Home - Nusantara - Audit Komprehensif Akar Penyebab Bencana Sumatera

Audit Komprehensif Akar Penyebab Bencana Sumatera

Bencana alam yang melulantahkan tiga provinsi di Pulau Sumatera menyayat hati dan mengundang banyak prihatin masyarakat. Kalangan DPR mengusulkan pemerintah melakukan audit ekologi dan infrastruktur yang komprehensif untuk mengungkap akar penyebab bencana tersebut.

Rabu, 3 Desember 2025 - 9:42 WIB
Audit Komprehensif Akar Penyebab Bencana Sumatera
Bencana Alam yang melulantahkan tiga provinsi di Pulau Sumatera. Foto : Istimewa

HALLONEWS.COM – Bencana alam yang melulantahkan tiga provinsi di Pulau Sumatera menyayat hati dan mengundang banyak prihatin masyarakat. Kalangan DPR mengusulkan pemerintah melakukan audit ekologi dan infrastruktur yang komprehensif untuk mengungkap akar penyebab bencana tersebut.

Usulan tersebut disampaikan anggota DPR dari Fraksi Demokrat Sabam Sinaga menanggapi data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat sebanyak 708 warga meninggal dunia dan sekitar 1,5 juta warga terdampak.

Dari bencana tersebut, muncul dugaan pembalakan liar atau ilegal logging.

“Atas nama kemanusiaan dan tanggung jawab melindungi rakyat di masa 8depan, saya mendesak dan akan memperjuangkan dilakukannya audit ekologis dan infrastruktur yang komprehensif dan independen atas penyebab bencana ini,” ujar Sabam, Rabu (3/12/2025).

Menurut dia, bencana yang terjadi di Pulau Sumatera harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sabam menyoroti kompleksitas kerusakan yang terjadi, termasuk adanya kayu gelondongan dalam jumlah besar yang terbawa banjir, longsor masif, serta putusnya akses jalan dan jembatan antarkabupaten.

Dia juga mempertanyakan apakah faktor di luar curah hujan ekstrem turut memperparah bencana. “Jika hanya soal curah hujan, sejarah mencatat Sumatera Utara telah mengalami hujan dengan intensitas tinggi sebelumnya. Namun, kompleksitas dan skala kerusakan kali ini menunjukan adanya akumulasi masalah,” katanya.

Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Sumatera Utara tersebut menyebutkan sejumlah faktor yang perlu ditelaah antara lain tata kelola lingkungan terkait isu kayu gelondongan, kesiapan infrastruktur, dan penerapan tata ruang serta mitigasi bencana. Karena itu, perlu adanya audit komprehensif untuk mengungkap akar penyebab bencana.

Audit tersebut bukan untuk mencari kambing hitam melainkan menemukan akar masalah secara ilmiah. Tujuannya memperbaiki kebijakan agar musibah serupa tidak terulang.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira menyatakan dampak bencana ini secara langsung memengaruhi kondisi ekonomi nasional, mengingat Sumatera Utara merupakan salah satu simpul industri nasional di Pulau Sumatera.

“Secara nasional, terjadi dampak penurunan Produk Domestik Bruto mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29%,” tulis Bhima Yudhistira dalam studinya, dikutip Selasa (2/12/2025).

Secara regional, dampak terberat diprediksi terjadi pada Provinsi Aceh, yang ekonominya diperkirakan menyusut sekitar 0,88 persen atau setara Rp2,04 triliun. Dampak kepada provinsi lain juga dirasakan dari melemahnya arus barang konsumsi maupun kebutuhan industri.

Celios menyebutkan bahwa perhitungan kerugian ekonomi tersebut didasarkan pada lima jenis kerugian utama. Perhitungan ini meliputi kerugian rumah (masing-masing Rp30 juta), kerugian jembatan (biaya pembangunan kembali Rp1 miliar per jembatan), dan kerugian perbaikan jalan (Rp100 juta per 1.000 meter).

Selain itu, kerugian juga mencakup perhitungan pendapatan keluarga yang hilang selama 20 hari kerja dan kerugian lahan sawah, dengan asumsi kehilangan mencapai Rp6.500 per kg dan setiap hektar menghasilkan 7 ton.