Berkunjung ke Pulau Kosong, Papua, Wamen Stella Christie Dorong Inovasi Berkelanjutan
Dosen Universitas Cenderawasih menghadirkan teknologi pengering ikan berbasis energi surya dan sistem penyimpanan higienis di Pulau Kosong, Papua.

HALLONEWS.COM – Pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan di Pulau Kosong, Papua, menjadi perhatian dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih, Popi Ida Laila Ayer. Pengolahan ikan secara tradisional yang dijalankan para nelayan selama bertahun-tahun, tidak mampu memberikan nilai lebih bagi para nelayan.
Popi Ida Laila Ayer bersama tim kemudian menghadirkan inovasi, yakni teknologi penyimpanan bertenaga surya, sistem pengering berbasis efek rumah kaca, serta pelatihan manajemen usaha dan pemasaran. Hasilnya, ikan dapat kering hanya dalam satu hari dan kualitasnya jauh lebih baik, higienis, dan tahan lama sehingga bisa mendobrak pasar yang lebih luas.
“Ikan yang biasanya ditangkap harganya jadi rendah, kadang tidak sempat dijual sehingga hanya dibagikan. Kami mencoba memberi solusi dengan teknologi alat pengering ikan. Kami juga mengajarkan manajemen keuangan, bagaimana caranya pemasukan dan pengeluaran bisa dicatat dengan baik,” ujar Popi.
Inovasi yang dilakukan Popi di Pulau Kosong mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, yang berkunjung ke tanah Papua, Kamis (11/12/2025). Pada kesempatan ini, Stella menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Pulau Kosong dan tim pengabdian Popi.
Stella menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat. Teknologi pengering ikan memungkinkan peningkatan hasil pengolahan dari 100 kilogram menjadi 300 kilogram per siklus. Menurut Wamen Stella, inovasi ini penting untuk dipertahankan.
“Pesan saya, agar inovasi bisa berkelanjutan, harus ada masyarakat yang belajar mengenai alat-alat yang sudah ditaruh di sini. Bu Popi dan tim akan ke desa lain, tetapi alatnya akan ada di sini selamanya. Harus ada yang tahu bagaimana menggunakan dan menjaga alat-alat ini,” kata Stella dikutip dari kemdiktisaintek.go.id.
Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi mendukung penuh inisiatif ini, serta akan terus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna di pulau-pulau kecil. Kehadiran inovasi seperti ini membuktikan bahwa sains juga muncul di luar laboratorium, hidup bersama masyarakat, dan membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
Inovasi yang dilakuan perguruan tinggi ini menjadi wujud konkret atas kebijakan Diktisaintek Berdampak yang menegaskan ilmu pengetahuan dan teknologi kampus hadir dalam bentuk solusi yang langsung dirasakan masyarakat. Pengabdian yang tepat dapat mempertajam kapasitas desa, meningkatkan kesejahteraan berbasis komunitas, dan memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan.
Pembusukan
Tersembunyi di sebelah timur Jayapura, Pulau Kosong berpenduduk oleh sekitar 160 kepala keluarga. Mereka bermigrasi dari Pulau Buton, Sulawesi, puluhan tahun yang lalu. Warga Pulau Kosong hidup sebagai nelayan. Mereka bergantung pada tangkapan ikan untuk dimakan dan dijual ke daratan Papua.
Namun, proses penanganan hasil tangkapan secara tradisional menghadapi berbagai kendala. Selama ini ikan untuk produksi ikan asin dijemur di atas papan kayu dan jembatan tanpa penutup, sehingga terpapar hujan, debu, asap dapur, serta hewan. Cara ini membuat proses pengeringan berlangsung hingga satu minggu dengan risiko pembusukan, perubahan warna, dan penurunan kualitas.
Di sisi lain, ikan segar seringkali hanya bertahan selama satu hari karena ketergantungan masyarakat terhadap es batu yang sulit dipenuhi karena kurangnya akses. Tantangan-tantangan ini berdampak pada harga jual yang rendah dan hasil tangkapan yang tidak termanfaatkan secara optimal.
Berangkat dari persoalan itu, dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih, Popi Ida Laila Ayer dan tim menghadirkan inovasi, yakni teknologi penyimpanan bertenaga surya, sistem pengering berbasis efek rumah kaca. Di dalam alat pengering, panas matahari ditangkap oleh dinding transparan berbahan plastik UV dan terperangkap sehingga menaikkan suhu ruang secara merata. Sistem ventilasi terarah menjaga sirkulasi agar kelembapan menurun, sehingga proses pengeringan berlangsung hanya dalam satu hari, tanpa menurunkan kualitas ikan.
Setelah dikeringkan, ikan disimpan pada wadah tertutup berbasis panel surya yang menghasilkan aliran udara dan menjaga suhu stabil. Fasilitas penyimpanan ini mencegah kontaminasi, menjaga kebersihan, dan memberi waktu simpan lebih lama sebelum ikan dijual ke daratan. Keduanya dirancang sebagai teknologi tepat guna, yakni memanfaatkan sumber energi matahari yang berlimpah, tidak membutuhkan sambungan listrik, mudah dirawat, dan bisa dioperasikan masyarakat secara mandiri.
“Tim kami merancang alat berbasis panel surya, sehingga mengurangi ketergantungan rumah tangga nelayan terhadap energi listrik. Energi matahari ditangkap oleh panel surya, disimpan dalam baterai, diubah menjadi energi listrik yang kemudian dialirkan ke freezer,” papar Popi Ida Laila Ayer.
Popi tidak bekerja sendiri. Selain bersama beberapa rekan sesama dosen lain, Popi juga melibatkan mahasiswa sebagai mitra pemikiran dan pelaksana lapangan. Di antaranya Ones Elopere dari Prodi Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Rachmadani Octalia Susilowati (Rose) dari Prodi Fisika menceritakan pengalaman mengembangkan riset awal yang menjadi dasar diterapkannya sistem pengering berbasis efek rumah kaca di lapangan.
“Pengabdian seperti ini sangat berpengaruh untuk kami, karena ada pengalaman yang nyata, tidak hanya belajar di kelas tanpa tahu keadaan di lapangan seperti apa. Kita sebagai mahasiswa juga dapat membantu masyarakat hidup lebih sejahtera dengan banyak cara,” ujar Ones.
Rose dan Ones mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari dari mata kuliah masing-masing program studi. Rose pun bercerita akan mengembangkan hasil dari pengabdian masyarakat ini melalui tugas akhirnya.
“Saya akan melanjutkan riset program alat pengeringan ikan ini menjadi monitoring berbasis Internet of Things (IoT). Kita akan cek suhu dan kelembabannya agar lebih efisien, berhubung cuaca di sini tidak menentu,” kata Rose.
Sosialisasi dilakukan berulang kali kepada warga dan tokoh kampung. Tim Popi mengajarkan cara menggunakan alat, merawat panel surya, hingga memastikan pengeringan berjalan aman. Mereka mengunjungi Pulau Kosong setidaknya enam kali, membawa ilmu yang dipelajari di kampus untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Di sini, mereka memanfaatkan hubungan komunitas masyarakat Buton untuk mengirimkan ikan ke Papua Pegunungan dan Papua Tengah. Hasil produksi meningkat, sehingga pemasaran juga meningkat,” kata Popi.
Perjalanan Popi tidak selalu mudah. “Kami melihat penerimaan masyarakat besar sekali. Selama kami melakukan pengabdian di Pulau Kosong, ada beberapa kendala. Namun, kami terus maju karena kami mengingat niat dan antusiasme masyarakat untuk maju juga sangat besar. Motivasi kami juga karena didanai Kemdiktisaintek,” kata Popi Ida Laila Ayer.
Pada kunjungan ke Pulau Kosong, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Pulau Kosong dan tim pengabdian Popi. Ditekankan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat. Teknologi pengering ikan memungkinkan peningkatan hasil pengolahan dari 100 kilogram menjadi 300 kilogram per siklus. Menurut Wamen Stella, inovasi ini penting untuk dipertahankan.
“Pesan saya, agar inovasi bisa berkelanjutan, harus ada masyarakat yang belajar mengenai alat-alat yang sudah ditaruh di sini. Bu Popi dan tim akan ke desa lain, tetapi alatnya akan ada di sini selamanya. Harus ada yang tahu bagaimana menggunakan dan menjaga alat-alat ini,” tegas Wamen Stella.
Program ini menjadi wujud konkret arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi kampus hadir dalam bentuk solusi yang langsung dirasakan masyarakat. Pengabdian yang tepat dapat mempertajam kapasitas desa, meningkatkan kesejahteraan berbasis komunitas, dan memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan.
“Kami melihat penerimaan masyarakat besar sekali. Selama kami melakukan pengabdian di Pulau Kosong, ada beberapa kendala. Namun, kami terus maju karena kami mengingat niat dan antusiasme masyarakat untuk maju juga sangat besar. Motivasi kami juga karena didanai Kemdiktisaintek, kita bisa memperhatikan masyarakat melalui kampus-kampus yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Popi.
