Home - Ekonomi & Bisnis - Bisnis Kripto dan Konflik Kepentingan Trump di Gedung Putih

Bisnis Kripto dan Konflik Kepentingan Trump di Gedung Putih

Lonjakan kekayaan Donald Trump selama masa jabatan kedua memicu sorotan tajam atas bisnis kripto keluarga dan potensi konflik kepentingan di jantung kekuasaan AS.

Rabu, 21 Januari 2026 - 9:25 WIB
Bisnis Kripto dan Konflik Kepentingan Trump di Gedung Putih
Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan meraup miliaran dolar AS dari berbagai usaha kripto keluarga selama masa jabatan keduanya. Foto: Bocconi for Hallonews

HALLONEWS.COM– Dua belas bulan setelah kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tidak hanya meninggalkan jejak politik yang kontroversial, tetapi juga mencatat lonjakan kekayaan pribadi yang nyaris tak memiliki preseden dalam sejarah kepresidenan AS.

Menurut berbagai perkiraan media dan lembaga pengawas di Amerika Serikat, kekayaan Trump meningkat setidaknya 3 miliar dolar AS selama tahun pertama masa jabatan keduanya. Lonjakan ini terutama didorong oleh bisnis kripto keluarga Trump, yang menarik investor global bernilai besar dan memicu tuduhan konflik kepentingan serius.

Dalam pidato pelantikan keduanya, Trump berjanji bahwa “zaman keemasan Amerika” akan segera dimulai. Setahun kemudian, janji tersebut masih terasa jauh bagi banyak warga Amerika yang bergulat dengan kenaikan harga dan tekanan biaya hidup. Namun bagi Trump sendiri, masa jabatan ini justru menjadi periode paling menguntungkan sepanjang karier bisnisnya.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Trump kini diperkirakan mencapai 7,3 miliar dolar AS, naik sekitar 3 miliar dolar AS dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, The New Yorker memperkirakan kekayaannya melonjak 3,4 miliar dolar AS hanya dalam enam bulan pertama, sebagian besar berasal dari apa yang mereka sebut sebagai “pengambilan keuntungan dari jabatan presiden”.

Pelacak independen “Trump’s Take,” yang dikelola oleh Center for American Progress (CAP), mencatat hampir 2 miliar dolar AS dalam bentuk uang tunai dan hadiah telah langsung menambah kekayaan keluarga Trump sejak ia kembali ke Gedung Putih.

Namun angka pasti kekayaan Trump tetap sulit diverifikasi. Sejak pertama kali menjabat pada 2017, Trump menolak mengikuti tradisi puluhan tahun presiden AS untuk merilis laporan pajak. Ia juga pernah dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS karena menggelembungkan nilai aset demi kepentingan finansial.

Dari Real Estat ke Kripto

Secara historis, kekayaan Trump bersumber dari Trump Organization, konglomerat keluarga yang berfokus pada real estat dan pariwisata. Namun lonjakan kekayaan terbaru sebagian besar berasal dari investasi kripto, sebuah sektor yang justru pernah ia kecam.

Pada masa jabatan pertamanya, kekayaan Trump sempat menyusut tajam. Forbes mencatat kekayaannya turun dari 3,5 miliar dolar AS pada 2017 menjadi 2,4 miliar dolar AS pada 2021, terutama akibat pandemi Covid-19 yang menghantam hotel, resor, gedung perkantoran, lapangan golf, hingga armada pesawat pribadinya. Namun menjelang Pilpres 2024 dan masa jabatan kedua, portofolio Trump berubah drastis.

Sumber utama kekayaan baru Trump berasal dari proyek kripto yang dijalankan oleh keluarganya, termasuk World Liberty Financial, Stablecoin USD1, Meme coin $TRUMP dan $MELANIA serta NFT Trump.

Meski banyak proyek dikelola oleh putra-putranya, Forbes memperkirakan Trump pribadi telah meraup sekitar 2,4 miliar dolar AS dari kripto sejak 2024. Sementara “Trump’s Take” menaksir nilai aset kripto keluarga Trump meningkat hingga 7,4 miliar dolar AS sejak ia kembali menjabat.

Ironisnya, pada 2019 Trump pernah menyatakan dirinya “bukan penggemar kripto”, menyebut mata uang digital “tidak stabil, tidak dapat diandalkan, dan berpotensi memfasilitasi aktivitas ilegal”. Enam tahun kemudian, volatilitas itulah yang justru menjadi sumber keuntungannya.

Meme Coin $TRUMP

Contoh paling mencolok adalah meme coin $TRUMP, yang diluncurkan hanya beberapa hari sebelum pelantikan keduanya. Bagi pendukung, membeli koin ini menjadi simbol loyalitas politik. Bagi Trump, ini adalah ladang uang.

Menurut Financial Times, hingga Maret 2025 Trump telah menghasilkan sekitar 350 juta dolar AS dari $TRUMP.

Tak lama kemudian, muncul meme coin $MELANIA, yang menghasilkan 65 juta dolar AS dari penjualan dan biaya perdagangan. Investigasi Financial Times menemukan bahwa 24 dompet anonim membeli koin senilai 2,6 juta dolar AS beberapa menit sebelum peluncuran resmi, lalu menjualnya kembali hanya beberapa hari kemudian dengan nilai hampir 100 juta dolar AS.

Keuntungan dari kedekatan dengan Gedung Putih juga tampak jelas dalam proyek lain. Sejak 2025, World Liberty Financial menjual lebih dari 1 miliar dolar AS token, NFT Trump menghasilkan sekitar 13 juta dolar AS, Stablecoin USD1 kini diperkirakan bernilai 235 juta dolar AS, USD1 dipromosikan sebagai stablecoin yang didukung obligasi pemerintah AS jangka pendek dan simpanan dolar, sebuah jaminan yang secara politis sangat kuat.

Pada Mei 2025, keluarga penguasa Uni Emirat Arab (UEA) membeli USD1 senilai 2 miliar dolar AS. Beberapa minggu kemudian, AS memberi UEA akses ke ribuan chip komputer tercanggih, dua peristiwa yang secara resmi tidak berkaitan, namun memicu spekulasi luas.

Pada April 2025, Gedung Putih juga mengumumkan bahwa 25 pemegang terbesar koin $TRUMP akan diundang ke resepsi dan tur VIP Gedung Putih, sebuah skema yang oleh para pengkritik disebut sebagai “membayar untuk akses”.

Salah satu tamu adalah miliarder kripto kelahiran China Justin Sun, investor besar World Liberty Financial yang sebelumnya diselidiki Securities and Exchange Commission (SEC) atau Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat, atas dugaan perdagangan ilegal. Pada masa Trump, regulasi kripto dilonggarkan dan pada 2026, SEC menangguhkan tuntutan terhadap Sun.

“Tidak ada paralel historis untuk ini. Tidak ada yang mendekati,” kata Will Ragland, Wakil Presiden Riset di Center for American Progress (CAP) atau Pusat Kemajuan Amerika.

Sejarah kepresidenan AS menunjukkan presiden biasanya berupaya keras menghindari konflik kepentingan. Jimmy Carter, misalnya, menempatkan bisnis kacangnya dalam blind trust. Trump justru dinilai merangkul area abu-abu tersebut.

“Trump adalah presiden yang secara aktif menggunakan bisnisnya sebagai kendaraan konflik kepentingan yang terang-terangan demi keuntungan pribadi,” ujar Ragland.

Bukan Sekadar Kripto

Selain kripto, sumber keuntungan lain juga menuai kritik: toko merchandise kampanye 2024 yang mengalirkan dana langsung ke kantong Trump, hotel dan resor Trump yang mendapat keuntungan dari acara resmi, biaya keanggotaan Mar-a-Lago melonjak menjadi 1 juta dolar AS, kesepakatan 40 juta dolar AS dengan Amazon untuk dokumenter Melania Trump, jet mewah senilai 400 juta dolar AS dari Qatar, yang dinilai melanggar semangat Konstitusi AS.

Kongres sejauh ini gagal mengambil tindakan, yang menurut Ragland menunjukkan bahwa “batasan etika negara itu tidak lagi berfungsi.”

“Kita tidak hanya melihat kekayaan satu orang,” kata Ragland. “Kita melihat kegagalan sistemik yang membuat masyarakat Amerika sepenuhnya rentan terhadap korupsi skala industri.” (ren)