Antara Kho Wan Gie, Sopoiku, dan Bolong Jilu: Sebuah Humor yang Menolak Hilang
Jejak humor Kho Wan Gie dari Put On hingga Bolong Jilu: komik, politik 1965, nama samaran Sopoiku, dan penerbitan ulang sebagai arsip budaya.

HALLONEWS.COM – Kalau kita berbicara soal sejarah komik di tanah air, tentu kita tak bisa melepaskan buah tangan dan imajinasi Kho Wan Gie, komikus yang karyanya menginspirasi humor visual Indonesia modern.
Popularitas komik Put On pada dekade 1950–1960-an menandai masa penting dalam sejarah komik sekaligus pers nasional.
Dengan tokoh sederhana bercelana komprang, wajah lugu, dan dialek Betawi-Tionghoa yang khas, Put On tak sekadar menghibur, tetapi juga memotret kehidupan orang kecil di Jakarta—dengan segala kepolosan, kesialan, dan kecerdikan khas kaum pinggiran kota.
Sebagaimana dicatat Claude Bonneff, banyak komik humor lahir sebagai epigon tokoh ini, namun tak satu pun mampu melampaui daya hidup Put On.
Humor Kho Wan Gie bekerja bukan lewat olok-olok yang kasar, melainkan lewat empati dan absurditas keseharian.
Namun sejarah politik kemudian ikut menentukan nasib tokoh ini. Peristiwa 1965 mengguncang dunia nasional sekaligus merenggut “nyawa” Put On dari tangan pembacanya.
Harian Warta Bhakti, rumah terakhir Put On, ditutup karena dianggap berbau kiri oleh rezim Orde Baru. Bersamaan dengan itu, Kho Wan Gie pun kehilangan ruang berkarya dan namanya perlahan tenggelam dari ingatan publik.
Riwayat Kho Wan Gie
Kho Wan Gie—lahir di Jakarta pada dekade 1930-an—adalah salah satu perintis komik humor Indonesia.
Sejak awal kariernya, ia menjadikan koran sebagai medium utama, menempatkan komik sebagai bagian dari wacana publik, bukan sekadar hiburan anak-anak. Namun pasca-1965, seperti banyak seniman lain, ia dipaksa menyingkir ke pinggiran sejarah.
Meski demikian, sebagai seniman sejati, spirit Kho Wan Gie tak pernah benar-benar mati. Pada awal 1970-an, ia kembali menggambar dan bercerita.
Ia menghidupkan kembali semangat Put On lewat tokoh Si Pengky, sekaligus melahirkan berbagai karakter dan serial baru seperti Nona A Go-Go, Jali Tokcer, Si Lemot, Dalip dan Dolop, hingga Agen Rahasia 013 (Bolong Jilu).
Yang menarik, dalam periode ini Kho Wan Gie mengganti nama penanya menjadi Sopoiku dan Soponyono. Hingga kini belum ada penelitian khusus mengenai alasan pemilihan nama tersebut. Namun patut diduga, perubahan ini tak lepas dari trauma politik dan pelarangan Put On di era Orde Baru.
Dalam bahasa Jawa, sopo iku atau soponyono berarti “siapa pun itu”, “entah siapa”, atau “siapa saja—tak penting siapa”.

Ungkapan ini kerap digunakan untuk meniadakan pentingnya identitas: “Soponyono sing ngomong, aku ora percaya”—siapa pun yang bicara, aku tak percaya. Ia bukan sekadar pertanyaan, melainkan penyangkalan terhadap urgensi jawaban.
Dalam konteks ini, nama Sopoiku atau Soponyono dapat dibaca sebagai identitas yang sengaja dikaburkan, namun tetap eksis. Sebuah strategi bertahan hidup sekaligus kritik sunyi kepada penguasa: bahwa sang seniman masih hadir, meski memilih bersembunyi di balik ketaktertentuan nama.
Di bawah nama inilah komik Bolong Jilu lahir. Istilah “bolong jilu” sendiri merujuk pada kepercayaan tradisional Jawa mengenai nikah jilu—larangan pernikahan antara anak pertama dan anak ketiga karena dipercaya membawa sial. Alih-alih menghakimi mitos ini, Kho Wan Gie justru mengolahnya menjadi humor.
Tokoh Bolong Jilu menjalani hidup penuh kesialan, jatuh bangun dalam situasi absurd yang memancing tawa. Humor menjadi cara untuk memahami mitos, sekaligus menjaga jarak kritis terhadap kepercayaan yang mengatur kehidupan sosial.
Tawa, bagi Kho Wan Gie, adalah sarana negosiasi antara tradisi, logika, dan realitas hidup orang kecil.
Kho Wan Gie wafat pada 4 Mei 1983, tanpa keluhan dan tanpa kegaduhan. Namun humor ciptaannya menolak hilang. Di balik tawa yang sederhana, kita menemukan ingatan, strategi bertahan hidup, dan satu pertanyaan yang terus menggema: sopo iku?
Diterbitkan Ulang
Kini perlahan namun pasti, panerbit Pustaka Klasik bekerja sama dengan Poestaka Kalyana sedang melakukan penerbitan ulang karya-karya Kho Wan Gie tersebut untuk menemani nostalgia para pembacanya.
Menurut Rully, pimpinan Poestaka Kalyana project penerbitan ulang karya Kho Wan Gie ini sudah dilakukan sejak akhir 2025 lalu dengan menerbitkan ulang 6 judul buku Nona Agogo.
“Kami sudah menerbitkan ulang 6 judul buku Nona Agogo pada tahun 2025 lalu dan antusiasnya cukup lumayan,” tutur Rully.
Dan pada awal tahun 2026 ini, pihaknya juga sudah menerbitkan beberapa judul buku “Bolong Jilu”.
Menurutnya, project penerbitan ulang ini bukan sekadar menghadirkan ulang karya seorang komikus penting, tetapi juga membuka ruang bagi humor sebagai arsip budaya.
“Karena dalam komik-komik ini tersimpan jejak akulturasi, kecemasan sosial, serta ketahanan seorang seniman yang terus berkarya dalam senyap” tuturnya.
Dia mengatakan bahwa ke depan akan banyak lagi karya-karya Kho Wan Gie yang akan diterbitkan ulang walaupun eksemplar yang diterbitkan masih sangat terbatas dan dicetak secara terbatas (print on demand). (wib)
