Home - Internasional - AS Sita Kapal Tanker di Dekat Venezuela, Caracas Tuding Pembajakan Internasional

AS Sita Kapal Tanker di Dekat Venezuela, Caracas Tuding Pembajakan Internasional

Amerika Serikat kembali menyita kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela, memicu badai diplomatik di Laut Karibia. Presiden Donald Trump memerintahkan “blokade total” terhadap kapal-kapal pengangkut minyak yang dikenai sanksi, sementara Caracas menuduh Washington melakukan pembajakan internasional dan pelanggaran hukum laut.

Minggu, 21 Desember 2025 - 11:33 WIB
AS Sita Kapal Tanker di Dekat Venezuela, Caracas Tuding Pembajakan Internasional
Donald Trump menyebut Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai “pemimpin tidak sah” saat menegaskan perintah blokade total terhadap kapal tanker minyak yang menuju dan keluar dari Venezuela. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM — Ketegangan di perairan Karibia meningkat tajam setelah Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak kedua di dekat Venezuela, dalam operasi militer yang disebut bagian dari “blokade total” terhadap kapal-kapal yang menyalurkan minyak dari negara yang dikenai sanksi.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengonfirmasi operasi tersebut pada Sabtu (21/12/2025) melalui platform X.

“Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang digunakan untuk mendanai terorisme narkoba di wilayah tersebut. Kami akan menemukanmu, dan kami akan menghentikanmu,” tulisnya seperti dikutip Hallonews, Minggu (21/12/2025).

Unggahan itu disertai video berdurasi delapan menit yang memperlihatkan helikopter AS melayang di atas kapal tanker raksasa di tengah laut. Operasi itu menandai penyitaan kedua dalam beberapa pekan terakhir dan memperkuat tekanan Gedung Putih terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.

Trump, yang kembali menegaskan sikap keras terhadap Caracas, menyebut Maduro sebagai “pemimpin tidak sah” dan menuduhnya “merampas kekayaan energi rakyat Venezuela.”

“Mereka mengambil semua minyak kita belum lama ini, dan kita menginginkannya kembali,” ujarnya kepada wartawan di Washington.

Caracas bereaksi keras. Pemerintah Venezuela menyebut tindakan tersebut sebagai “pembajakan internasional yang serius.”

Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengatakan bahwa Venezuela akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB, menyebut langkah AS sebagai “pencurian dan penghilangan paksa awak kapal di perairan internasional.”

Perusahaan keamanan maritim Inggris Vanguard mengidentifikasi kapal yang disita sebagai Centuries berbendera Panama, yang mengangkut 1,8 juta barel minyak mentah Merey menuju China. Kapal itu diketahui menggunakan nama palsu “Crag” sebagai bagian dari “armada bayangan” untuk menyamarkan asal minyak dari negara yang dikenai sanksi.

Menurut firma hukum Hughes Hubbard di Washington, kapal Centuries tidak termasuk dalam daftar sanksi AS, menjadikan penyitaan ini preseden baru dan menimbulkan pertanyaan hukum internasional.

“Langkah ini menunjukkan peningkatan agresivitas Washington terhadap Caracas dan memperluas batas penegakan sanksi,” ujar pengacara Jeremy Paner kepada Reuters.

Analisis Geopolitik: Antara Hukum, Minyak, dan Ambisi Global

Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) hanya memperbolehkan intersepsi kapal di perairan internasional dalam kasus ekstrem seperti pembajakan atau perdagangan manusia. Menyita kapal yang tidak terkena sanksi resmi dapat dianggap pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

Langkah Trump tak lepas dari konteks ekonomi. Sejak nasionalisasi aset minyak AS oleh Hugo Chávez pada 2007, perusahaan-perusahaan seperti ConocoPhillips dan Exxon Mobil kehilangan miliaran dolar. Kini, dengan kebijakan blokade, Washington berupaya mengembalikan kontrol atas arus minyak Venezuela.

Dalam setahun terakhir, Washington meningkatkan operasi militer maritim di Laut Karibia dan Pasifik Timur. Lebih dari 20 serangan menargetkan kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba, menewaskan lebih dari 100 orang. Bagi para pengamat, pola ini menyerupai strategi “maximum pressure” yang diterapkan terhadap Iran.

Krisis ini juga mengguncang hubungan diplomatik antarnegara di Amerika Selatan. Dalam KTT Mercosur di Brasilia, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memperingatkan bahwa konflik di Venezuela dapat memicu “bencana kemanusiaan.”
Namun Presiden Argentina Javier Milei, sekutu dekat Trump, justru mendukung langkah Washington sebagai “tekanan yang diperlukan untuk membebaskan rakyat Venezuela.”

Penyitaan kapal Centuries bukan sekadar aksi penegakan sanksi. Ia mencerminkan politik tekanan keras berbasis kekuatan militer dan kepentingan energi global AS.
Namun, semakin jauh Washington melangkah, semakin besar risiko krisis hukum dan legitimasi moral di mata dunia.

“Blokade total” bisa jadi alat tekanan efektif terhadap Maduro, tetapi juga bisa menjadi boomerang diplomatik yang memperlemah posisi Amerika Serikat di panggung internasional. (ren)