Home - Nusantara - Bukan di Istana, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Korban Banjir di Tapanuli Selatan

Bukan di Istana, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Korban Banjir di Tapanuli Selatan

Presiden Prabowo Subianto rayakan malam Tahun Baru 2026 di posko banjir Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menyapa pengungsi dan menyerukan agar rakyat menjaga alam serta saling menguatkan di tengah bencana.

Kamis, 1 Januari 2026 - 7:00 WIB
Bukan di Istana, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Korban Banjir di Tapanuli Selatan
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan di Posko Pengungsian Desa Batu Hula, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu malam (31/12/2025). Foto: Tim Media Presiden Prabowo Subianto for Hallonews.

HALLONEWS.COM — Malam terakhir di tahun 2025, langit Batu Hula, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, belum benar-benar tenang. Sisa hujan siang hari masih menetes di tenda-tenda pengungsian, sementara udara lembab bercampur aroma tanah basah.

Di tengah suasana itu, sosok berpakaian safari berwarna krem dengan sepatu bot hitam berjalan menyapa warga satu per satu. Ia adalah Presiden Prabowo Subianto, yang malam itu memilih berada bukan di istana, melainkan di posko pengungsian korban banjir.

Sekitar 30 menit sebelum pergantian tahun, Presiden tiba di Posko Pengungsian Desa Batu Hula. Ia disambut hangat para pengungsi yang sebagian besar baru kehilangan rumah dan ladang akibat banjir bandang.

Tidak ada pesta kembang api. Tidak ada musik megah. Hanya obor dan lampu tenda yang menerangi ratusan warga yang berjaga menunggu giliran makan malam.

Di hadapan mereka, Prabowo berbicara dengan nada lembut namun tegas. “Negara kita besar dan indah, tapi kita harus waspada terhadap alam,” ujarnya. “Alam harus kita hormati, harus kita jaga. Karena alam sering memberi cobaan bagi kita semua.”

Ucapan itu disambut tepuk tangan dan haru. Dalam keheningan malam, pengungsian berubah menjadi ruang refleksi, pesan tentang alam dan kemanusiaan menggantikan dentuman kembang api yang biasanya memenuhi langit pergantian tahun.

“Kami dipilih rakyat, bekerja untuk rakyat,” tambah Prabowo.

Kunjungan ini bukan seremonial belaka. Prabowo datang untuk memastikan bahwa negara benar-benar hadir di saat rakyat membutuhkan. Di tengah lumpur dan tenda darurat, ia menegaskan tekad pemerintah untuk memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.

“Karena itu, di pergantian tahun ini saya harus bersama rakyat yang sedang dalam kesulitan,” katanya di depan warga.

Presiden didampingi sejumlah pejabat tinggi di antaranya Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian, Menlu Sugiono, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Sekkab Teddy Indra Wijaya, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu.

Namun tak satu pun menonjolkan atribut jabatan. Semua berbaur dalam kesederhanaan, makan bersama di posko, berbincang dengan anak-anak, memeriksa dapur umum, dan meninjau fasilitas kesehatan darurat.

Dalam laporan yang diterima, Prabowo menyebut perkembangan signifikan terjadi di lapangan. Desa-desa yang sempat terisolir kini mulai bisa dijangkau.

Menurut Gubernur Bobby Nasution, dari puluhan desa yang sempat terputus, kini hanya lima desa yang masih memerlukan penanganan lanjutan.

“Saya bersyukur, walau masih banyak tantangan, tapi kemajuannya nyata. Ini hasil kerja keras semua pihak,” ujar Prabowo.

Jembatan sementara yang menghubungkan antarwilayah bahkan rampung hanya dalam 10 hari, waktu yang jauh lebih cepat dari standar normal tiga minggu. Presiden menilai, percepatan itu berkat kolaborasi lintas lembaga Kementerian PUPR, BNPB, TNI/Polri, dan pemerintah daerah.

Ketika berbincang dengan petugas di lapangan, ia bertanya berapa lama mereka sudah bertugas.

“Ada yang bilang sudah 20 hari di sini tanpa pulang,” kata Prabowo. “Saya ucapkan terima kasih, kalian luar biasa. Negara berutang budi.”

Menjelang tengah malam, sekelompok anak berkumpul di depan layar tancap keliling yang dipasang dari truk hiburan darurat. Film animasi diputar, tawa kecil mereka terdengar bersahutan di antara suara jangkrik dan deru generator.

Presiden duduk di kursi plastik, menonton mereka dengan senyum kecil di wajahnya. Bagi warga Batu Hula, malam Tahun Baru 2026 bukan tentang pesta, tetapi tentang rasa syukur dan harapan baru.

Pesan Alam dan Keadilan

Sebelum meninggalkan lokasi menjelang dini hari, Prabowo kembali berbicara kepada warga. Kali ini pesannya lebih reflektif, tentang hubungan manusia dengan alam dan tanggung jawab terhadap hukum.

“Kita hadapi masa depan dengan semangat dan optimisme,” katanya. “Negara kita akan semakin kuat, dan semua yang melanggar hukum, yang merusak alam, akan kita tindak tegas.”

Ia berjanji pemerintah akan membangun kembali rumah-rumah warga yang rusak, serta menindak tegas perusahaan atau pihak yang lalai menjaga lingkungan.

Menjelang pukul 01.00 dini hari, sebagian warga masih berjaga di tenda. Di antara mereka, Siti Nuraini, 34 tahun, memeluk anaknya yang tertidur di pangkuan.

“Biasanya Tahun Baru kami di rumah, bakar jagung di halaman. Sekarang tenda ini rumah kami,” ujarnya pelan. “Tapi saya bersyukur, Presiden datang. Kami merasa tidak sendirian.”

Kehadiran Presiden mungkin tidak bisa menghapus kehilangan, tetapi menghadirkan sesuatu yang lebih penting yaitu rasa dipedulikan. Malam itu, di tengah tanah basah dan udara dingin, Tahun Baru 2026 lahir dari kesederhanaan, empati, dan tekad untuk bangkit bersama. (ren)