Beijing Ucapkan Selamat Tinggal pada Garam Industri, Terapkan Metode Ramah Lingkungan untuk Singkirkan Salju
Beijing menyambut salju pertamanya musim dingin ini dengan cara baru, tanpa bahan kimia pencair es yang mencemari. Kota berpenduduk 21 juta jiwa itu kini mengandalkan sistem penanganan salju ramah lingkungan yang mengutamakan keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan.

HALLONEWS.COM-Salju pertama musim dingin turun di Beijing pada Jumat (12/12/2025) pagi, mengubah ibu kota China itu menjadi pemandangan putih yang indah. Namun di balik keindahan itu, Pemerintah Kota Beijing menerapkan strategi baru penyingkiran salju berkelanjutan, menggantikan metode lama yang menggunakan zat pencair es berbasis garam industri.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam manajemen musim dingin kota tersebut, seiring meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari bahan pencair es seperti kalium klorida dan natrium klorida, yang selama ini digunakan untuk mempercepat pencairan salju dan es di jalan raya.
Dampak Kimia Pencair Es: Dari Jalanan hingga Ekosistem
Bahan pencair es tradisional memang efektif menurunkan titik beku dan mencairkan es pada suhu di bawah nol. Namun, efek sampingnya merugikan.
Campuran garam dan air mencair dapat meresap ke struktur baja dan beton, memicu korosi dan mempercepat kerusakan jembatan, trotoar, dan bangunan.
Selain itu, limpasan air asin yang masuk ke tanah dan sistem air tanah meningkatkan kadar salinitas, mengancam tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme lokal. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merusak ekosistem perkotaan dan mempercepat degradasi kualitas air.
Tidak hanya itu, paparan bahan penghilang es juga berdampak pada manusia. Zat kimia tersebut dapat menyebabkan iritasi kulit, gangguan pernapasan, dan masalah mata, terutama bagi petugas jalan dan anak-anak yang sering bermain di area bersalju.
Tiga Zona Pengelolaan Salju Ramah Lingkungan
Sebagai solusinya, Komisi Manajemen Perkotaan Beijing menerapkan sistem penanggulangan salju tiga lapis:
1. Zona Bebas Bahan Kimia- seperti taman, kawasan perumahan, dan jalur pejalan kaki. Di sini, pembersihan dilakukan secara manual menggunakan bajak dan penyapu salju.
2. Zona Minim Kimia-penggunaan bahan pencair es dikurangi drastis, terutama di jalan lingkungan dan kawasan sekolah.
3. Zona Terbatas Kimia-di lokasi vital seperti jembatan, jalan layang, dan persimpangan, digunakan bahan pencair es berkandungan klorin dan natrium rendah dengan pengawasan waktu dan dosis ketat.
Dengan sistem ini, Beijing tidak hanya meminimalkan dampak lingkungan, tetapi juga memastikan keamanan transportasi di tengah suhu ekstrem musim dingin.
Dukungan Logistik Besar-besaran
Untuk menjalankan strategi baru ini, pemerintah kota menurunkan lebih dari 27.000 petugas lapangan, 4.800 kendaraan pembersih salju, dan 7.000 unit alat berat, termasuk truk pengangkut salju dan mesin penyapu otomatis. Selain itu, tersedia 48.000 alat manual untuk mendukung kerja pembersihan di kawasan padat penduduk.
“Kami tidak hanya membersihkan salju, tetapi juga melindungi kota dari kerusakan jangka panjang akibat bahan kimia,” kata pernyataan resmi Komisi Manajemen Perkotaan Beijing seperti dikutip dari CGTN, Senin (15/12/2025).
Langkah Kecil Menuju Kota Hijau
Langkah Beijing ini mendapat perhatian internasional sebagai contoh praktik urban berkelanjutan di tengah perubahan iklim yang ekstrem. Kota-kota besar lain di China, termasuk Harbin, Shenyang, dan Tianjin, disebut akan mengadopsi pendekatan serupa dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan metode baru ini, Beijing berharap dapat menjaga keseimbangan antara efisiensi transportasi dan tanggung jawab lingkungan, tanpa mengorbankan keindahan musim dingin yang menjadi ikon kota itu setiap tahun. (ren)
