Home - Nasional - Angka Penyalahgunaan Narkoba Naik Tajam, BNN Siapkan Jurus Khusus

Angka Penyalahgunaan Narkoba Naik Tajam, BNN Siapkan Jurus Khusus

BNN perkuat strategi penanggulangan narkoba berbasis riset nasional. Prevalensi penyalahguna naik jadi 2,11 persen, program pencegahan dan pemulihan diperluas.

Kamis, 18 Desember 2025 - 22:26 WIB
Angka Penyalahgunaan Narkoba Naik Tajam, BNN Siapkan Jurus Khusus
Kepala BNN Suyudi Ario Seto membuka uji publik hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba periode 2023–2025 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (Dok BNN)

HALLONEWS.COM – Badan Narkotika Nasional (BNN) menegaskan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkoba bukan sekadar data statistik, melainkan fondasi strategis dalam merumuskan kebijakan nasional yang efektif dan tepat sasaran. Hal ini disampaikan Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, saat membuka uji publik hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba periode 2023–2025 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Kepala BNN Suyudi Ario Seto menekankan pentingnya evidence-based policy, yakni kebijakan yang disusun berdasarkan data valid dan kredibel, bukan asumsi semata.

Menurutnya, pengukuran prevalensi yang dilakukan secara berkala setiap dua tahun mampu memotret dinamika ancaman dan tren penyalahgunaan narkoba di Indonesia secara komprehensif.

“Selama 17 tahun terakhir, angka prevalensi menunjukkan fluktuasi yang mencerminkan bahwa ancaman narkoba terus berkembang dan berubah,” ujar Suyudi.

Berdasarkan hasil survei nasional periode 2023–2025, prevalensi penyalahguna narkoba tercatat 2,11 persen atau setara dengan 4,15 juta penduduk Indonesia. Angka ini meningkat dibandingkan survei sebelumnya pada 2023 yang berada di angka 1,73 persen.

IMG 20251218 WA0060
Acara diskusi uji publik hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba periode 2023–2025 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (Dok BNN)

Ketua Tim Peneliti Pengukuran Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba 2023–2025 sekaligus Peneliti Ahli Utama BRIN, Mashuri Imron, mengungkapkan bahwa angka tersebut masih tergolong under value.

Ia meyakini jumlah penyalahguna narkoba yang sebenarnya jauh lebih besar dari data yang tercatat.

Survei ini melibatkan responden usia produktif 15–64 tahun di 34 provinsi dan 134 kabupaten/kota. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan sosial menjadi faktor dominan yang mendorong meningkatnya penyalahgunaan narkoba.

Merespons temuan tersebut, BNN telah menyiapkan dan menjalankan sejumlah langkah strategis secara paralel.

Di antaranya Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN), program ANANDA Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkotika dan Ketahanan Bangsa Dimulai dari Anak), serta program pemulihan Kampung Harapan Bersih Narkoba (Bersinar).

IMG 20251218 WA0061
Para peserta diskusi uji publik hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba periode 2023–2025 berfoto bersama. (Dok BNN)

Berbagai program ini menegaskan bahwa upaya penanggulangan narkoba tak hanya berfokus pada penindakan hukum, tetapi juga menitikberatkan pada pencegahan, edukasi, dan pemulihan berkelanjutan.

Pendekatan komprehensif yang menyasar keluarga, lingkungan pendidikan, hingga komunitas berbasis wilayah diharapkan mampu membangun ketahanan sosial sejak dini.

Melalui strategi berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor, BNN optimistis dapat menekan laju peningkatan prevalensi penyalahgunaan narkoba sekaligus menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah tantangan bonus demografi. (gin)