Home - Internasional - AS Sita Kapal Tanker Minyak Venezuela di Atlantik, China dan Rusia Murka

AS Sita Kapal Tanker Minyak Venezuela di Atlantik, China dan Rusia Murka

Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak Venezuela di Atlantik Utara. China, Rusia, dan pemerintah Venezuela mengecam keras, sementara pasar minyak global merespons dengan fluktuasi harga.

Rabu, 7 Januari 2026 - 21:56 WIB
AS Sita Kapal Tanker Minyak Venezuela di Atlantik, China dan Rusia Murka
Kapal tanker minyak Marinera (sebelumnya Bella 1) yang disita Amerika Serikat di Samudra Atlantik Utara dalam operasi penegakan sanksi terhadap sektor energi Venezuela. Foto: Marinetraffic for Hallonews

HALLONEWS.COM-Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik Utara, langkah yang segera memicu kecaman keras dari China dan Rusia serta meningkatkan ketegangan geopolitik global.

Komando Eropa Amerika Serikat, United States European Command, menyatakan kapal tersebut disita karena melanggar sanksi AS.

“Departemen Kehakiman dan Departemen Keamanan Dalam Negeri, berkoordinasi dengan Departemen Pertahanan, hari ini mengumumkan penyitaan M/V Bella 1 karena pelanggaran sanksi Amerika Serikat,” demikian pernyataan resmi Komando Eropa AS seperti dikutip Rabu (7/1/2026).

“Kapal itu disita di Atlantik Utara berdasarkan surat perintah pengadilan federal setelah dilacak oleh kapal Penjaga Pantai AS, USCGC Munro.”

Seorang pejabat AS mengatakan bahwa kapal tanker tersebut kini telah diamankan dan berada dalam tahanan Amerika Serikat setelah pengejaran selama lebih dari dua pekan.

Berganti Nama dan Bendera

Kapal tanker tersebut awalnya bernama “Bella 1” sebelum berganti nama menjadi “Marinera” dan mengibarkan bendera Rusia saat berupaya menghindari penegakan sanksi AS. Data perusahaan analitik maritim menunjukkan kapal itu sempat menggunakan bendera Guyana sebelum perubahan identitas tersebut.

Menurut hukum internasional, kapal yang mengibarkan bendera suatu negara berada di bawah perlindungan negara pendaftar. Fakta ini kemudian menjadi dasar protes dari Moskow.

Rusia dan China Kecam Keras

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa kapal tanker tersebut beroperasi di perairan internasional dan menyerukan agar Amerika Serikat menghormati prinsip kebebasan navigasi.

“Amerika Latin dan Karibia harus tetap menjadi zona perdamaian, dan kedaulatan negara-negara di kawasan itu harus dijamin,” demikian pernyataan Ministry of Foreign Affairs of Russia.

China juga menyampaikan kecaman terbuka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menilai tindakan Washington sebagai intimidasi dan pelanggaran serius hukum internasional.

“Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan penuh atas sumber daya alamnya,” kata Mao Ning.

“Penggunaan kekuatan secara sembrono oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela merupakan perilaku intimidatif yang melanggar hukum internasional dan merugikan hak-hak rakyat Venezuela.”

Reaksi Pemerintah Venezuela

Pemerintah Venezuela mengecam penyitaan kapal tanker tersebut sebagai “pembajakan internasional” dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara. Dalam pernyataan resmi, Caracas menyebut langkah AS sebagai upaya sepihak untuk menguasai sumber daya alam Venezuela dengan dalih penegakan sanksi.

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez menegaskan bahwa negaranya tidak tunduk pada tekanan eksternal.

“Tidak ada agen eksternal yang memerintah Venezuela. Negara ini berdaulat dan berhak penuh atas sumber daya alamnya,” kata Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi nasional.

Pemerintah Venezuela juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menolak apa yang mereka sebut sebagai praktik agresi ekonomi dan militer yang merusak tatanan hukum internasional.

Kapal tanker Marinera telah dikenai sanksi oleh Office of Foreign Assets Control Departemen Keuangan AS sejak Juni 2024 karena keterlibatannya dalam pengangkutan minyak dari negara-negara yang dikenai sanksi, termasuk Iran dan Venezuela. Perusahaan pemilik kapal yang berbasis di Turki juga masuk dalam daftar sanksi.

Menurut data intelijen maritim, kapal tersebut memuat minyak mentah di Iran sebelum berlayar ke Venezuela, lalu mencoba menembus apa yang oleh Washington disebut sebagai blokade maritim terhadap ekspor minyak Venezuela.

Dampak terhadap Pasar Minyak Global

Langkah penyitaan kapal tanker ini turut memengaruhi sentimen pasar energi global. Harga minyak sempat berfluktuasi setelah kabar penyitaan dan eskalasi ketegangan geopolitik, meski kenaikannya relatif terbatas.

Analis energi menilai bahwa dampak jangka pendek terhadap harga minyak global cenderung moderat, mengingat produksi Venezuela saat ini hanya menyumbang sebagian kecil dari pasokan dunia meskipun negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Namun demikian, tindakan keras seperti penyitaan kapal tanker dan blokade pengiriman dinilai menambah premi risiko geopolitik di pasar minyak. Jika ketegangan berlanjut atau meluas ke jalur pelayaran strategis lain, tekanan terhadap harga energi global berpotensi meningkat.

“Pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik. Meski dampaknya kini terbatas, eskalasi lanjutan bisa memicu volatilitas yang lebih besar,” ujar seorang analis energi internasional.

Penyitaan kapal tanker minyak Venezuela oleh AS tidak hanya memperdalam konflik Washington–Caracas, tetapi juga menyeret kekuatan besar lain seperti China dan Rusia ke dalam pusaran ketegangan. Peristiwa ini dipandang sebagai preseden penting dalam penegakan sanksi maritim dan berpotensi memengaruhi stabilitas hukum laut internasional. (ren)