Home - Internasional - Bentrok Perbatasan Berakhir: Thailand-Kamboja Teken Gencatan Senjata

Bentrok Perbatasan Berakhir: Thailand-Kamboja Teken Gencatan Senjata

Thailand dan Kamboja menandatangani gencatan senjata baru untuk mengakhiri bentrokan perbatasan berminggu-minggu akibat sengketa wilayah, termasuk pemulangan tawanan dan penghentian operasi militer.

Sabtu, 27 Desember 2025 - 18:40 WIB
Bentrok Perbatasan Berakhir: Thailand-Kamboja Teken Gencatan Senjata
Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha (kiri) dan Menteri Pertahanan Thailand Nattaphon Narkphanit bertukar dokumen dalam pertemuan penandatanganan gencatan senjata perbatasan, 27 Desember 2025. Foto: Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja for Hallonews.

HALLONEWS.COM — Thailand dan Kamboja pada Sabtu, 27 Desember 2025, menandatangani perjanjian gencatan senjata baru untuk mengakhiri pertempuran bersenjata yang telah berlangsung berminggu-minggu di sepanjang perbatasan kedua negara akibat sengketa wilayah yang saling bertentangan. Kesepakatan ini mulai berlaku pada siang hari waktu setempat dan menandai jeda signifikan dalam ketegangan yang meningkat sejak awal Desember 2025.

Dalam perjanjian tersebut, kedua pihak sepakat menghentikan semua operasi militer, menahan pergerakan pasukan di zona sengketa, dan melarang pelanggaran wilayah udara untuk keperluan militer. Menurut laporan Kementerian Pertahanan Thailand, serangan udara terakhir dilancarkan pada Sabtu (27/12/2025) pagi sebelum gencatan senjata mulai berlaku, menargetkan beberapa lokasi di wilayah Kamboja.

Salah satu klausul penting dari perjanjian menegaskan bahwa Thailand wajib memulangkan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak bentrokan Juli 2025, setelah gencatan senjata dipertahankan selama 72 jam penuh. Pembebasan tawanan ini merupakan salah satu tuntutan utama pemerintah Kamboja.

Perjanjian terbaru ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata sebelumnya pada Juli 2025, yang dimediasi oleh Malaysia dan mendapat tekanan diplomatik dari Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan menahan hak istimewa perdagangan jika kedua negara gagal menghentikan konflik. Gencatan senjata awal kemudian diformalkan kembali pada pertemuan regional di Malaysia pada Oktober 2025.

Meskipun kesepakatan telah dicapai, kedua negara masih terlibat dalam perang propaganda dan bentrokan kecil lintas perbatasan, yang sempat meningkat menjadi pertempuran besar pada awal Desember. Para pengamat menilai bahwa kepercayaan antara Bangkok dan Phnom Penh masih rapuh, sehingga pemantauan internasional tetap krusial untuk memastikan stabilitas kawasan.

Kesepakatan gencatan senjata terbaru ini diharapkan dapat meredakan ketegangan perbatasan, membuka jalan bagi dialog bilateral, dan memperkuat kerja sama regional di Indochina. (ren)