Home - Megapolitan - Bekasi Larang Konvoi dan Petasan di Malam Tahun Baru 2026, Tapi Doa Bersama!

Bekasi Larang Konvoi dan Petasan di Malam Tahun Baru 2026, Tapi Doa Bersama!

Malam Tahun Baru 2026 di Kota dan Kabupaten Bekasi tanpa pesta, konvoi, dan petasan. Pemerintah daerah mengimbau warga mengisi pergantian tahun dengan doa.

Jumat, 26 Desember 2025 - 9:15 WIB
Bekasi Larang Konvoi dan Petasan di Malam Tahun Baru 2026, Tapi Doa Bersama!
Pesta kembang api di Kota Bekasi pada pergantiaan Tahun Baru 2025. Foto/Hallonews

HALLONEWS.COM – Pemerintah Kabupaten dan Kota Bekasi kompak mengambil sikap tegas dalam menyambut Malam Tahun Baru 2026. Tidak ada konvoi kendaraan, tidak ada petasan, dan tidak ada pesta besar.

Masyarakat diminta mengisi pergantian tahun dengan doa bersama dan refleksi demi menjaga ketertiban sekaligus menumbuhkan empati sosial. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Pemerintah Kabupaten Bekasi Nomor 300.2.3/SE-132/Tapem-Setda/2025.

Surat edaran ini menjadi dasar pengawasan bagi aparat wilayah, mulai dari tingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan, selama malam pergantian tahun. Sehingga, perayaan Tahun Baru 2026 berlangsung aman, terkendali, dan tidak memicu gangguan maupun ketertiban umum.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan konvoi kendaraan, tidak menyalakan petasan atau kembang api, serta menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerawanan,” kata Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, Jumat (26/12/2025).

Pemkab Bekasi mendorong warga mengganti euforia dengan kegiatan bernilai positif, seperti doa bersama, dzikir, pengajian, dan ibadah sesuai agama. Menurut pemerintah, pendekatan ini mencerminkan kedewasaan sosial sekaligus kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memastikan tidak akan menggelar pesta rakyat maupun hiburan massal pada malam pergantian tahun. Kota Bekasi memilih menandai masuknya Tahun Baru 2026 dengan doa bersama sebagai simbol refleksi dan empati.

Tri menilai, pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan. Apalagi, kondisi nasional tengah dihadapkan pada bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh.

“Kami tidak ingin membuka tahun hanya dengan euforia. Ada duka yang dirasakan saudara-saudara kita. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk menundukkan kepala, berdoa, dan memperkuat empati sosial,” ujar Tri.

Ia menambahkan, doa bersama menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk mengevaluasi perjalanan selama satu tahun terakhir sekaligus memanjatkan harapan agar tahun mendatang membawa keselamatan, ketenangan, dan keberkahan bagi seluruh rakyat.

Rencananya, doa bersama akan digelar secara sederhana dan khidmat dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, tokoh agama, serta perwakilan masyarakat. Langkah ini dapat menjadi contoh perayaan Tahun Baru yang lebih tertib, beradab, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan.