Home - Internasional - Bondi yang Berduka: Di Tengah Lilin Hanukkah, Tersisa Keheningan dan Luka yang Dalam

Bondi yang Berduka: Di Tengah Lilin Hanukkah, Tersisa Keheningan dan Luka yang Dalam

Pantai Bondi yang biasanya riuh dengan tawa kini berubah menjadi lautan duka. Di tempat di mana keluarga Yahudi merayakan Hanukkah, kini hanya tersisa bunga, lilin, dan air mata. Di antara yang berduka adalah Muadhi Slaven, saksi hidup dari malam yang seharusnya penuh cahaya, namun berubah menjadi kegelapan.

Senin, 15 Desember 2025 - 16:26 WIB
Bondi yang Berduka: Di Tengah Lilin Hanukkah, Tersisa Keheningan dan Luka yang Dalam
Sejumlah warga dari berbagai latar belakang meletakkan karangan bunga dan lilin di Pantai Bondi untuk mengenang korban penembakan massal saat perayaan Hanukkah. Foto: Sky News for Hallonews.

HALLONEWS.COM-Pantai Bondi di Sydney kini bukan lagi sekadar destinasi wisata. Setelah tragedi penembakan massal yang menewaskan 16 orang, termasuk seorang rabi kelahiran London, Eli Schlanger, lokasi yang dulu menjadi tempat perayaan Hanukkah kini menjelma menjadi monumen peringatan pengepungan, simbol kehilangan dan keberanian komunitas Yahudi.

Di sepanjang pantai, bunga, lilin, dan bendera Israel berdampingan dengan bendera Australia. Di antara nyanyian doa dan keheningan, aroma lilin terbakar bercampur dengan bau asin laut.

Bagi Muadhi Slaven, malam itu adalah luka yang belum sembuh. Ia berbicara dengan suara pelan, penuh jeda, seolah masih menimbang setiap kata yang harus ia keluarkan.

“Saat tembakan mulai terdengar, saya tidak tahu apa yang terjadi. Terdengar suara ledakan yang sangat keras dan teman saya menoleh kepada saya dan berkata, ‘Jangan melihat.’ Setelah itu kami langsung lari,” tuturnya.
“Para ibu menarik anak-anak mereka, para ayah berlarian, orang tua saling tersandung. Hanya kepanikan… kekacauan total.”

Rabi Eli Schlanger: Cahaya yang Padam di Tengah Hanukkah

Di antara korban yang tewas adalah Rabbi Eli Schlanger, 41 tahun, ayah dari lima anak, dikenal sebagai sosok lembut dan pendiam, tetapi penuh semangat dalam menyebarkan pesan damai dan keyahudian.

“Dia adalah orang yang hebat, seorang ayah, seorang suami… selalu tersenyum setiap kali saya bertemu dengannya,” kata Slaven, matanya berkaca-kaca.

Dekat tempat Schlanger tewas, terpampang sebuah poster bergambar dirinya dengan kutipan yang kini terasa menggema lebih kuat dari sebelumnya: “Dalam perjuangan melawan antisemitisme, jalan ke depan adalah dengan menjadi lebih Yahudi, dan tampak lebih Yahudi.”

Slaven memandang kata-kata itu sebagai panggilan untuk bertahan. “Saya akan terus berjalan sebagai seorang Yahudi yang terlihat, dan itu tidak akan menghentikan saya,” ujarnya dengan suara tenang, namun penuh tekad.

Dari Sukacita ke Kekacauan

Beberapa menit sebelum tragedi, suasana pantai itu adalah potret kebahagiaan. “Ada kios hot dog, panjat tebing, permen kapas, anak-anak kecil berlarian. Semua orang tersenyum, berbagi cerita,” kenang Slaven.

Namun hanya beberapa saat kemudian, suara tawa berubah menjadi jeritan. Dalam hitungan detik, perayaan berubah menjadi pelarian untuk menyelamatkan nyawa.

“Saya tidak bisa tidur. Mimpi buruk terus datang… suara tembakan, wajah anak-anak menangis, semua terulang di kepala saya,” katanya lirih.

Duka dan Solidaritas

Kini, pantai yang sama dipenuhi pelukan dan doa. Warga dari berbagai latar belakang datang memberikan penghormatan. Bendera Israel berkibar di samping bendera Australia, simbol persatuan dalam luka.

Lagu-lagu doa Hanukkah kembali terdengar, bukan lagi untuk perayaan, tetapi untuk mengenang mereka yang pergi.

“Bondi adalah jantung komunitas ini,” kata seorang warga. “Kami datang ke sini bukan hanya untuk berduka, tapi untuk mengatakan: kami masih berdiri.”

Lebih dari Sekadar Soal Senjata

Penembakan massal jarang terjadi di Australia berkat undang-undang senjata api yang ketat. Namun, tragedi ini memaksa pemerintah meninjau ulang sistem yang ada.
Perdana Menteri Anthony Albanese berjanji akan membahas pembatasan senjata yang lebih ketat dalam rapat kabinet.

Tetapi, bagi banyak orang Yahudi di Australia, masalah terbesar bukan hanya senjata, melainkan kebencian yang terus tumbuh.

“Ini bukan tentang peluru, tapi tentang sikap,” ujar salah satu rabbi yang hadir di lokasi peringatan. “Tentang hak kami untuk hidup aman tanpa rasa takut karena keyakinan kami.”

Seperti cahaya Hanukkah yang menolak padam meski diterpa angin, komunitas Yahudi di Sydney menolak tunduk pada ketakutan.

Di antara doa, nyanyian, dan air mata, mereka menemukan kembali kekuatan, untuk tetap berdiri, untuk tidak menyerah pada kebencian, dan untuk menjaga harapan bahwa cahaya akan kembali menyinari Bondi. (ren)