rusia tanpa laporan korban jiwa.

Insiden berdarah ini terjadi menjelang pertemuan trilateral Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 4–5 Februari di Abu Dhabi. Zelenskyy menegaskan Ukraina siap mengikuti perundingan substantif demi mengakhiri perang secara nyata dan bermartabat.

Meski Presiden AS Donald Trump mendorong kompromi, perbedaan mendasar masih membayangi proses negosiasi. Salah satu isu paling krusial adalah tuntutan Rusia untuk mempertahankan wilayah pendudukan di Ukraina timur, termasuk Donbas, yang hingga kini ditolak Kyiv. Konflik yang dipicu invasi Presiden Rusia Vladimir Putin pun masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. (ren)